Abuya Dimyathi

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Abuya Dimyathi
Abuya dimyathi.jpg
Lahir : 1925 M
Wafat : 2003 M

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya


Abuya Dimyathi bin Syaikh Muhammad Amin, beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian, wira’ (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, humanis, penuh kasih sesama umat manusia.

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.

Kegiatan kesehariannya hanya ngulang ngaji (mengajar ilmu), sholat serta menjalankan kesunatan lainnya. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya. Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja dan selalu menolak untuk dipublikasi.



Contents

Riwayat Hidup dan Keluarga

Maulid Nabi di Pesantren Beliau tahun 2000

Lahir

Beliau lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan KH. Muhammad Amin Al Bantani dan Hj. Ruqayah di tanah Banten, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat.


Wafat

Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi, pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M / 07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyathi bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

Pada hari wafatnya beliau itu juga sedang dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”.


Nasab

Buku Manqib Abuya Cidahu setebal 400 halaman selain mengisahkan kelahiran, masa kecil dan belajar Abuya Cidahu, di dalamnya termasuk tentang silsilah keluarganya yang masih keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ini.



Pendidikan

Perjalanan Pendidikan

Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupuesing Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Plered Purwakarta.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim Kadu Peusing, Abuya Muqri Abdul Chamid Karobohong Labuan, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi


Sanad Keilmuan

Berikut adalah daftar dari guru-guru beliau:

Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany.



Penerus Beliau

Murid

Beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Mustofa di Jakarta dan masih banyaklagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.


Keturunan

KH Abuya Muhammad Dimyathi, meninggalkan tiga istri yaitu Hj Dalilah, Hj Asmah dan Hj Afifah. Dari Hj Dalilah dikarunia dua putra, yang pertama:

  • H Qoiyimah dan
  • H Amustabah,

sedangkan dari istri Hj Asmah dikarunia enam anak, yakni:

  • HA Muhtadi,
  • HM Murtadlo,
  • H Abdul Azis,
  • HA Muntaqo,
  • Hj Musfiroh,
  • Muqotil,

sementara dari HJ Afifah tidak dikarunia anak.


Jasa dan Karya Beliau

Pergerakan Melawan Belanda

Putra beliau, HM Murtadlo, menjelaskan bah buku yang dibuat tentang ayahnya itu selain menceritakan hidup Abuya Cidahu semasa kecil, baik dalam hal menuntut ilmu agama ke sejumlah pesantren di seluruh Jawa, juga perjuangan syiar Islam dan juga perjuangannya melawan kolonialisme Belanda melalui Laskar Hisbullah di wilayah Banten dan Jawa Barat.


Membangun Pondok Pesantren

Merintis mendirikan pesantren di Desa Cidahu, sekitar tahun 1965. Kini ia meninggalkan santri sebanyak 800 santriwan, 200 santriwati. Pesantren yang diasuh sejak lama itu menjadi barometer pesantren di Banten khususnya. Karena cukup dikenalnya nama Abuya Dimyathi, menurut Bupati Pandeglang, H Dimyathi Natakusuma, tidak lepas membawa keharuman nama bagi daerah Pandeglang. Juga membawa peningkatan ekonomi di daerah sekitar Cadasari, karena setiap harinya banyak pengunjung yang datang. Pengunjung bukan saja sekitar Banten namun juga dari seantero tanah air, juga manca negara. Untuk itu Bupati Pandeglang memprediksi, tidak mustahil makam Abuya manjadi pusat ziarah bagi umat Islam. Karena itu Pemkab Pandeglang akan mendukung bila makam Abuya nantiunya terbuka untuk penziarah, tetapi Pemkab akan konsultasi dahulu dengan pihak keluarga, dan membantu sesuai keinginan keluarga.


Kisah Teladan Beliau

Shalat Tarawih Khatam Qur’an

Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.


Ngaji sebagai Thariqah

Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyathi dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran.

Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.


Manaqib Beliau

Sosok Abuya Cidahu, sangat melekat dibenak masyarakat Banten khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sosok ulama dan pejuang kemerdekaan di Banten ini kini bisa dinikmati melalui sebuah buku biografi berjudul Buku Manaqib Abuya Cidahu, Dalam Pesona Langkah di Dua Alam.

Buku Manaqib Abuya Cidahu ini diluncurkan oleh putra kedua ulama kharismatik itu, KH M Murtadlo Dimyathi di Pondok Pesanteren Cidahu, Kelurahan Cidahu, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, pekan lalu. Dalam acara peluncuran tersebut hadir sejumlah pejabat Provinsi Banten dan Padeglang, serta Jakarta.

Kak Mur, sapaan akrab KH Murtadlo Dimyathi ini mengatakan, Buku Manaqib Abuya Cidahu ini merupakan perjalanan hidup ayahnya yang merupakan tokoh ulama dan juga mantan pejuang di masa kemerdekaan. Oleh sebab itu kenapa dirinya memberi judul tulisannya itu dengan kata-kata 'Dalam Pesona Langkah di Dua Alam'.

"Singkat kata manaqib adalah perjalanan hidup yang baik dan terpuji, baik menurut adat, bangsa dan negara. Pesona Langkah di Dua Alam, karena Abuya selain seorang ulama juga seorang pejuang," katanya yang ditemui detikcom di kediamannya di Pandeglang, Sabtu (15/11/2008).

Kak Mur menjelaskan, buku yang dibuat tentang ayahnya itu menceritakan hidup Abuya Cidahu semasa kecil, baik dalam hal menuntut ilmu agama ke sejumlah pesantren di seluruh Jawa, perjuangan syiar Islam dan juga perjuangannya melawan kolonialisme Belanda melalui Laskar Hisbullah di wilayah Banten dan Jawa Barat.

Diharapkan Kak Mur, Buku Manaqib Abuya Cidahu bisa dibaca siapa saja, tidak hanya kalangan santri agar bisa diambil pelajarannya. Namun begitu, Kak Mur mengingatkan, agar para pembacanya harus hati-hati dan bisa memahami yang dalam agama.

Pasalnya, kisah perjuangan ulama dan pejuang Banten ini penuh nilai-nilai dan norma agama bernaunsa tasawuf. "Oleh sebab itu, kita nggak banyak-banyak menerbitkannya. Tapi bagi yang mau baca silakan saja, jangan dipraktikan kalau belum memahami agama Islam secara utuh," jelasnya.

Buku Manaqib Abuya Cidahu setebal 400 halaman dengan kertas HVS dibagi dalam 14 Bab. Dimulai bab pertama yang mengisahkan kelahiran, masa kecil dan belajar Abuya Cidahu, termasuk tentang silsilah keluarganya yang masih keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ini.

Selebihnya mengisahkan hikmah-hikmah hidupnya selama menyebarkan ajaran Islam di Banten. Ketenaran Abuya Cidahu sendiri cukup dikenal para kiai sepuh di Jawa, terutama dari kalangan Nahdliyin (NU) dan juga para pejabat pemerintah pusat. Pada bab terakhir dikisahkan tentang wafatnya kiai yang dikenal sebagai Wali Qutb ini, pada awal bulan Oktober 2003 silam.


Tidak suka publikasi

Menurut tokoh masyarakat Serang, dan juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, H Embay Mulya Sarif, Abuya Dimyathi cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syariah, tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertasauf, tarekat yang dianutnya Tarekat Nagsabandiyah-Qodiriah. Maka wajar bila kelihatan setiap harinya dalam kehidupannya penuh tawadhu, istiqomah, zuhud dan tidak riya.

Banyak pihak termasuk wartawan ingin mempublikasikan kegiatan pesantrennya, tetapi semuanya ditolak dengan halus, karena beliau tidak ingin publikasi apapun. Menurut H Embay Mulya Sarif, Abuya mempunyai banyak kelebihan, maka tidak heran bila beliau sering dimintai petunjuk dan fatwa.


Zuhud

Buya Dimyathi sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Buya Dimyathi begitupun ketika beliau di beri sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut, hal ini pernah dialami ketika Buya Dimyathi di beri sumbangan Oleh Mba Tutut ( Anak Mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.

Buya Dimyathi merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyaklagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.

Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, Syaikh Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).

Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.


Kisah Belajar Beliau

Kata Abuya Dimyathi ketika mengajar di majelis pengajiannya dulu: Saya dulu pesantren di beberapa pesantren di pulau Jawa selama 40 tahun, tapi saya belum pernah mengaji kepada guru-guru saya. Hanya saja saya pernah sekali mengaji hanya sekali pertemuan saja ketika pembacaan kitab Shohih Muslim di pondok pesantren Muntilan - Magelang. Itu pun saya tidak punya kitabnya dan saya hanya mendengarkan saja ketika guru saya sedang membacakan kitab Shohih Muslim itu di hadapan santri-santri. Saya lakukan itu, karena saya hanya ingin mengambil sanadnya saja. Padahal Abuya Dimyathi berangkat dari rumahnya menuju pesantren ingin mengaji kitab-kitab besar. Tapi ketika berada di pesantren, justru Abuya Dimyathi di suruh mengajar kitab-kitab besar itu. Memang guru-guru Abuya Dimyathi itu sangat awas sekali terhadap beliau, sehingga guru-gurunya sangat sayang dan segan sekali pada beliau, bahkan kalau guru-gurunya mempunyai masalah-masalah agama yang sulit, beliau lah yang memecahkannya atas permintaan guru-gurunya sendiri. Di setiap pesantren Abuya Dimyathi itu pekerjaannya hanya beribadah saja, seperti melakukan shalat, puasa dsb dan tidak pernah tidur di waktu malam hari. Makanya beliau tidak pernah mengaji dan guru-gurunya pun sangat memakluminya dengan tingkah-laku muridnya yang zuhud dan rajin beribadah itu.


Cerita Beliau tentang Syekh Nawawi Al Bantani

Kata Abuya Dimyathi (Mbah Dim) Cidahu, Banten di dalam majelis pengajiannya: Banyak orang yang pandai mengarang kitab di zaman sekarang, tapi kurang berkah, tidak seperti halnya kitab-kitab karangan Syeikh Nawawi Al-Bantani yang penuh dengan keberkahan dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dan saya tidak kuat menandingi puasanya beliau. Karena, buka puasa dan makan sahurnya cukup dengan sesuap nasi dan seteguk air. Sedangkan kalau kita, makannya sepiring bahkan lebih. Begitupula, minumnya tidak cukup dengan segelas air.

Alhamdulillah almarhum tercinta guru saya, Abuya Dimyathi, Cidahu - Pandeglang - Banten, ketika masih hidup beliau melaksanakan shalat tarawih khatam (tamat) satu Qur'an. Begitupula pada malam-malam berikutnya. Banyak orang yang tidak kuat mengikuti shalat beliau. Bukan hanya itu saja, beliau tidak tidur pada malam hari (سهر), puasa sepanjang tahun (صوم الدهر) terkecuali Hari Raya Idhul Fitri, Hari Raya Idhul Adha dan 3 hari pada hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzul-Hijjah), dan shalat tahajjud, beliau lakukan dimulai sejak umur sebelum baligh (kira-kira umur 10 tahun) sampaii menjelang wafatnya. Itulah kisah nyata yang beliau sampaikan ketika mengajar (ta'lim) di majelis pengajian di pondok pesantren beliau


Karomah Beliau

Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)

Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).

Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir lagi adalah, di mana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga karena banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, "darimana kamu (Bahasa Arab)". Si Kyai menjawab, “dari Indonesia”, maka penjaganya langsung bilang, “oh di sini ada setiap malam Juma'at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, sehinggalah beliau mulai membaca al-Qur'an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka sendiri-sendiri”. Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam Jum’at agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyathi. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyathi di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya.

Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia.


Sumber:
Sinopsis Buku Manakib Abuya Cidahu (Dalam Pesona langkah di Dua Alam) yang juga ditulis di http://serang-banten.blogspot.com, http://almanshuriyyah.blogspot.com, http://manakibabuya.blogspot.com, http://www.pelita.or.id, http://irwasalbantani.blogspot.com/, dan juga sebagaimana juga diceritakan oleh Thobary Syadzily.

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox