KH Muhammad Salman Dahlawi

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
KH Muhammad Salman Dahlawi

Sementara itu di Jawa Tengah tokoh mursyid thariqah terbilang cukup banyak. Dari kalangan Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, misalnya, terdapat salah seorang tokoh besar yang sangat bersahaja. Dialah K.H. Muhammad Salman Dahlawi, pengasuh pesantren Al-Manshuriyah Popongan, Klaten. Ratusan ribu murid Mbah Salman saat ini tersebar di seantero Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur bahkan Sumatera.

Mbah Salman, demikian sang kiai akrab disapa, adalah anak laki-laki tertua dari K.H.M. Mukri bin K.H. Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari K.H.M. Manshur, pendiri pesantren yang sekarang ini diasuhnya. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman memang dipersiapkan oleh sang kakek, K.H.M. Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai awliya, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Contents

mursyid

Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuada lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya,–mau tidak mau- Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, K.H.M. Mukri.

Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,

Pesantren Sepuh

Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian : pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya. Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan pada bulan-bulan tertentu.

kader Pribadinya

Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.

Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai, yang bulan Ramadlan 1425 H lalu genap berusia 70 tahun menurut perhitungan hijriyah ini. Ketika berbicara dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.


Kiai yang Mampu Meredakan Hujan

Begitu pembacaan Surah Al-Fil genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang.

Ketika gerakan reformasi mulai bergulir, ditandai dengan lengser-nya Presiden Soeharto, pergolakan dan kerusuhan merebak di mana-mana. Dan, ketika situasi semakin memanas, Nahdlatul Ulama merasa perlu mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menggelar istigasah, berdoa bersama memohon pertolongan Allah SWT.

Saat Habib Syekh bersama KH. Salman Dahlawi

Warga Nahdliyin

Ketika itu warga nahdliyin di Klaten, Jawa Tengan, tak mau ketinggalan, menggelar istigasah di Masjid Roudlotush Sholihin. Malam itu ribuan kaum muslimin berkumpul di masjid terbesar di Klaten itu, yang terletak di tengah perkampungan industri cor logam Batur.

Ketika istigasah akan dimulai, tiba-tiba turun hujan lebat, sehingga para jemaah kalang kabut. Saat itulah tampil seorang kiai. Melalui pengeras suara ia mengajak seluruh jemaah membaca surah Al-Fil sebelas kali. Setiap kali sampai pada kata tarmihim, dibaca pula sebelas kali. Meski gelisah karena mulai kebasahan, dengan serempak para jemaah membaca surah Al-Fil bersama-sama.

Ajaib

Ajaib! Begitu pembacaan surah itu genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang. Para jemaah berdecak kagum dan terheran-heran. Sebagian berbisik, ”Iki merga karamahe Kiai.” (Ini lantaran karamah Kiai).

Para jemaah yakin, meski semua kejadian tersebut tak lepas dari kehendak dan izin Allah, kemujaraban doa tidak hanya karena bacaannya, tapi juga yang lebih penting siapa yang membaca. Kiai yang memimpin bacaan Surah Al-Fil itu tiada lain K.H. Muhammad Salman Dahlawi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, Popongan, pesantren tertua di Klaten.

KH Muhammad Salman Dahlawi Tutup Usia

Pengasuh Pondok Pesantren Al Manshur, Popongan, Tegalgondo, Klaten KH Muhammad Salman Dahlawi, Selasa (27/8/2013) pukul 17.45 WIB, wafat dalam usia 78 tahun setelah dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) sejak medio Agustus lalu. Kematian Mbah Salman—demikian ulama ini akrab disapa—tak pelak membuat jemaah Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddadiyah berduka.

Ratusan orang tampak berkumpul di kompleks Ponpes Al Manshur, Popongan, Tegalgondo, Klaten, kala Solopos.com bertandang ke tempat itu Selasa malam. Mereka menunggu kedatangan jenazah. Tampak di antara mereka puluhan aktivis Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan sejumlah aparat kepolisian yang berjaga di sejumlah titik di lokasi itu. Mereka langsung melantunkan ayat suci Alquran secara bersama-sama kala jenazah sampai di rumah duka.

Salah seorang menantu Mbah Salman, Mohammad Dian Naf’i mengatakan Mbah Salman sebelumnya mengalami gangguan pencernaan pada 17 Agustus lalu, sehingga sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Delanggu. Pada 18 Agustus, mendiang pengasuh Ponpes Popongan itu dipindahkan ke RSI Yarsis Solo untuk dirawat intensif. “Pada Selasa siang sekitar pukul 12.00 WIB, kondisi almarhum semakin menurun,” jelas Naf’i.

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox