KH Muhammad Hasyim Zaini

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

KH. Hasyim Zaini, merupakan putera pertama dari Almarhum KH. Zaini Mun’im. Beliau mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, langsung dari ayahandanya tercinta. Sebagai putera, beliau sangat patuh dan tawadu’ terhadap kedua orang tuanya. Sementara sebagai santri/murid, selain memiliki kecerdasan dan tingkat intelegensia yang tinggi, beliau juga sangat tekun me-muthala’ah tiap materi pelajaran dan cukup telaten (kreatif). Ketelatenan ini terlihat dari catatan pinggir di seluruh kitab-kitab beliau tentang keterangan atau petuah guru-gurunya (termasuk dari ayahandanya).

Mengenai ketelatenan ini, beliau pernah berkata, “man kutiba karra wa man sumi’a farro” (barang yang ditulis akan kekal, tapi jika hanya didengar akan hilang). Menginjak usia dewasa, beliau kemudian melanjutkan proses pendidikannya ke Pondok Pesantren Peterongan Jombang, yang kala itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Sebelum berangkat mondok, ayahandanya berpesan kepada beliau bahwa dalam proses belajar janganlah mengandalkan orangtua, tapi andalkanlah Allah. Pesan ini kemudian selalu beliau ingat dan yakini. Lebih-lebih ketika beliau mengalami kejadian yang mencerminkan petuah dari ayahandanya tersebut.

Ceritanya, ketika berangkat menuju Pesantren Peterongan, beliau mengalami musibah; bekal berupa beras dari kedua orangtuanya tertinggal di Surabaya. Dari kejadian ini, beliau kemudian tambah yakin bahwa petuah dari ayahandanya tersebut benar; harus mengandalkan Allah SWT. Dari kesadaran dan keyakinan tersebut, beliau kemudian mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan dari Allah. Di antaranya, beliau acapkali dikunjungi tamu yang selain untuk silaturrahmi juga memberikan uang. Meski demikian, uang dari tamu-tamu itu tidak beliau miliki sendiri. Beliau menaruh uang tersebut dalam wadah bekas songkok dan meletakkannya di pojok kamar dalam biliknya. Kemudian kepada sahabat-sahabatnya, beliau berkata, “jika di antara sahabat-sahabat ada yang membutuhkan uang, bisa mengambilnya di dalam wadah songkok itu.” Selain itu, beliau juga medapatkan kemudahan Allah berupa hadirnya sebuah amplop berisikan beberapa lembar rupiah dari balik sajadah di setiap habis menunaikan salat.

Dalam amplop tersebut tertulis nama beliau sebagai orang yang dituju, sementara nama pengirimnya tidak tertulis. Setelah dari Peterongan, Kiai Hasyim kemudian kembali ke Paiton. Di sini, selain membantu ayahandanya mengurus pesantren dan mendidik santri, beliau meneruskan jenjang pendidikannya di Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) yang ketika itu, posisi rektor langsung dipegang oleh ayahandanya, KH. Zaini Mun’im. Di jenjang pendidikan ini, beliau berhasil meraih gelar BA (Bachelor of Art).


Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid (1976-1984)

Setelah wafatnya ayahanda tercinta, KH. Zaini Mun’im, beliau kemudian melanjutkan perjuangan dan pengabdian ayahandanya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sebagai pengasuh kedua, selain tetap melanjutkan gagasan-gagasan ayahandanya, beliau juga memberi warna terhadap konsep pembinaan dan penataan lembaga pendidikan di Pesantren Nurul Jadid. Ketika menjadi Pimpinan Pesantren Nurul Jadid, selain dibantu oleh adik-adiknya, beliau juga dibantu oleh KH. Hasan Abd. Wafi yang pada tahun 1976 dipercaya menjadi Dewan Pengawas Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pada masa Kiai Hasyim, di sektor pendidikan, santri terus diupayakan untuk tafaqquh fi addin. Dalam bidang keilmuan, santri terus ditempa untuk menguasai khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning, utamanya mereka yang duduk dijenjang MI, MTs dan MA. Sedangkan bagi mereka yang duduk di bangku SLTP dan SMU diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan khususnya MAFIKIB (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi). Tapi bukan berarti mereka tidak menguasai bidang keagamaan, karena bidang ini digalakkan di asrama santri. Jadi, pola pendidikan dan pembinaan pada masa Kiai Hasyim ini dilakukan secara integral. Sehingga terjadi sebuah proses yang saling mendukung antara program di sekolah dan pesantren.

Selanjutnya, karena adanya perubahan dari Sisdiknas, maka pada tahun 1977, Pendidikan Guru Agama Nurul Jadid (PGANJ) 6 tahun berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTsNJ) untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan kelas IV, V dan VI menjadi Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Pada jenjang pendidikan tinggi juga mulai terlihat adanya peningkatan. Pada tahun 1979/1980 dirintis berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. Hal lainnya adalah, membekali santri dengan life skill melalui pendelegasian mengikuti pelatihan, baik tingkat wilayah maupun tingkat nasional. Selanjutnya, mulai dirintis pula adanya ketrampilan santri, di antaranya adalah elektro, percetakan, jahit-menjahit, pertanian dan skill kebahasaan (arab-inggris). Selain itu, para santri dan alumni dianjurkan untuk mengisi birokrasi. Jumlah santri pada masa KH Hasyim Zaini meningkat drastis. Pada tahun 1983, jumlah santrinya mencapai sekitar 2000 santri.


Kepribadian KH. Hasyim Zaini

KH. Hasyim Zaini merupakan sosok ulama yang sangat menyanjung akhlakul karimah. Kepada para santrinya, beliau selalu berpesan agar selalu menjaga etika. Sebab, Rasulullah mendapatkan gelar al-Amin karena akhlakul karimah, sehingga disenangi dan disegani kawan maupun lawan. Kiai Hasyim juga merupakan sosok ulama yang lemah-lembut. Beliau tidak pernah marah kepada siapa pun. Atau meski pun marah, tidak kelihatan. Ini seperti yang dialami oleh salah satu santrinya, Hasyim Syamhudi. Ceritanya, ketika itu di bulan Ramadhan, kegiatan libur dan santri banyak yang pulang. Syamhudi yang kala itu menjadi pengurus pesantren, bersama beberapa sahabatnya pergi ke kota Kraksaan untuk menonton bioskop yang memutar cerita perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman. Seusai nonton bioskop, Syamhudi dipanggil Kiai Hasyim. Mendapat panggilan tersebut, Syamhudi terkejut. Karena dia yakin bahwa Kiai Hasyim tidak mengetahui kepergiannya menonton bioskop. Tapi akhirnya dia harus meghadap kepada Kiai Hasyim. Di kediamannya, Kiai Hasyim bertanya; “Lebur (bagus) film yang ananda tonton?” “Iya,” jawab Syamhudi sambil menunduk rapat-rapat. “Bagaimana baiknya?” “Cerita tentang perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman” “Begini, apa pun yang benar tapi jika menimbulkan fitnah, itu juga termasuk dosa. Misalkan, ada seorang ustadz membeli kacang. Kacang tersebut halal. Cara membelinya juga dengan jalan yang halal, dari uang hasil jerih-payahnya sendiri.

Tapi kemudian, ustadz tersebut memakan kacang itu sambil berjalan. Tidak duduk. Nah, begitu juga dengan menonton bioskop. Film itu tidak haram. Gedung bioskop juga tidak haram. Tapi yang perlu dipertimbangkan adalah opini masyarakat, bahwa film dan bioskop itu nuansanya jelek. Sementara anda adalah pimpinan, baik di sini, di Tanjung dan di Kraksaan,” ujar Kiai Hasyim. Mendengar teguran tersebut, Syamhudi kemudian mohon maaf dan siap menerima hukuman dari Kiai Hasyim. Akhirnya, Kiai Hasyim menyuruh Syamhudi untuk berdiri di depan kediaman beliau sambil membaca istighfar sebanyak 1000 kali.

Sementara itu, contoh teladan tindakan yang beliau berikan di antaranya adalah, suatu waktu di pesantren ada kegiatan membakar bata mentah untuk dijadikan bahan material sebuah bangunan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 WIB. Tapi santri-santri belum juga tergerak untuk segera mengangkut bata mentah dan membakarnya. Tiba-tiba kemudian, Kiai Hasyim datang ke tempat terletaknya bata-bata mentah dan mengangkutnya sendiri. Melihat Kiai Hasyim mengangkut bata, spontanitas para santri yang semula santai, kemudian berlarian menuju bata mentah dan ramai-ramai mengangkut serta membakarnya.

Lebih jauh, Kiai Hasyim merupakan sosok pengasuh yang senantiasa akrab dengan santrinya. Misalkan, tiba-tiba si santri dipegang tangannya dan diajak ngobrol sambil jalan-jalan. Beliau juga kadang kala bercanda kepada santrinya. Sebagai pendidik, Kiai Hasyim juga sangat sabar dan telaten. Misalkan ketika mengajar ilmu falaq di MANJ, selain memberikan teori, beliau juga mengajak para murid untuk praktek langsung tentang bagaimana cara mengetahui waktu. Ini juga beliau terapkan ketika mengajar kitab kuning (klasik) kepada santri-santrinya di Masjid. Sementara itu, sebagai seorang ulama beliau sangat menghromati tamu dan tawadu’. Tiap tamu yang datang, selalu beliau temani, baik ketika membicarakan sesuatu hingga mengajak tamu tersebut makan bersama.

Etika mulia beliau juga tampak dari perilaku beliau. Jika ada seorang tamu yang menunduk di hadapan beliau, maka beliau lebih menundukkan kepalanya dari sang tamu. Sementara jika tamu itu mengundurkan diri, beliau selalu mengantarkanya sampai si tamu hilang dari pandangan mata, baru kemudian beliau masuk ke kediamannya. Lebih jauh, meski beliau dalam sebuah perjalanan tapi ketika di tengah jalan beliau bertemu dengan seseorang yang beliau kenal, beliau selalu berhenti, turun dari kendaraan dan menghampiri orang tersebut untuk berjabat tangan dan menanyakan kabarnya.

Atas kepribadian Kiai Hasyim ini, tidak mengherankan jika masyarakat sekitar pesantren sangat mengagumi Kiai Hasyim sebagai ulama yang berbudi luhur. Pengakuan tentang kemuliaan akhlak dan kelembutan kepribadian Kiai Hasyim juga datang dari Kiai Mahrus, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. “Kiai Hasyim itu alim dan akhlaknya mulia. Siapa pun tamunya, beliau selalu menghormatinya,” ujarnya. Selain Kiai Mahrus, Al-Habib Al-Imam bin Abdullah bin Abdul Qodir bi Al-Faqih Al-Alawiy, juga mengatakan bahwa, “KH. Moh. Hasyim Zaini orang yang punya adat tata krama yang mulia.” Pengakuan yang sama juga datang dari beberpa alim-ulama. Ini seperti diceritakan Kiai Zainullah Adhim, santri dari ayahandanya. “Berangkat haji, pulang-pergi Kiai Hasyim bersama KH. Musthofa Lekok Pasuruan. Beliau selalu menjadi imam salat. Karena menurut Kiai Mustofa, Kiai Hasyim lebih berhak menjadi imam salat berjama’ah daripada beliau sendiri. Sesampainya di Jeddah, Kiai Hasyim langsung dipapah dan digendong oleh As-Sayyid Amin Al-Kuthbiy sambil berkata, inilah As-Syaikh Muhammad Hasyim bin Zaini dari Jawa Indonesia.

Mendengar sanjungan tersebut, Kiai Hasyim menjawab, Alhamdulillah, aku sudah kenal dengan semua macam-macamnya wali Allah,” kenang Kiai Zainullah. Selain itu, KH. Hasan Saiful Rijal juga mengakui akhlak dan budi pekerti beliau yang hilm ketika ikut menjadi pengiring beliau di maqbarah bahwa, “Kiai Hasyim adalah ulama sangat mulia akhlaknya.” Demikianlah kepribadian Kiai Hasyim, beliau merupakan sosok ulama yang berakhlakul karimah, lemah-lembut dan sangat pemaaf. Bagi beliau, prinsip hidup yang paling baik adalah rela dengan segala apa yang telah dibagikan/dianugerahkan oleh Allah. Lebih jauh, Kiai Hasyim juga berpesan: meski anak dan santri-santri itu memiliki kenakalan yang bagaimana pun, supaya dosa-dosa dan kesalahan mereka dima’afkan.

Agar mereka tetap mempunyai kesempatan untuk menjadi muslim yang saleh dan muslimah yang salehah. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa, saudara sejati adalah yang senang atau menderita dirasakan bersama-sama. Akan sifat beliau yang lemah lembut tersebut, Kiai Hasyim pernah memberikan alasan kepada beberapa santrinya bahwa, orang yang temperamental itu akan berhasil tapi sedikit kawannya. Tapi jika orang yang berakhlakul karimah dan lemah lembut (hilm), itu berhasil dan kawannya banyak.


Karomah KH. Hasyim Zaini

Di antara karomah Kiai Hasyim adalah seperti yang dituturkan oleh salah satu santrinya, Ratib. Ceritanya, suatu waktu Ratib diajak ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa waktu di Sunan Ampel, Kiai Hasyim kemudian menyuruh Ratib untuk pulang dahuluan. Sebelum pulang, Kiai Hasyim memberikan uang untuk bekal di perjalanan. Setelah mohon diri, kemudian Ratib langsung pulang. Sesampainya di halaman Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ratib tiba-tiba terkejut. Karena dia mendengar suara Kiai Hasyim tengah mengajar santri-santrinya di Musala Riyadus Solihin. Karena penasaran, dia bergegas menuju Musala tersebut, ternyata benar, Kiai Hasyim tengah mengajar.

Esok harinya, karena masih penasaran, Ratib berkunjung ke kediaman beliau. Masih belum mengucapkan salam, Kiai Hasyim sudah membukakan pintu dan memanggilnya; “Dik, sini-sini. Ada apa? Tanya yang kemarin ya? “Iya,” jawab Ratib gugup. “Saya diantarkan Mbah Saleh (ulama yang makamnya terletak di samping kiri Sunan Ampel),” jawab Kiai Hasyim. Masih menurut Ratib, Kiai Hasyim juga terkenal dengan ulama yang weruh sak durungi pinaruh (ladunni). Kala itu, Ratib sempat berkunjung ke kediaman beliau sehari sebelum kewafatannya. “Aneh... kok mendung terus?” kata Kiai Hasyim. “Habib Husein Berani, selatan Genggong, sakit Kiai,” terka Ratib. “Tapi saya kok didatangi Rasulullah.” Sesaat kemudian, kala waktu menunjukkan ‘isya, Ratib dan santri-santri lainnya mendengar bahwa Kiai Hasyim telah meninggal dunia. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun,” seru para santri sambil mengucurkan air mata.


Karya Kiai Hasyim

Semasa menjadi pendidik sekaligus kepala sekolah di MAN Paiton, Kiai Hasyim Zaini pernah membuat konsep ekonomi menurut Al-Qur’an. Konsep ekonomi tersebut beliau ambil dari surah Al-Quraisy. Menurut Kiai Hasyim, orang Quraisy itu memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi. Sehingga menurut beliau, perekonomian itu harus dipegang oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan. Konsep ini kemudian beliau sebarkan kepada kepala-kepala sekolah se-Jawa Timur. Selain soal konsep ekonomi tersebut, Kiai Hasyim juga memiliki karya tulis tentang ilmu mantiq ketika beliau menjadi salah satu pendidik (dosen) di ADIPNU. Karya tulis ini beliau tulis untuk dijadikan diktaat bagi mahasiswa-mahasiswanya. Allahu a’lam.

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox