Kabupaten Lamongan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Secara geografis terletak di Lamongan 6051'54'dari 7023'6 ke selatan dan 11204'41Bujur ke 112035'45Lintang dari timur. Daerah Kabupaten Lamongan juga dipisahkan dengan kabupaten lain adalah:

- Sisi utara: Laut Jawa

- Sisi-Selatan: Kabupaten Mojokerto dan Jombang

- Sisi-Timur: Kabupaten Gresik

- Sisi-Barat: Kabupaten Bojonegoro dan Tuban

Meliputi wilayah kabupaten 1,812,8 km2. 47,71% dari daerah, atau sekitar 84.672 hektar, merupakan lahan pertanian. Sisanya adalah daerah marjinal, yang cocok untuk kawasan industri dan perumahan, terutama di Pantura (pantai utara) dan bagian selatan dari Lamongan.



Demografi

Pada tahun 2003, populasi mencapai 1.244.812 orang dengan kepadatan rata-rata dari 676 people/km2. Sekitar 99,63% penduduk adalah muslim. Kebanyakan dari mereka adalah suku Jawa yang umumnya tinggal di desa-desa dan membuat hidup sebagai petani atau farm-pekerja. Karena hard alam tantangan di masa lalu, dan didukung oleh sekitarnya ke Surabaya, maka yang mendorong petani asli dari hati-pedagang (makanan perdagangan, industri kecil, industri kerajinan tangan atau layanan sosial).


Sejarah

Dulu Lamongan merupakan Pintu Gerbang ke Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Jenggala, Kerajaan Singosari atau Kerajaan Mojopahit, berada di Ujung Galuh, Canggu dan kambang Putih ( Tuban). Setelah itu tumbuh pelabuhan Sedayu Lawas dan Gujaratan (Gresik), merupakan daerah amat ramai , sebagai penyambung hubungan dengan Kerajaan luar Jawa bahkan luar Negeri.

Zaman Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur, Di Lamongan berkembang Kerajaan kecil Malawapati ( kini dusun Melawan desa Kedung Wangi kecamatan Sambeng ) dipimpin Raja Agung Angling darma dibantu Patih Sakti Batik Maadrim termasuk kawasan Bojonegoro kuno. Saat ini masih tersimpan dengan baik, Sumping dan Baju Anglingdarma didusun tersebut. Di sebelah barat berdiri Kerajaan Rajekwesi di dekat kota Bojonegoro sekarang.

Pada waktu Kerajaan Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 -1389) kawasan kanan kiri Bengawan Solo menjadi daerah Pardikan. Merupakan daerah penyangga ekonomi Mojopahit dan jalan menuju pelabuhan Kambang Putih. Wilayah ini disebut Daerah Swatantra Pamotan dibawah kendali Bhre Pamotan atau Sri Baduga Bhrameswara paman Raja Hayam Wuruk ( Petilasan desa Pamotan kecamatan Sambeng ), sebelumnya. Di bawah kendali Bhre Wengker ( Ponorogo ). Daerah swatantra Pamotan meliputi 3 kawasan pemerintahan Akuwu , meliputi Daerah Biluluk (Bluluk) Daerah Tenggulunan (Tenggulun Solokuro) , dan daerah Pepadhangan (Padangan Bojonegoro).

Menurut buku Negara Kertagama telah berdiri pusat pengkaderan para cantrik yang mondok di Wonosrama Budha Syiwa bertempat di Balwa (desa Blawi Karangbinangun) , di Pacira ( Sendang Duwur Paciran), di Klupang (Lopang Kembangbahu) dan di Luwansa ( desa Lawak Ngimbang). Desa Babat kecamatan Babat ditengarahi terjadi perang Bubat, sebab saat itu babat salah satu tempat penyeberangan diantar 42 temapt sepanjang aliran bengawan Solo. Berita ini terdapat dalam Prasasti Biluluk yang tersimpan di Musium Gajah Jakarta, berupa lempengan tembaga serta 39 gurit di Lamongan yang tersebar di Pegunungan Kendeng bagian Timur dan beberapa temapt lainnya.

Menjelang keruntuhan Mojopahit tahun 1478M, Lamongan saat itu dibawah kekuasaaan Keerajaan Sengguruh (Singosari) bergantian dengan Kerajaan Kertosono (Nganjuk) dikenal dengan kawasan Gunung Kendeng Wetan diperintah oleh Demung, bertempat disekitar Candi Budha Syiwa di Mantup. Setelah itu diperintah Rakrian Rangga samapi 1542M ( petilasan di Mushalla KH.M.Mastoer Asnawi kranggan kota Lamongan ). Kekuasaan Mojopahit di bawah kendali Ario Jimbun (Ariajaya) anak Prabu Brawijaya V di Galgahwangi yang berganti Demak Bintoro bergelar Sultan Alam Akbar Al Fatah ( Raden Patah ) 1500 sampai 1518, lalu diganti anaknya, Adipati Unus 1518 sampai 1521 M , Sultan Trenggono 1521 sampai 1546 M.

Dalam mengembangkan ambisinya, sultan Trenggono mengutus Sunan Gunung Jati ( Fatahilah ) ke wilayah barat untuk menaklukkan Banten, Jayakarta, danCirebon. Ke timur langsung dpimpin Sultan sendiri menyerbu Lasem, Tuban dan Surabaya sebelum menyerang Kerajaan Blambangan ( Panarukan). Pada saat menaklukkan Surabaya dan sekitarnya, pemerintahan Rakryan Rangga Kali Segunting ( Lamong ), ditaklukkan sendiri oleh Sultan Trenggono 1541 . Namun tahun 1542 terjadi pertempuran hebat antara pasukan Rakkryan Kali Segunting dibantu Kerajaan sengguruh (Singosari) dan Kerajaan Kertosono Nganjuk dibawah pimpinan Ki Ageng Angsa dan Ki Ageng Panuluh, mampu ditaklukkan pasukan Kesultanan Demak dipimpin Raden Abu Amin, Panji Laras, Panji Liris. Pertempuran sengit terjadi didaerah Bandung, Kalibumbung, Tambakboyo dan sekitarnya.

Tahun 1543M, dimulailah Pemerintahan Islam yang direstui Sunan Giri III, oleh Sultan Trenggono ditunjuklah R.Abu Amin untuk memimpin Karanggan Kali Segunting, yang wilayahnya diapit kali Lamong dan kali Solo. Wilayah utara kali Solo menjadi wilayah Tuban, perdikan Drajat, Sidayu, sedang wilayah selatan kali Lamong masih menjadi wilayah Japanan dan Jombang. Tahun 1556 M R.Abu Amin wafat digantikan oleh R.Hadi yang masih paman Sunan Giri III sebagai Rangga Hadi 1556 -1569M Tepat hari Kamis pahing 10 Dzulhijjah 976H atau bertepatan 26 mei 1569M, Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Lamong bergelar Tumenggung Surajaya ( Soerodjojo) hingga tahun 1607 dan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan kecamatan Lamongan dikenal dengan Makam Mbah Lamong. Tanggal tersebut dipakai sebagai Hari Jadi Lamongan.

Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi daerah garis depan melawan tentara pendudukan Belanda, perencanaan serangan 10 Nopember Surabaya juga dilakukan Bung Tomo dengan mengunjungi dulu Kyai Lamongan dengan pekikan khas pembakar semangat Allahu Akbar. Lamongan yang dulunya daerah miskin dan langganan banjir, berangsur-angsur bangkit menjadi daerah makmur dan menjadi rujukan daerah lain dalam pengentasan banjir. Dulu ada pameo "Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok, nek ketigo gak iso cewok" tapi kini diatasi dengan semboyan dari Sunan Drajat, Derajate para Sunan dan Kyai "Memayu Raharjaning Praja" yang benar benar dilakukan dengan perubahan mendasar, dalam memsejahterahkan rakyatnya masih memegang budaya kebersamaan saling membantu sesuai pesan kanjeng Sunan Drajat "Menehono mangan marang wong kangluwe, menehono paying marang wong kang kudanan , menehono teken marang wong kang wutho, menehono busaono marang wong kang wudho"


Kebudayaan

Pengantin Bekasri

Daerah lamongan memiliki tradisi sendiri dalam melaksankan upacara pernikahan, pernikahan di Lamongan ini disebut pengantin bekasri. berasal dari kata bek dan asri, bek berarti penuh, asri berarti indah/menarik jadi bekasri berarti penuh dengan keindahan yang menarik hati. pada dasarnya tahapan dalam pengentin bekasri dapat dijadikan dalam empat tahap yaitu tahap mencari mantu, tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan, tahap pelaksanaan peresmian pernikahan dan tahap setelah pelaksanaan pernikahan.

ahap mencari mantu terdiri dari beberapa kegiatan yaitu, (1) ndelok/nontok atau madik/golek lancu. (2) nyotok/ganjur atau nembung gunem. (3) nothog/dinten atau negesi. (4) ningseti/lamaran. (5) mbales/totogan. (6) mboyongi. (7) ngethek dina. Tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan meliputi, (1) repotan (2) mbukak gedhek atau mendirikan terop (3) ngaturi atau selamatan. Tahapa pelaksanaan peresmian pernikahan terdiri dari (1) ijab kabul atau akad nikah (2) memberikan tata rias atau busana pengentin (3) upacara temu pengantin (4) resepsi. Tahapan setelah peresmian pernikahan yang merupakan tahapan terakhir adalah sepasaran.

Semua kegiatan masing-masing tahapan ini dapat dilaksanakan secara penuh tetapi juga dapat dilaksanakan kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan disesuaikan dengan situasi kondisi lokal setempat. Pada tahapan pelaksanaan kegiatan, kedua pengantin merupakan pusat perhatian semua tamu yang hadir, pengantin perlu dirias dan diberi busana yang lain dari busana sehari-hari. tata rias dan busana pengantin bekasri memiliki keunikan tersendiri yang pada dasarnya meniru busana raja dan permaisuri atau busana bangsawan. Karena daerah Lamongan pada jaman kerajaan Majapahit merupakan wilayah yang dekat dengan ibukota Majapahit, maka busana yang ditiru dengan sendirinya adalah busana raja dan permaisuri Majapahit.

Tari Turunggo Sulah

Tari ini menggambarkan sekelompok prajurit berkuda yang sedang berlatih. Mereka terlihat sangat lincah. Tari ini merupakan pengembangan dari kesenian Kepang Dor yang bertujuan untuk melestarikan kesenian-kesenian yang masih sangat banyak di Kabupaten Lamongan.

Tari Turonggo Solah juga berasal dari Lamongan. Tari Turonggo dapat ditampilkan dalam bentuk tunggal, berpasangan, atau secara kelompok. Tema yang dipergunakan Tari Turonggo Solah adalah tema pendidikan, yang dilatar belakangi dari Tari Kepang Jidor. Dalam penampilannya, Tari Turonggo Solah memiliki dua gaya, yaitu gaya feminim dan gagah. Penarinya membawa properti kuda-kudaan atau kuda lumping yang terbuat dari bahan bambu.Tari Turonggo Solah berkarasteristik gerakannya lincah dan gagah.

Tarian ini sering disajikan sebagai tari pertunjukkan dengan iringan musik gamelan jawa, akan tetapi yang lebih dominan adalah alat musik jidor. Busana penari memakai gaya Jawa Timuran

Tari Caping Ngancak

Tari ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Lamongan yang sebagian besar adalah masyarakat petani. Tari ini menggambarkan proses para petani yang sedang bekerja mulai dari menanam, merawat, hingga memanen.

Prestasi tari : Fenomenal, itulah kata yang pantas diucapkan terkait prestasi Lamongan beberapa tahun terakhir ini di bidang seni tari. Buktinya, satu lagi tari produk Lamongan, yakni Caping Ngancak berhasil menjadi juara I dalam festival seni tari siswa tingkat nasional di Bandung Kamis (24/7) malam.

Tari Caping Ngancak maju ke bandung mewakili Jawa Timur dan akhirnya mampu menyisihkan kontestan lain dari 33 propinsi se-Indonesia. Sebelum terpilih menjadi juara tari Caping Ngancak masuk lima besar. Diantaranya bersaing dengan Provinsi Banten, Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan selatan.

Dalam pelaksanaan lomba kemarin para siswi SMPN 1 Kembangbahu dihadapkan pada para juri yang berasal dari STSI Bandung, IKJ, dan Departemen Pendidikan nasional (Depdiknas) sebagai pelaksana festival. Acara ini berlangsung 23 dan 24 juli di STSI Bandung, dibuka oleh Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf.

Tari Caping Ngancak menceritakantentang kehidupan dan kegiatan sehari-hari petani. Antara lain, berangkat dari rumah, bertanam padi, hingga panen. Tari ini disusun sekitar April lalu. sebulan setelah diciptakan diikutkan dalam festival budaya Adikara II di malang dan meraih tiga dari lima nominasi disediakan.

Tari Silir – Silir

Satu lagi seni tari asal Lamongan mempersembahkan prestasi membanggakan, setelah tari nasi boranan berhasil menjadi juara umum lomba seni tari se-Jawa Timur, tari Silir-silir kembali mengangkat nama Lamongan dalam bidang seni tari setelah tarian yang dibawakan siswi SMPN 1 Tikung dinilai sebagai yang terbaik se-Jawa Timur.

Seperti namanya tari silir-silir merupakan rangkaian perwujudan angin yang bertiup lembut. Angin tersebut berasal dari lambaian lembut kipas para penarinya. Oleh sebab itu tari silir-silir diperagakan oleh penari dengan membawa kipas.

Tarian silir-silir diciptakan oleh Tri Kristiani seorang guru di SMPN 1 Tikung, ia mengaku menyelesaikan rangkaian gerakan tari tersebut selama sebulan. Kemudian ia mengajarkannya kepada para siswinya, yang kemudian diputuskan untuk tampil di festival seni tari tingkat Jawa Timur.

Mengenai ide penciptaan tarian silir-silir itu, Tri Kristiani mengatakan, ide seni tari tersebut muncul dari kondisi alam Lamongan yang panas sering membuat kegerahan. Karena itu, baik yang dirumah, di sekolah, atau di pasar sekalipun orang sering kipas-kipas karena kepanasan. Sedangkan selama proses penciptaan beberapa masukan dari rekan Tri Kristiani juga membuat rangkaian seni tari ini semakin bagus. Selain itu ia juga berkoordinasi dengan penata busana Ninin dan penata musik Purnomo, sehingga terciptalah seni tari silir-silir yang akhirnya menjadi yang terbaik se-Jatim.

Tari Silir-Silir diangkat dari sebuah kondisi alam Kota Lamongan yang panas. Para remaja berkumpul, bercanda ria sambil menikmati tiupan angin yang berasal dari kipas yang dibawanya.

Tari Sinau

Tari ini menceritakan sekelompok anak yang sedang menimba ilmu agama Islam, atau biasa disebut mengaji. Mereka berbondong bondong untuk mempelajari agama Islam, yang merupakanb tradisi masyarakat Lamongan untuk menimba ilmu agama sejak dini.

Sego Boran

Tari BORAN (Sego Boran) adalah penggambaran suasana kehidupan para penjual Nasi Boran di Kabupaten Lamongan dalam menjajakan dagangannya dan berinteraksi dengan pembeli. Kesabaran, gairah, dan semangat serta ketangguhan adalah smangat mereka dalam menghadapi ketatnya persaingan dan beratnya tantangan hidup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Iwak kutuk, sambel, sili, plethuk, peyek, gimbal, empuk adalah ciri khasku, Nasi Boran khas Lamongan.

Tari Mayang Madu

Tari ini menceritakan tentang perjalanan Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Penyebarannya melalui kesenian, salah satunya dengan musik. Musik yang dipakai adalah Singo Mengkok. Tari mayang Madu berasal dari daerah Lamongan. Tari ini biasa ditampilkan dalam bentuk tari tunggal, tari kelompok, maupun tari massal.

Tari Mayang Madu mempunyai konsep islami dan tradisional, karena Tari Mayang Madu diilhami dari kegigihan syiar agama islam di Lamongan yang disebarkan oleh Sunan Drajat dengan cara menggunakan gamelan sebagai medianya. Gamelan Sunan Drajat terkenal dengan sebutan gamelan "Singo Mengkok". Latar belakang Sunan Drajat menggunakan media seni karena pada saat itu masyarakat banyak yang masih memeluk agama Hindu, Budha dan pengaruh dari kerajaan Majapahit.

Nama tari Mayang Madu diambil dari sejarahnya Raden Qosim yang memimpin dan memberi teladan yang baik untuk kehidupan di Desa Drajat Paciran. Lalu Sultan Demak ( Raden Patah ) memberi gelar kepada Raden Qosim yaitu "Sunan Mayang Madu" pada tahun 1484 Masehi. Untuk mengenag jasa perjuangan Sunan Mayang Madu ( Raden qosim ), maka tarian khas Lamongan disebut dengan Tari Mayang Madu, agar masyarakat Lamongan tergugah hatingya untuk tetap meneruskan perjuangan Sunan Mayang Madu dalam menyebarkan agama islam.

Tari Kiprah Bahlun

Tari ini merupakan tari pembuka dalam kegiatan kesenian tayub khas Lamongan. Tari ini menceritakan tentang ucapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Potensi Daerah

Kerajinan daur ulang bahan alami

Belakangan ini produsen tas dan alas kaki di Lamongan mulai berinovasi memanfaatkan bahan baku dari alam seperti eceng gondok kering, daun pandan kering, pelepah pisang, batok kelapa, sapu lidi, rotan, mendong, hingga karung goni bekas yang sudah tidak terpakai menjadi produk kreatif yang sangat cantik. Potensi alam yang didapatkan dari daerah Lamongan dan sekitarnya ini banyak diproduksi menjadi aneka macam tas wanita, dompet, sepatu, serta sandal dengan model yang beragam. Keunikan produk daur ulang tersebut kini telah tersebar hampir ke seluruh daerah dan berhasil menembus pasar ekspor hingga negara Singapura, Malaysia, Hongkong, Timur Tengah, dan kawasan Eropa.tikar lipat 193x200 Potensi Unggulan Daerah Kabupaten Lamongan

Tikar gulung Lamongan

Selain kreasi kerajinan daur ulang, Lamongan juga dikenal sebagai sentra tikar gulung terbesar di Indonesia. Industri ini sudah dikenal secara turun temurun dan berhasil merambah negara tetangga seperti Malaysia, Taiwan, hingga beberapa negara di Timur Tengah. Kreasi tikar gulung ini dibuat dengan cara ditenun menggunakan bahan tali rafia dengan benang polipropilena dan benang klasik, serta diinovasikan menjadi produk alas duduk yang multifungsi (bisa digulung ketika dibawa). Tidaklah heran bila kreasi tikar gulung ini berhasil menarik perhatian konsumen lokal, nasional, bahkan hingga internasional.

Kerajinan gerabah Kaliotik

Potensi lainnya yang mulai mendunia yaitu kerajinan gerabah Desa Kaliotik, Kecamatan Lamongan kota. Dengan mempertahankan bahan baku serta bentuk yang masih tradisional, para pengrajin mulai menciptakan motif modern untuk meningkatkan nilai seni yang dihasilkan. Biasanya, pembuatan gerabah Kaliotik dilakukan menggunakan cetakan, kemudian dikeringkan, dan dibakar. Harga jual yang ditawarkan para pengrajin berkisar Rp 4.000,00 hingga Rp 500.000,00 per pcs, tergantung ukuran dan bentuknya. Sekarang ini kerajinan gerabah Kaliotik telah merambah pasar nasional seperti Jakarta dan Bali, serta menembus pasar internasional meliputi kawasan Eropa.

Sentra kerajinan kain tenun ikat

Lamongan merupakan salah satu daerah sentra kerajinan kain tenun ikat yang kualitasnya tidak hanya memikat konsumen lokal namun juga diminati pasar internasional. Beberapa sentra kerajinan tenun yang bisa dijumpai di Lamongan terdapat di Kecamatan Meduran, Lamongan (kota), atau lebih tepatnya di Desa Parengan. Kain tenun ikat Lamongan ini memiliki ciri khas khusus yaitu lebih cenderung menggunakan warna-warna soft dan natural, seperti misalnya biru, merah, hitam, dan putih. Sedangkan motif yang sering dibuat biasanya berbentuk gunung (segitig






Wilayah Kabupaten Lamongan


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Lamongan


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Lamongan


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Lamongan








Sumber :

http://www.lamongankab.go.id

http://bisnisukm.com/

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox