Kabupaten Aceh Tamiang

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kabupaten ini berada di jalur timur Sumatera yang strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada daerah Aceh lainnya. Disamping itu, kawasan ini relatif lebih aman semasa GAM berjaya dahulu. Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini khususnya Kota Kuala Simpang yang aktivitas ekonominya tetap berjalan.

Secara geografis, Kabupaten Aceh Tamiang terletak di bagian timur Provinsi Aceh pada posisi 97°43'41,51" - 98°14'45,41" Bujur Timur dan 3°53'18,81" - 4°32'56,76" Lintang Utara. Wilayah administratif Kabupaten Aceh Tamiang berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Sumatera Utara pada sebelah timur, disebelah utara dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa, disebelah selatan dengan Kabupaten Gayo Lues, dan disebelah barat dengan Kabupaten Aceh Tenggara. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara ini membuat Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu pintu masuk transportasi darat dari Pulau Sumatera sehingga jalur transportasi di Kabupaten Aceh Tamiang cukup ramai. Luas wilayah sebesar 1.957,02 km² atau sekitar 0,00 persen dari total luas Provinsi Aceh.

Berdasarkan kelas ketinggian tanah, sekitar 36,02 persen dari luas Kabupaten Aceh Tamiang berada pada ketinggian 25-100 meter diatas permukaan laut yaitu sekitar 69.864 hektar dan paling sedikit berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter hanya sekitar 3,84 persen dari luas keseluruhan Kabupaten Aceh Tamiang yaitu sekitar 7.440 hektar.

Sedangkan dilihat dari kemiringannya, sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Tamiang merupakan wilayah yang datar dengan kemiringan 0-2 persen yaitu sekitar 104.246 Hektar (53,74 persen) yang terdapat pada bagian pesisir timur dan tengah wilayah Aceh Tamiang. Sementara wilayah pegunungan dengan kemiringan > 40 persen merupakan wilayah yang terkecil yaitu sekitar 7.464 Hektar (3,85 persen).

Berdasarkan tekstur tanah, wlayah Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar bertekstur halus yaitu sekitar 131.233,67 Hektar (98,99 persen). Sisanya 2.011 Hektar (1,04 persen) bertekstur sedang dan 737,14 Hektar (0,37 persen) bertekstur kasar yang terdapat dibagian pesisir pantai timur.

Jenis Tanah yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari Aluvial 4,64 persen, Hidromorfi Kelabu 42,23 persen, Organosol dan Gley Humus 36,61 persen, Podsolik Merah Kuning 1,69 persen serta Komplek Podsolik Coklat, Latosol dan Litosol 14,83 persen. Pada bagian pesisir timur wilayah ini di dominasi oleh jenis tanah Aluvial dan Hidromorf Kelabu, sedangkan pada bagian selatan atau pegunungan di dominasi oleh jenis tanah Komplek Podsolik Coklat, Latosol dan Litosol.

Dilihat dari iklimnya, Kabupaten Aceh Tamiang termasuk daerah yang memiliki cuaca sub tropis. Matahari bersinar hampir sepanjang musim dengan rata-rata intensitas penyinaran tertinggi pada bulan Juni dan terendah pada bulan Februari. Suhu udara rata-rata di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2011 berkisar antara 26 °C sampai dengan 38 °C dengan kelembaban udara antara 67 hingga 84 persen.

Curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Desember 2011 yaitu mencapai 1 759,8 mm. Jumlah hari hujan mencapai 119 hari, sementara jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada Bulan November 2011 yaitu dengan jumlah hari hujan hingga mencapai 133 hari pada bulan tersebut. Hari hujan tampak kurang merata pada setiap bulannya.


Demografi

Pada tahun 2011 jumlah penduduk Aceh Tamiang mengalami pertumbuhan hingga menjadi 257.681 jiwa, sehingga laju pertumbuhannya sebesar 2,29 persen. Salah satu penyebab pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah dikarenakan tingginya angka kelahiran bayi hingga mencapai angka 5.747 kelahiran selama tahun 2011. Angka ini meningkat sekitar 1.570 kelahiran bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanay 4.177 kelahiran.

Bila dilihat dari rasio jenis kelamin di Kabupaten Aceh Tamiang, terlihat bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Aceh Tamiang hampir seimbang dengan jumlah penduduk perempuan. Pada tahun 2011 rasio jenis kelamin di Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 102, hal ini memberikan informasi bahwa penduduk laki-laki hanya lebih banyak 2 jiwa bila dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan perseratus jiwa penduduk.

Jika dilihat menurut kecamatan, penduduk terbesar berada di Kecamatan Karang Baru sebesar 37.178 jiwa, dan yang terendah berada pada kecamatan Sekerak sebesar 6.243 jiwa. Secara umum jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Aceh Tamiang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Hal ini ditunjukkan dengan angka rasio jenis kelamin sebesar 102, yang berarti setiap 100 jiwa penduduk perempuan berbanding dengan 102 jiwa penduduk laki-laki.

Struktur penduduk Kabupaten Aceh Tamiang didominasi oleh penduduk muda. Hal menarik yang dapat diamati pada piramida penduduk adalah adanya perkembangan penduduk yang ditandai dengan penduduk usia 0-4 tahun yang jumlahnya lebih besar dari kelompok penduduk usia yang lebih tua dan berbentuk limas.

Pada tahun 2010-2011 kepadatan penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang mengalami peningkatan, Kecamatan yang mengalami kepadatan penduduk terbesar adalah kecamatan Kota Kuala Simpang dengan 4.044 jiwa per km2, sedangkan kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk terendah pada kecamatan Sekerak dimana setiap 1 km2 wilayahnya hanya dihuni oleh 24 jiwa. Hal ini menandakan belum meratanya penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang.

Ratio beban tanggungan (dependency ratio) di Kabupaten Aceh Tamiang menunjukkan adanya penurunan yaitu dari 58 orang pada tahun 2010 yang berarti tiap 1 orang penduduk usia produktif akan menanggung 59 orang penduduk non produktif menjadi sekitar 87 orang di tahun 2011. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya beban yang ditanggung oleh penduduk produktif (usia 15- 64 tahun) terhadap penduduk tidak produktif yaitu usia 0-14 tahun dan usia 65 keatas.


Sejarah

Tamiang pada awalnya merupakan satu kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaan dibawah pimpinan seorang Raja Muda Setia yang memerintah selama tahun 1330 - 1366 M. Pada masa kerajaan tersebut wilayah Tamiang dibatasi oleh daerah-daerah :

• Sungai Raya / Selat Malaka di bagian Utara

• Besitang di bagian Selatan

• Selat Malaka di bagianTimur

• Gunung Segama ( gunung Bendahara / Wilhelmina Gebergte ) di bagian Barat.

Pada masa kesultanan Aceh, kerajaan Tamiang telah mendapat Cap Sukureung dan hak Tumpang Gantung ( Zainuddin, 1961, 136 - 137 ) dari Sultan Aceh Darussalam, atas wilayah Negeri Karang dan negeri Kejuruan Muda. Sementara negeri Sulthan Muda Seruway, negeri Sungai Iyu, negeri Kaloy dan negeri Telaga Meuku merupakan wilayah-wilayah yang belum mendapat cap Sikureung dan dijadikan sebagai wilayah protector bagi wilayah yang telah mendapat cap Sikureung. Pada tahun 1908 terjadi perubahan Staatblad No.112 tahun 1878, yakni Wilayah Tamiang dimasukkan ke dalam Geuverment Aceh en Onderhoorigheden yang artinya wilayah tersebut berada dibawah status hokum Onderafdelling. Dalam Afdeling Oostkust Van Atjeh ( Aceh Timur ) terdapat beberapa wilayah Landschaps dimana berdasarkan Korte Verklaring diakui sebagai Zelfbestuurder dengan status hukum Onderafdelling Tamiang termasuk wilayah-wilayah :

• Landschap Karang

• Landschap Seruway / Sultan Muda

• Landschap Kejuruan Muda

• Landschap Bendahara

• Landschap Sungai Iyu, dan

• Gouvermentagebied Vierkantepaal Kualasimpang.

" TAMIANG " adalah sebuah nama yang berdasarkan legenda dan data sejarah berasal dari : " Te - Miyang " yang berarti tidak kena gatal atau kebal gatal dari miang bambu. Hal tersebut berhubungan dengan cerita sejarah tentang Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh, ketika masih bayi ditemui dalam rumpun bambu Betong ( istilah Tamiang " bulooh " ) dan Raja ketika itu bernama Tamiang Pehok lalu mengambil bayi tersebut. Setelah dewasa dinobatkan menjadi Raja Tamiang dengan gelar " Pucook Sulooh Raja Te - Miyang ", yang artinya "seorang raja yang ditemukan di rumpun rebong, tetapi tidak kena gaatal atau kebal gatal".

Data - data Kerajaan Tamiang :

1. Prasasti Sriwijaya yang diterjemahkan oleh Prof. Nilkanta Sastri dalam " The Great Tamralingga ( capable of ) Strong Action in dangerous Battle "( Moh. Said 1961:36 ).

2. Data kuno Tiongkok ( dalam buku " Wee Pei Shih " ) ditata kembali oleh I.V.Mills, 1937, halaman 24 tercatat negeri Kan Pei Chiang ( Tamiang ) yang berjarak 5 Km ( 35 Mil Laut) dari Diamond Point ( Posri ).

3. Kerajaan Islam Tamiang dalam The Rushinuddin's Geographical Notices ( 1310 M ).

4. Tercatat sebagai " Tumihang " dalam syair 13 buku Nagara Kartagama ( M.Yamin, 1946 : 51 ).

5. Benda-benda peninggalan budaya yang terdapat pada situs Tamiang ( Penemuan T.Yakob, Meer muhr dan Penulis Sartono dkk ).

Berkaitan dengan data diatas serta hasil penelitian terhadap penemuan fosil sejarah, maka nama Tamiang dipakai menjadi usulan bagi pemekaran status wilayah Pembantu Bupati Aceh Timur Wilayah-III meliputi wilayah bekas Kewedanaan Tamiang. Tuntutan pemekaran daerah di Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebenarnya telah dicetuskan dan diperjuangkan sejak tahun 1957 awal masa Propinsi Aceh ke-II, termasuk eks Kewedanaan Tamiang diusulkan menjadi Kabupaten Daerah Otonom. Berikutnya usulan tersebut mendapat dorongan semangat yang lebih kuat lagi sehubungan dengan keluarnya ketetapan MPRS hasil sidang umum ke-IV tahun 1966 tentang pemberian otonomi yang seluas-luasnya. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah - Gotong Royong (DPRD-GR) Propinsi Daerah Istimewa Aceh dalam usul memorendumnya tentang Pelaksanaan Otonomi Riel dan luas dengan Nomor B-7/DPRD-GR/66, terhadap Pemekaran Daerah yang dianggap sudah matang untuk dikembangkan secara lengkap adalah sebagai berikut :

a. Bekas Kewedanaan Alas dan Gayo Lues menjadi Kabupaten Aceh Tenggara dengan ibukotanya Kutacane;

b. Bekas daerah Kewedanaan Bireun, menjadi Kabupaten Djeumpa dengan ibukota Bireun;

c. Tujuh kecamatan dari bekas kewedanaan Blang Pidie menjadi Kabupaten Aceh Barat Daya dengan ibukota Blang Pidie;

d. Bekas Daerah "Kewedanaan Tamiang" menjadi Kabupaten Aceh Tamiang dengan ibukotanya Kualasimpang;

e. Bekas daerah Kewedanaan Singkil menjadi Kabupaten Singkil dengan ibukotanya Singkil;

f. Bekas daearh Kewedanaan Simeulue menjadi Kabupaten Simeulue dengan ibukotanya Sinabang;

g. Kotif Langsa menjadi Kotamadya Langsa.

Usulan tersebut diatas sebahagian besar sudah menjadi kenyataan dari 7 wilayah usulan, saat ini yang sudah mendapat realisasi sebanyak 4 wilayah dan Tamiang termasuk yang belum mendapatkannya. Bertitik tolak dari hal-hal tersebut diatas dan sesuai dengan tuntutan dan kehendak masyarakat di Wilayah Tamiang, maka selaras dengan perkembangan zaman diera reformasi, demokrasi wajar kiranya bila masyarakat setempat mengajukan pemekaran dan peningkatan statusnya. Usulan tersebut diatas sebahagian besar sudah menjadi kenyataan dari 7 wilayah usulan, saat ini yang sudah mendapat realisasi sebanyak 4 wilayah dan Tamiang termasuk yang belum mendapatkannya. Bertitik tolak dari hal-hal tersebut diatas dan sesuai dengan tuntutan dan kehendak masyarakat di Wilayah Tamiang, maka selaras dengan perkembangan zaman diera reformasi, demokrasi wajar kiranya bila masyarakat setempat mengajukan pemekaran dan peningkatan statusnya. Sebagai tindak lanjut dari cita - cita masyarakat Tamiang tersebut yang cukup lama proses secara historis, maka pada era reformasi sesuai dengan undang - undang No. 22 tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, pintu cita - cita tersebut terbuka kembali serta mendapat dukungan dan usul dari :

1. Bupati Aceh Timur, dengan surat No. 2557 / 138 / tanggal 23 Maret 2000, tentang usul peningkatan status Pembantu Bupati Wilayah III Kualasimpang menjadi Kabupaten Aceh Tamiang kepada DPRD Kabupaten Aceh Timur.

2. DPRD Kabupaten Aceh Timur dengan surat No. 1086 / 100 - A / 2000, tanggal 9 Mei 2000, tentang persetujuan peningkatan status Kabupaten Aceh Tamiang.

3. Surat Bupati Aceh Timur, No. 12032 / 138 tanggal 4 Mei 2003 kepada Gebernur Daerah Istimewa Aceh tentang peningkatan status Kabupaten Aceh Tamiang.

4. Surat Gubernur Daerah Istimewa Aceh No. 138 / 9801 tanggal 8 Juni 2000 kepada DPRD Propinsi Daerah Istimewa Aceh tentang peningkatan status Kabupaten Aceh Tamiang.

5. Surat DPRD Daerah Istimewa Aceh No. 1378 / 8333 tanggal 20 Juli 2000 tentang persetujuan peningkatan status Kabupaten Aceh Tamiang.

6. Surat Gubernur Daerah Istimewa Aceh No. 135 / 1764 tanggal 29 Januari 2001 kepada Menteri Dalam dan Otonomi Daerah Republik Indonesia Cq. Dirjen PUMD tentang usul peningkatan status Pembantu Bupati dan Kota Adminstrasi menjadi Daerah Otonom



Potensi

Luas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang adalah 1.956,72 Km 2 yang terdiri dari: 208 desa dan 8 kecamatan. Potensi sumberdaya alam Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari lahan sawah seluas 19.033 Ha, namun sebagian besar masih diairi dengan sistem tadah hujan (17.968 Ha) sehingga penggunaan lahan belum optimal. Selanjutnya, tanaman jagung di Kabupaten Aceh Tamiang seluas 4.052 Ha, kacang tanah (139 Ha), kacang hijau (106Ha), kacang kedelai (3.804 Ha) ubi kayu (231 Ha), dan sayur-sayuran seluas 1.282 Ha.

Kabupaten Aceh Tamiang adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Kabupaten yang mempunyai semboyan: "Kaseh pape setie mati" ini terletak dekat dengan perbatasan Sumatera Utara. Kabupaten Aceh Tamiang merupakan kawasan kaya minyak dan gas, meski jumlahnya tidak sebesar Aceh Utara. Pusat produksi minyak berada di Kecamatan Rantau. Di Kecamatan Rantau juga terdapat unit produksi Pertamina, yang telah beroperasi sejak puluhan tahun yang lalu dan masih beroperasi sampai saat ini. Disamping itu, Aceh Tamiang juga mengandalkan sektor angkutan karena posisinya yang strategis, dan angkutan air merupakan salah satu primadona alternatif karena kabupaten ini dialiri dua sungai besar yakni Sungai Tamiang (yang terpecah menjadi Simpang Kiri dan Simpang Kanan) dan Sungai Kaloy. Aceh Tamiang juga mengandalkan sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Kabupaten Aceh Tamiang juga memiliki beberapa tempat wisata yang punya potensi baik apabila ditata dan dikelola secara serius. Air Terjun Tujuh Tingkat, Bendungan, Gua Walet, Pantai Seruway adalah beberapa contoh tempat wisata di Aceh Tamiang yang dapat dikelola dan dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah.

Produksi Komoditas Perkebunan Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai potensi yang sangat besar di bidang perkebunan karena di daerah ini terdapat perusahaan besar yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Luas areal perkebunan besar di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2008 seluas 24.664 Ha dengan jumlah perusahaan sebanyak 21 perusahaan. Sedangkan perkebunan kelapa sawit seluas 146.851,00 Ha yang tersebar di delapan kecamatan. Sementara itu, masih terdapat sejumlah areal perkebunan lainnya seperti karet dengan luas 13.385,00 Ha, kelapa dalam (262,00 Ha), pinang (543,00 Ha), lada (15,5 Ha), sagu (14,2 Ha), aren (71 Ha), nilam (36 Ha), kunyit (34 Ha) dan jahe (30 Ha). Kawasan ini juga dikenal sebagai sentra perkebunan Karet dan Kelapa Sawit. Tak kurang dari 7 (Tujuh) perusahaan swasta nasional dan asing yang melakukan operasinya di Kabupaten Aceh Tamiang ini seperti PT. Sucofindo, PT. Mopoli Raya. PT. Parasawita, PT. Betami dan lain-lain. Belum lagi dengan luasnya areal perkebunan rakyat yang terdapat di kawasan ini seperti Pinang, Sawit dan Karet.

Produksi Ternak Daerah ini juga mempunyai potensi di bidang peternakan. Hal ini dibuktikan dengan jumlah ternak yang ada di daerah ini pada tahun 2008. Jumlah ternak sapi sebanyak 35.697 ekor, kerbau (917 ekor), kambing (21.836 ekor), domba (2.931 ekor), ayam kampung (185.258 ekor), ayam pedaging (34.775 ekor), ayam petelur (305 ekor), dan itik (68.860 ekor).

Perikanan Darat (Aquaculture) Masih terdapat potensi lainnya yaitu pertambakan. Tambak Ikan/Udang yang terdapat di Aceh Tamiang berjumlah 4.163 Ha. Dengan luas tambak itu, setiap tahun Aceh Tamiang mampu menghasilkan produksi ikan tambak sebesar 1.622,91 ton. Luas areal tambak yang diusahakan dengan teknologi tradisional pada tahun 2008 di Kabupaten Aceh Tamiang seluas 5.341,5 Ha, semi intensif 905 Ha, dan intensif 337 Ha. Karena teknologi pengelolaan tambak ini masih didominasi oleh sistem tradisional maka produktivitas hasil tambak relatif lebih rendah. Ditambah dengan produksi ikan kolam sebesar 561,15 ton dan perikanan laut 6.460,10 ton.



Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Aceh Tamiang


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Aceh Tamiang


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Aceh Tamiang




Sumber : http://acehtamiangkab.bps.go.id http://acehfair.acehprov.go.id http://potensidaerah.ugm.ac.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox