Kabupaten B E L U

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Selat Ombay

Sebelah Selatan : Laut Timor

Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan TTS

Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic Timor Leste (RDTL)

Luas administratif Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2 dan menurut data Bagian Pemerintahan Desa Kantor Bupati Belu hingga tahun 2005, Kabupaten Belu terdiri atas 17 wilayah administratif Kecamatan dan 207 wilayah Desa/Kelurahan, 25 Desa diantaranya masih Desa Persiapan dan 1 Desa UPT (Transmigrasi).

Ke-17 wilayah Kecamatan tersebut merupakan hasil pemekaran wilayah tahun 2004, dimana pada masa sebelum itu wilayah Kabupaten Belu hanya terdiri dari 12 wilayah Kecamatan dan 166 Desa/Kelurahan. Ke-5 tambahan wilayah kecamatan hasil pemekaran tersebut adalah Kecamatan Wewiku dan Kecamatan Weliman hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Barat; Kecamatan Lasiolat hasil pemekaran dari Kecamatan Tasifeto Timur; serta Kecamatan Raimanuk dan Kecamatan Laenmanen hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Timur.

Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5 0 – 33,7 0 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6 0C. Temperatur udara tertinggi 33,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara terendah 21,50 terjadi Bulan Agustus.

Biasanya hujan turun antara Bulan Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.


Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat diatas permukaan laut. Keadaan topografi Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di bawah ini :

Ketinggian 0 – 230 m dpl seluas 98,349 Ha (40,12 %)

Ketinggian 230 – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)

Ketinggian 500 – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)

Ketinggian 750 – 1000 m dpl seluas 17,240 Ha (7,03 %)

Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.


Sejarah

Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah 'Suku Melus.' Orang Melus dikenal dengan sebutan Emafatuk oan ai oan (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek.

Selain para pendatang, yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari Sina Mutin Malaka. Malaka sebagai tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka.

Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati Demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.

Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan.

Dari makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Namun menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Naik.

Bahwa para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dan masyarakatnya. Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan.

Sedangkan dari semua pendatang di Belu itu pimpinan dipegang oleh Maromak Oan Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing Maromak Oan kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Fatuaruin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.

Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang.

Menurut para sejarahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian selatan dan utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah sistem pengontrolan terhadap masyarakatnya.

Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah raja- raja dengan apa yang disebutnya Zaman Keemasan Kerajaan. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu). Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya.

Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh Belu sebagai Loro dan Liurai.

Tercatat nama-nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak.

Selain itu, ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.

Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi Dasi Sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sobau, LIdak, Tohe Manumutin, dan Aitoon.

Dalam berbagai penuturan di utara maupun di selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain.

Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal û usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah.


Wilayah Kabupaten B E L U


Pesantren

Pesantren di Kabupaten B E L U


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten B E L U


Tokoh

Tokoh di Kabupaten B E L U












Sumber :

http://infonusatenggaratimur.blogspot.com

http://www.kemendagri.go.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox