Kabupaten Cilacap

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat.

Terletak diantara 10804-300 - 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 - 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 M dari permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 M dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang.


Sejarah

Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :

- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur

- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .

Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.

Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

Zaman Penjajahan Belanda

Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan : "Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut: Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.

Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks Kawedanan Kroya, karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub-bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).



Kebudayaan

Cilacap terbagi menjadi budaya Jawa dan budaya Sunda. Budaya yang berbeda ini tentu menyebabkan pola masyarakat yang berbeda pula dan hal ini menimbulkan keunikan tersendiri yang selanjutnya terjadi pencampuran budaya dari kedua budaya tersebut. Dari segi perekonomian pun, secara umum terbagi menjadi dua yakni wilayah bagian selatan berkembang sektor perikanan laut dan bagian utara-barat berkembang sektor pertanian. Salah satu ciri khas dari masyarakat pesisir adalah tradisi budaya “sedekah laut” yang telah menjadi agenda besar tahunan kabupaten cilacap.

Sedekah laut yang diikuti oleh ribuan nelayan setempat dibiayai oleh APBD kabupaten Cilacap dan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para turis domestik maupun mancanegara. Sedekah laut diselenggarakan pada hari jumat kliwon atau selasa kliwon pada bulan Muharram atau Sura bergantung mana yang jatuh lebih dahulu pada bulan yang bersangkutan. Sebagai ritual budaya, sedekah laut kurang lebih bermakna ungkapan rasa syukur nelayan atas karunia Tuhan melalui kelimpahan pendapatan dan penghasilan selama setahun terakhir guna mendapatkan ikan di tengah laut untuk menghidupi keluarganya. Ungkapan rasa syukur bisa dilakukan melalui berbagai media, maka dalam konteks sedekah laut ini nelayan cilacap “melarung sesaji” membuang sesaji ke tengah laut dalam bentuk kepala kerbau dan uborampe lainnya yang diusung dengan sejumlah keranda. Acara dimulai dari upacara resmi di pendopo kabupaten, kemudian arakan menuju teluk penyu tempat di mana sesaji itu akan dinaikan ke dalam perahu dan dilarung di sekitar Karang Bandung sisi timur Pulau Nusakambangan.

Masyarakatnya masih sangat menjunjung budaya gotong royong. Terlihat dalam berbagai hal kegiatan, masyarakat melaksanakannya secara bersama-sama seperti kerja bakti membersihkan jalan, memperbaiki saluran irigasi, membangun rumah dsb. Gotong royong juga berlaku dalam hal mata pencaharian yang dalam hal ini sebagian besar profesi mereka sebagai petani. Ada istilah yang disebut “liuran”, sebuah sistem kerja di mana para pemilik sawah (petani) bekerja bersama-sama di salah satu pesawahan milik para petani itu kemudian berpindah ke pesawahan lain milik petani yang lainnya sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan upah untuk pekerja karena telah diganti oleh tenaga yang mereka gunakan dengan saling membantu satu sama lain. Suasana kerukunan terasa begitu kuat dan hal ini yang merasa saya nyaman tinggal di sana, berbeda dengan kehidupan di kota.

Mitos-mitos banyak terdapat di wilayah ini. Budaya sesaji yang umum dijumpai di daerah jawa juga dapat ditemui di sini dengan istilah lain “sasajen”. Sesaji umumnya dilakukan sesuai tujuan tertentu. Misalkan saat mau memanen padi dilakukan sesaji yang disebut “nyalin”, ada sesaji yang dilakukan ketika seseorang melaksanakan hajatan, dan ada juga sesaji yang dilakukan secara berkala pada bulan tertentu. Sesaji dapat bermakna ungkapan syukur atau permohonan keselamatan kepada Tuhan bergantung dari tujuannya tadi. Sebagai ungkapan syukur misalnya karena manusia dilahirkan ke dunia ini lewat perantara ibu-bapak dan seterusnya sehingga demi menghormati mereka yang sudah berada di alam berbeda dilakukan sesaji dengan harapan hakikatnya disampaikan kepada mereka dan barokahnya diperoleh bagi yang masih tinggal di dunia. Namun, saat ini sesaji dilakukan hanya oleh golongan tua saja dan mereka pun menyadari bahwa generasi muda saat ini tidak akan mungkin melakukannya seiring dengan arus modernisasi yang berkembang.

Budaya seni tak kalah menariknya di banding kesenian di daerah-daerah lain. Adapun kesenian di daerah ini merupakan kesenian sunda seperti wayang golek, tari ronggeng, calung sunda dll. Bahkan di kabupaten Cilacap sendiri, setiap kecamatan memiliki kesenian khas masing-masing seperti sedekah bumi (cilacap tengah), kuda kepang (kawunganten), reog (maos dan sampang), kotekan lesung (kesugihan), calung (binangun), calung sunda (dayeuhluhur), baritan (nusawungu), nyadran (adipala), buncis (kroya), ngelik (cipari), tayub jaipong (wanareja) dan lainnya.

Dari segi kuliner, terdapat beberapa makanan yang menjadi khas kabupaten cilacap. Hasil laut dibuat menjadi berbagai variasi makanan seperti ikan asin, jambal roti, abon tuna, sambal tuna dan jenis seafood lainnya. Sementara dari hasil pertaniannya terdapat beberapa kuliner seperti keripik sukun, keripik bayam, tempe dages, lontong opor, serabi cilacap dan sebagainya


Potensi

Perdagangan

Kabupaten Cilacap memiliki wilayah terluas di Jawa Tengah dengan didukung adanya industri/perusahaan besar yang cukup banyak sehingga terbuka peluang berdirinya pusat petokoan, pasar swalayan, supermarket, perumahan, transportasi dan berbagai bidang jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Produksi ikan laut per tahun 15.153,2 ton yang diperoleh dari 7 (tujuh) Tempat Pelelangan Ikan/TPI, namun sebagian besar melalui TPI Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap dan kapasitas Dermaga 250 Kapal. Kegiatan Ekspor-impor lewat pelabuhan laut Tanjung Intanyang sudah dilakukan adalah impor sapi, bongkar muat pupuk Sriwijaya dan Ekspor-impor Minyak bumi.

Perikanan

Perikanan Laut

- Luas sebaran penangkapan 5.200 km2

- Jumlah Nelayan Laut 33.000 orang

- Armada Penangkapan 4.538 buah

Sarana pendukung :

- Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap dengan kapasitas 250 kapal

- Dermaga 7 unit

- TPI Propinsi / Kabupaten 11 buah

- Depot BBM 2 buah

- Galangan Kapal 4 buah

- Pabrik es kapasitas 236 ton 5 unit

- Cold storage kapasitas 75 ton 3 unit

Sistem penangkapan ikan oleh nelayan Cilacap belum ada yang mencapai lepas panti ZEEI. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas/alat tangkap ikan yang digunakan untuk mencapai Zone tersebtu, baik armada kapalnya maupun alat deteksi ikan / alat penginderaan ikan jarak jauh

Disamping itu juga akan segera dibangun Pasar Ikan Higienis dilokasi dekat Pantai.

Peluang Investasi yang ada yaitu :

- Pembangunan TPI terpadu di Jetis dengan nilai investasi 125 Milyar dengan sistem BOT (telah terhitung Fs nya) karena Pelabuhan yang ada belum dapat menampung kapal dengan ukuran 100 GT.

- Pendirian docking kapal terutama bagi kapal 100 GT

- Usaha armada long line.


Perikanan Darat

- Jumlah Nelayan Perairan Umum : 9.000 orang

- Potensi Lahan Tambak : 12.000 ha

- Potensi Budidaya ikan air tawar : 2.500 ha

- Lokasi Budidaya ikan air tawar hampir di seluruh Kecamatan seKab. Cilacap.

- Pembenihan ikan :

  a. BBI seluas 4,07 ha dgn produksi benih tahun 2003 sebanyak 1.785.000 ekor
  b. Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dgn produksi benih sebanyak 12.750.000 ekor.

- Kebutuhan benih per tahun diperkirakan sebanyak 19.900.000 ekor.

Peluang Investasi

- Usaha bandeng sebagai umpan untuk penyediaan kapal-kapal longline karena selama ini umpannya mengambil dari luar daerah.

- Usaha tempat pembenihan ikan air tawar, dan payau/hatchery.

Budidaya Rumput Laut

Lahan yang berpotensi untuk dikembangkan budidaya rumput laut seluas 13.050 Ha yang terletak di pantai sebelah utara Pulau Nusakambangan. Peluang investasi budidaya rumput laut dengan pabrik pengolahannya.

Budidaya Ikan Kerapu

Potensi luas areal yang dapat dikembangkan untuk budidaya ikan kerapu seluas 891 Ha yang terletak disebelah selatan Pulau Nusakambangan dengan menggunakan sistem keramba.

Kehutanan dan Perkebunan

Gambaran Umum

• Luas Hutan Negara di Kabupaten Cilacap adalah 54.669,80 Ha (terdiri dari Hutan Produksi 36.349,10 Ha, Hutan Produksi Terbatas 10.601,70 Ha, Hutan Lindung 6.386,20 Ha dan Suaka Alam 1.332,80 Ha).

• 2. Luas Hutan Rakyat 22.743,08 Ha (tanaman jati, mahoni, albasia, dll)

• Total luas hutan di Kab. Cilacap (Hutan Negara + Hutan Rakyat) adalah 77.412,88 Ha.

• Luas Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Negara (PTPN IX) di Kabupaten Cilacap adalah 8.771,82 Ha yang ditanami dengan tanaman karet dan kako.

• Luas kebun rakyat adalah 33.825,45 Ha (Tanama kelapa, kare, kopi, cengkeh, pala, kakao, dll)

Potensi Pengembangan

1. Pengembangan albasia

Albasia sebagai bahan baku industri kayu Luas tanaman albasia yang ada 1.000 Ha. Luas potensi pengembangan 2.000 Ha. Lokasi : Kecamatan Jeruklegi, Kesugihan, Kawunganten, Cilacap Tengah dan Binangun. Nilai investasi 4,5 Milyar.

2. Pengembangan karet rakyat.

Luas tanaman karet rakyat yang telah dikembangkan 1.823,90 Ha. Telah tersedia 1 (satu) unit alat pengolah / pabrik karet (kapasitas 2,5 ton brown crepe/hari) di Desa Ciwalen Kec. Dayeuhluhur bantuan INGUB. Potensi pengembangan 5.000 Ha. Lokasi pengembangan di Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja Majenang, Cipari dan Jeruklegi. potensi industriyang dapat dikembangkan adalah industri sabutre, industri ban, dll. Nilaiinvestasi 40 Milyar.

3. Pengembangan kayu putih sebagai minyak atsiri.

Luas tanaman kayu putih yang telah dikemabngkan 200 Ha. Telah tersedia 1 unit alat pengeolah di Kel. Kutawaru Kec. Cilacap Tengah bantuan dari PT. HOLCIM. Potensi pengembangan 2.000 Ha. Lokasi pengembangan di Kecamatan Patimuan, Cilacap Tengah dan Kawunganten. Nilai investasi 4,5 Milyar.

4. Pengembangan jarak pagar dan nyamplung sebagai biofuel

Luas tanaman jarak pagar yang telah dikembangkan 371 Ha dan nyamplung 350 Ha. Telah tersedia 1 (satu) unit alat pengolah biji jarak pagar / nyamplung di Desa Krangmangu Kec. Kroya bantuan dari DEPPRERINDAG RI. Potensi pengembangan 2.400 Ha. Lokasi pengembangan di Kecamatan Kroya, Binangun, Nusawungu, Jeruklegi, Sampang Maos dan Adipala. Nilai investasi 10 Milyar.

5. Pengembangan nilam

Luas tanaman nilam yang telah dikembangkan 750 Ha. Potensi pengembangan 750 Ha. Lokasi pengembangan di kecamtan Cimanggu, Karangpucung, Sidareja, Cipari dan Jeruklegi. Nilai investasi 3 Milyar.

Energi dan Sumber Daya Mineral

1. Minyak dan Gas Bumi

 Minyak dan gas bumi terdapat di Desa Cipari Kecamatan Dipari, telah dilakukan eksplorasi  terhadap cebakan yang dilaksanakan oleh LUNDIN BANYHUMAS BV.  dengan melakukan pemboran sumur uji sumur taruhan Jati I ) hingga kedalam maksimal 15.000 ft dengan kesimpulan tidak ekonomis.

2. Batubara

 Indikasi adanya potensi batubara terlihat dari adanya sisipan batu bara yang terdapat di  wilayah Kecamatan Dayeuhluhur. Hasil penyelidikan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang bekerjasama dengan CV. Multi Geosintek tahun 2003 yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa batubara yang ada merupakan batubara muda( lignite) dengan nilai kalori <4.500 kcal/kg. Singkapan batubara juga terdapat di Desa Cidadap Kec. Karangpucung dengan hasil analisa proksimat PT Star Polaris pada Mei 2006, nilai kalori potensi batubara tersebutberkisar 3724 sd 3890 cal/gr (adb).

3. Emas Terdapat di Desa Jambu Kecamatan Wanareja dan Desa Sadahayu

 Kecamatan  Majenang. Cadangan Emas ersebut pernah dieksplorasi oleh PT.  Gama Grahita dengan luas areal 2.000 hektar, kemudian dilakukan Eksplorasioleh PT. Multi Daya Sempama. Hasil  Eksplorasi kandungan emas tersebut antara 4 gr/ton sampai 7 gr/ton.  Potensi tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

4. Pasir Besi

Endapan Pasir Besi terebut sepanjang pesisir pantai Kabupaten Cilacap,  sebagian besar telah ditambang oleh PT. ANTAM Tbk, cadangan tersisa seluas 500 hektar lebih dengan MD  12.20 %, kandun gan Fe>53% terletak di Desa Welahan Wetan Kecamatan Binangun  hingga Desa Jetis Kecamatan Nusawungu, cadangan tersisa 744.678,85 ton saat ini telah  diusahakan oleh 4 pemegang Kuasa Pertambangan.

5. Bentonit

Terdapat di Kecamatan Karangpucung yang meliputi Desa Tayem, DesaSumber Sari, Desa Surian dengan luas maing - masing 1 hektar, 8 hektar dan 1 hektar. Hasil identifikasi cadangan Bentonit pada Desa Tayem yiatu :

Swelling Index 42-166 %, Bleaching Index 79-89 %, CaO 25%, MgO 1,33 - 5,55%, TiO2 0,22 -0,73%, Na2O<1,37%. Sejumlah cadangan ada pula di Desa Pesanggrahan Kecamatan Kesugihan yang perlu penelitian lebih lanjut.

6. Trass

Terdapat di Kecamatan cimanggu yang meliputi Desa Cimanggu, Cigintung, Bantar Panjang,Genteng, Sindanghayu, Tepungsari dengan jumlah cadangan keseluruhan 83.022.500 m3.  Hasil analisa Trass daerah bantar Panjang adalah Indeks Aktivitas 7 hari = 68,9%: Indeks Aktivitas 28 hari = 73 % dan Indeks Aktivitas 7 hari = 64,4 %. Indeks Aktivitas 28 hari =    74  % untuk daerah Bantar Mangu dengan acuan CPI-SP-008.

7. Talk

Cadangan tersingkap terdapat di Kecamatan Karangpucung, belum dieksplorasi secara detail.

8. Andesit

Cadangn Andesit atau yang biasa disebut batu gunung terdapat di beberapa desa di Kecamatan  Kesugihan (± 1.500.00m3, dengan tanah penutup / Overburden (OB) rata -  rata 0,5 - 2meter), Kecdamatan Jeruklegi yang meliputi Desa Karang Kemiri (1.500.000 m3,     OB 2-4 meter) Desa Ciwuni  (300.000 m3, OB 0,5 - 1 meter), juga erdapat di Kecamatan  Majenang dan Kecamatan Dayeuhluhur.

9. Gamping

Terdapat di PUlau Nusakambangan dengan jumlah cadangan berkisar 1.170.000.000 ton yang merupakan Gamping Terumbu yang saat ini sedang ditambang oleh PT. Holcim. Komposisi kimia gamping tersebut terdiri dari CaO>50%; MgO<1%. Sejumlah cadangan Gamping terdapat di Desa Tayem Kecamatan Karangpucung dengan komposisi CaO>50%: MgO<1%. Sejumlah cadang Gamping terdapat di Desa Tayem Kecamatan Karangpucung dengan komposisi CaO>50%, MgO,1% dalam bentuk lensa - lensa.

10. Pasir Sungai dan Pasir Batu (Sirtu)

Terdapat di sungai Serayu, Cijalu, Citanduy, Cibaganjing, Cebeet, dan Cikawung, yang saatini diusahakan oleh penambang rakyat.

11. Lempung

Tersebar di Kecamatan Jeruklegi (ditambang PT. Holcim) dan di beberap Desa di Kecamatan Adipala dengan Kandungan SiO2 56,6 %, Al2O3 16,08%, Fe2O3 10,47%, Na2O 1,58%; K2O 1,58% dengan kandaungan mineral monmorelonite, kwarsa dan albite.

12. Tanah Urug

Banyak terdapat di Kecamatan Adipala, Kecamatan Kesugihan, dan Kecamatan Jeruklegi.







Wilayah Kabupaten Cilacap


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Cilacap


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Cilacap


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Cilacap




Sumber :

http://www.cilacapkab.go.id http://jenienvironment.wordpress.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox