Kabupaten Gresik

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Lokasi Kabupaten Gresik terletak di sebelah barat laut Kota Surabaya yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.191,25 km2 yang terbagi dalam 18 Kecamatan dan terdiri dari 330 Desa dan 26 Kelurahan.

Secara geografis wilayah Kabupaten Gresik terletak antara 112 sampai 113 Bujur Timur dan 7 sampai 8 Lintang Selatan dan merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2 sampai 12 meter diatas permukaan air laut kecuali Kecamatan Panceng yang mempunyai ketinggian 25 meter diatas permukaan air laut.

Sebagian wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai, yaitu memanjang mulai dari Kecamatan Kebomas, Gresik, Manyar, Bungah, Sidayu, Ujungpangkah dan Panceng serta Kecamatan Sangkapura dan Tambak yang lokasinya berada di Pulau Bawean.

Wilayah Kabupaten Gresik sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Madura dan Kota Surabaya, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamongan.


Demografi

Berdasarkan data Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Sosial Kabupaten Gresik jumlah penduduk Kabupaten Gresik pada akhir tahun 2011 sebesar 1.248.177 jiwa yang terdiri dari 628.702 laki-laki dan 619.457 perempuan, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 1.237.264 jiwa sehingga dari tahun 2010 ke tahun 2011 terjadi kenaikan jumlah penduduk sebesar 10.913 jiwa atau 0,88 %.

Pada tahun 2011 jumlah keluarga di Kabupaten Gresik sebesar 270.264 keluarga dan kepadatan penduduk Kabupaten Gresik pada tahun 2011 sebesar 1.047 jiwa/Km2. Sedangkan angka rasio jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan pada tahun 2011 sebesar 101%.


Sejarah

Gresik sudah dikenal sejak abad ke-11 ketika tumbuh menjadi pusat perdagangan tidak saja antar pulau, tetapi sudah meluas keberbagai negara.Sebagai kota Bandar,gresik banyak dikunjungi pedagang Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Bengali, Campa dan lain-lain. Gresik mulai tampil menonjol dalam peraturan sejarah sejak berkembangnya agama islam di tanah jawa. Pembawa dan penyebar agama islam tersebut tidak lain adalah Syech Maulana Malik Ibrahim yang bersama-sama Fatimah Binti Maimun masuk ke Gresik pada awal abad ke-11.

Sejak lahir dan berkembangnya kota Gresik selain berawal dari masuknya agama islam yang kemudian menyebar ke seluruh pulau jawa,tidak terlepas dari nama Nyai Ageng Pinatih, dari janda kaya raya yang juga seorang syahbandar, inilah nantinya akan kita temukan nama seseorang yang kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya kota gresik. Dia adalah seorang bayi asal Blambangan (Kanbupaten Banyuwangi) yang dibuang ke laut oleh orang tuanya, dan ditemukan oleh para pelaut anak buah Nyai Ageng Pinatih yang kemudian diberi nama Jaka Samudra. Setelah perjaka bergelar raden paku yang kemudian menjadi penguasa pemerintah yang berpusat di Giri Kedato,dari tempat inilah beliau kemudian dikenal dengan panggilan Sunan Giri.

Kalau Syeh Maulana Malik Ibrahim pada jamannya dianggap sebagai para penguasa, tiang para raja dan menteri, maka sunan giri disamping kedudukannya sebagai seorang sunan atau wali (Penyebar Agama Islam) juga dianggap sebagai Sultan / Prabu (Penguasa Pemerintahan) Sunan Giri dikelanal menjadi salah satu tokoh wali songo ini,juga dikenal dengan prabu Satmoto atau Sultan Ainul Yaqin.Tahun dimana beliau dinobatkan sebagai pengusaha pemerintahan(1487 M) akhirnya dijadikan sebagai hari lahirnya kota Gresik. Beliau memerintah gresik selama 30 tahun dan dilanjutkan oleh keturunanya sampai kurang lebih 200 tahun

Menjabat sebagai bupati yang pertama adalah Kyai Ngabehi Tumenggung Poesponegoro pada tahun 1617 saka, yang jasadnya dimakamkan di komplek makam Poesponegoro di jalan pahlawan gresik, satu komplek dengan makam Syech Maulana Malik Ibrahim. Kota Gresik terkenal sebagai kota wali, hal ini ditandai dengan penggalian sejarah yang berkenaan dengan peranan dan keberadaan para wali yang makamnya di Kabupaten Gresik yaitu, Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Di samping itu, Kota Gresik juga bisa disebut dengan Kota Santri, karena keberadaan pondok-pondok pesantren dan sekolah yang bernuansa Islami, yaitu Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah hingga Perguruan Tinggi yang cukup banyak di kota ini. Hasil Kerajinan yang bernuansa Islam juga dihasilkan oleh masyarakat Kota Gresik, misalnya kopyah, sarung, mukenah, sorban dan lain-lain.

Semula kabupaten ini bernama Kabupaten Surabaya. Memasuki dilaksanakannya PP Nomer 38 Tahun 1974. Seluruh kegiatan pemerintahan mulai berangsur-angsur dipindahkan ke gresik dan namanya kemudian berganti dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik dengan pusat kegiatan di Kota Gresik.

Kabupaten Gresik yang merupakan sub wilayah pengembangan bagian (SWPB) tidak terlepas dari kegiatan sub wilayah pengembangan Gerbang Kertasusila(Gresik, Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Termasuk salah satu bagian dari 9 sub wilayah pengembangan jawa timur yang kegiatannya diarahkan pada sektor pertanian, industri, perdagangan, maritime, pendidikan dan industri wisata.

Dengan ditetapkannya Gresik sebagai bagian salah satu wilaya pengembangan Grebangkertosusila dan juga sabagai wilayah industri, maka kota gresik menjadi lebih terkenal dan termashur, tidak saja di persada nusantara tetapi juga ke seluruh dunia yang ditandai dengan munculnya industri multi modern yang patut dibanggakan bangsa Indonesia.


Kebudayaan

Ciri utama masyarakat Gresik yaitu masyarakat yang kental dengan semangat islam. Semangat islam ini sejak lama ditanamkan oleh para pembawanya pada akhir abad XIV M bahkan jauh sebelumnya, yaitu sekitar abad XI M (ditandai dengan adanya makam wanita muslimah, Siti fatimah binti Maimun di Leran-Manyar-Gresik, berangka tahun 475 H/1082 M). Semangat islam sudah berakar sehingga merupakan jati diri masyarakat Gresik yang menumbuhkan semacam sociocultural pride yang sukar dihapus. Hal ini dominan sekali mewarnai pandangan serta sikap hidup sehari-hari, terutama dalam ungkapan-ungkapan rasa batin, seperti dalam olah kesenian masyarakat, nafas keislaman terasa sekali mewarnai karya seni tradisional, baik yang lama maupun kreasi baru.

Diantara kesenian tradisional yang masih nampak dilestarikan oleh sebagian kecil masyarakat Gresik adalah macapat. Kesenian ini biasa diadakan pada acara-acara tertentu, seperti upacara tingkeban, sepasaran bayen, dan upacara perkawinan. Tema tembang yang dimainkan selalu disesuaikan dengan jenis hajat upacaranya. Namun nafas keislaman selalu mewarnai temanya. Disamping macapat, ada juga jenis kesenian yang disebut “Terbang Kedung.” Isi kidungnya merupakan syair puji-pujian terhadap kebesaran nabi, instrumenya terdiri dari tujuh buah terbang, bervariasi nada suaranya. Terbang ini selain untuk mengiringi kidungan, juga untuk meningkahi pencak silat berirama yang dimainkan oleh sekitar 50 orang. Kesenian ini biasa diadakan pada peringatan hari besar islam, juga untuk memperingati wafatnya Sunan Giri. Kesenian jenis ini pernah mengalami kemajuan di Desa Ngargasari, Kecamatan Kebomas.

Untuk acara perkawinan, peringatan Maulid Nabi, khaul Sunan Giri, dan acara keislaman lainnya lazim diramaikan dengan kesenian samrah (Yalil-yalil), kasidah atau hadrah. Semua itu bernafaskan islam. Terdapat juga kesenian yang bersifat hiburan lainnya, misalnya orkes melayu berirama dangdut, orkes gambus berirama padang pasir, dan masih banyak lainnya. Di Bawean terdapat kesenian yang sangat digemari yaitu tari Mandailing dan Korcak. Kesenian ini sering dimainkan pada hari besar islam, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad SAW, Nuzulul Quran, dan lain-lain. (Dukut Imam Widodo, 2004 : 300).

Hasil kesusastraan di Gresik umumnya merupakan kesusastraan lama yang ditulis pada lontar, uang atau kertas, dalam huruf Jawa dan huruf Pegon (Arab Jawi), dalam bentuk prosa (gancaran), juga puisi (tembang). Karya-karya itu masih berupa tulisan tangan, berisi sejarah nabi-nabi, babad, cerita klasik atau berupa suluk-suluk, dengan menggunakan bahasa Jawa gaya pesisiran, bahkan juga karya tulis 30 juz ayat-ayat Al Quran.

Kelestarian warisan-warisan tersebut sangat memprihatinkan, karena hanya sebagian kecil yang dapat diselamatkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gresik, sebagaimana dapat dilihat dalam Museum Kabupaten Gresik “Sunan Giri.” Sedangkan sebagian besar barang-barang kuno tersebut masih menjadi milik perorangan. Hal ini patut disayangkan, karena benda peninggalan sejarah itu tidak mendapatkan perawatan yang baik, sehingga mudah rusak atau termakan oleh serangga seiring dengan perjalanan waktu. Berbagai jenis tradisi lisan dan tulisan itu sebetulnya bisa dilestarikan dengan memasukkannya sebagai salah satu kajian sejarah lokal mulai dari tingkat SD sampai SMA di Kabupaten Gresik.

Mengenai kesusastraan, khususnya kesusastraan Jawa, utamanya mengenai pertumbuhan dan perkembangannya, ternyata Gresik memiliki peran penting. Seorang pakar kebudayaan Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto dalam bukunya “Kakawin Bharata Yudha” menyatakan bahwa pertumbuhan kesusastraan Jawa kuno menuju kearah kesusastraan Jawa baru melalui kesusastraan Jawa Tengahan, garisnya dapat ditarik dari Majapahit menuju Giri-Gresik, kemudian menuju Demak yang mengembang antara tahun 1500-1550 M, dan seterusnya ke Pajang dan Mataram, sehingga menjadi kesusastraan Jawa baru. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di Gresik banyak ditemukan karya-karya agung dari tokoh-tokoh terdahulu, baik berupa sastra, sejarah, seni tembang, ilmu pengobatan, astrologi, astronomi, dan lain-lain.

Perkembangan di atas tidak terlepas dari peran Sunan Giri, keturunan, serta santri-santrinya sejak pertengahan abad ke-15 M. Sunan Giri merupakan seorang pendidik yang mencintai karya seni sastra. Melalui media pendidikan sebagai salah satu sarana dakwah telah mendidik dengan amat bijaksana. Beliau menciptakan bermacam-macam permainan yang mengandung ajaran agama, misalnya lagu dan permainan Jelungan, Jamuran, Bendi Girit, Ilir-ilir, Jor, Gula Ganti, Cublek-cublek Suweng, dan sebagainya. Kabarnya, beliaulah yang menciptakan gending “Asmaradhana” dan “Pucung” yang sangat digemari oleh masyarakat dengan muatan ajaran agama.

Sebagai seorang tokoh yang kharismatik, Sunan Giri dijadikan panutan oleh masyarakat sekitarnya. Hal ini dapat dipahami dengan semakin tumbuhnya sifat keuletan dan ketegaran perjuangan hidup masyarakat pada zaman Sunan Giri. Hal demikian itu berlangsung terus dari generasi ke generasi, sehingga akhirnya kewiraswastaan dan religiusitas sudah mewarnai karakter yang menuntun perjuangan hidup mereka. Apabila sekarang ini masyarakat Gresik pada umunya hidup berwiraswasta, maka semua itu wajar saja sebagai kesinambungan mata rantai sejarah.

Kewiraswastaan itu nampak meluas, tidak hanya pembudidayaan hasil tambak, tapi juga usaha-usaha lainnya, seperti seni kerajinan rakyat, antara lain gerabah, kerajinan emas, perak, imitasi, loyang, anyaman pandan, tenun, dan sebagainya tersebar di Gresik. Tenunan di Gresik misalnya sangat berkembang di Kecamatan Cerme, Menganti, dan Kampung Arab Gresik, kerajinan emas dan perak di Giri dan Kebomas, kerajinan gerabah di Dusun Beji, Sidomukti, Kebomas, anyaman tikar pandan di Pulau Bawean. Di Giri juga pernah berkembang kerajinan batik, loyang, udheng (ikat kepala), peti tempat pakaian (kopor). (Tim Peneliti dan Penyusun, 1991 : 24-30).

Di Gresik juga dikenal seni lukis tradisional “Damar Kurung” yang sudah berlangsung turun temurun. Salah seorang pelukisnya adalah Mbah Masmundari. Beliau putri dari pasangan Sadiman dan Martidjah yang konon juga merupakan pelukis Damar Kurung tersohor pada zamannya. Lukisan Damar Kurung oleh Mbah Masmundari merupakan lukisan cat air di kertas dengan rangka bambu dengan tema gambar kegiatan dan peristiwa pada bulan Ramadhan atau Idul Fitri. Lukisan yang oleh para pengamat seni lukis dikategorikan aliran seni lukis naifisme itu menurut cerita sudah berkembang sejak zaman Sunan Prapen. (Tim Peneliti dan Penyusun, 1991: 44).






Wilayah Kabupaten Gresik


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Gresik


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Gresik


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Gresik



Sumber :

http://gresikkab.go.id/

http://www.psb-psma.org

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox