Kabupaten Lampung Selatan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Lampung Selatan merupakan satu dari 14 kabupaten di Propinsi Lampung, dengan letak paling selatan di Pulau Sumatera. Memiliki Pelabuhan Bakauheni, menjadikan Lampung Selatan sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera. Jarak antara pelabuhan Bakauheni (Lampung Selatan) dengan Pelabuhan Merak (Propinsi Banten) kurang lebih 30 kilometer, dengan waktu tempuh kapal penyeberangan sekitar 1,5 jam.

Luas wilayah daratan mencapai 2.007,01 km2 (sumber : Bagian Otonomi Daerah Kabupaten Lampung Selatan), dengan Kantor Pemerintahan berpusat di Kota Kalianda. Terdiri dari 17 Kecamatan, 248 desa dan 3 kelurahan. Sebanyak 38 desa merupakan wilayah pesisir, selebihnya 84,8 persen desa tidak berbatasan secara langsung dengan laut.

Batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan sebagai berikut:

Sebelah Utara  : Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur

Sebelah Selatan  : Selat Sunda

Sebelah Barat  : Kabupaten Pesawaran

Sebelah Timur  : Laut Jawa

Lampung Selatan memiliki 42 pulau-pulau yang tersebar di 4 kecamatan yakni kecamatan Katibung, Rajabasa, Ketapang dan Bakauheni (sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan). Pulau Anak Krakatau merupakan salah satu pulau di Lampung Selatan yang menjadi obyek wisata terkenal sampai ke mancanegara. Selain itu, wilayah Lampung Selatan memiliki Gunung Rajabasa (ketinggian 1.280 m) dan beberapa sungai penting, antara lain Way Sekampung, Way Ketibung dan Way Pisang.

Jumlah penduduk pada tahun 2009 mencapai 943.885 jiwa


Sejarah

Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar pokok Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar tersebut, pada bab VI pasal 18 disebutkan bahwa pembagian Daerah di Indonesia atas Daerah Besar dan Kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang serta memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam Sistem Pemerintahan Negara dan Hak-hak Asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat istimewa.

Sebagai realisasi dari pasal 18 Undang-undang Dasar 1945, lahirlah Undang- undang Nomor 1 tahun 1945. Undang-undang ini mengatur tentang Kedudukan Komite Nasional Daerah, yang pada hekekatnya adalah Undang-undang Pemerintah di Daerah yang pertama. Isinya antara lain mengembalikan kekuasaan Pemerintahan di Daerah kepada aparatur berwenang yaitu Pamong Praja dan Polisi. Selain itu, untuk menegakkan Pemerintahan di Daerah yang rasional dengan mengikut sertakan wakil-wakil rakyat atas dasar kedaulatan rakyat.

Selanjutnya disusul dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948 tentang Pembentukan Daerah Otonom dalam wilayah Republik Indonesia yang susunan tingkatannya sebagai berikut:

1. Propinsi Daerah Tingkat I

2. Kabupaten/Kotamadya (Kota Besar) Daerah Tingkat II

3. Desa (Kota Kecil) Daerah Tingkat III.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948, maka lahirlah Propinsi Sumatera Selatan dengan Perpu Nomor 3 tanggal 14 Agustus 1950, yang dituangkan dalam Perda Sumatera Selatan Nomor 6 tahun 1950. Bedasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 1950 tentang Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Pemerintah untuk Daerah Propinsi, Kabupaten, Kota Besar dan Kota Kecil, maka keluarlah Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Selatan Nomor 6 tahun 1950 tentang Pembentukan DPRD Kabupaten di seluruh Propinsi Sumatera Selatan.

Perkembangan selanjutnya, guna lebih terarahnya pemberian otonomi kepada Daerah bawahannya, diatur selanjutnya dengan Undang-undang Darurat Nomor 4 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Selatan sebanyak 14 Kabupaten, diantaranya Kabupaten Lampung Selatan beserta DPRD-nya dan 7 (tujuh) buah Dinas otonom. Untuk penyempurnaan lebih lanjut tentang struktur Pemerintahan Kabupaten, lahirlah Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 yang tidak jauh berbeda dengan Undang-undang nomor 22 tahun 1948. Hanya dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1957 dikenal dengan sistem otonomi riil yaitu pemberian otonomi termasuk medebewind.

Kemudian untuk lebih sempurnanya sistem Pemerintahan Daerah, lahirlah Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah yang mencakup semua unsur-unsur progresif daripada:

1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1945

2. Undang-undang Nomor 22 tahun 1948

3. Undang-undang Nomor 1 tahun 1957

4. Penpres Nomor 6 tahun 1959

5. Penpres Nomor 5 tahun 1960.

Selanjutnya, karena Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 dimaksud sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman, maka Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 ditinjau kembali. Sebagai penyempurnaan, lahirlah Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, yang sifatnya lebih luas dari Undang-undang Nomor 18 tahun 1965. Undang-undang ini tidak hanya mengatur tentang Pemerintahan saja, tetapi lebih luas dari itu, termasuk dinas-dinas vertikal (aparat pusat di daerah) yang diatur pula di dalamnya.

Selain itu, Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 diperkuat dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian disempurnakan oleh Undang-undang Nomor 32 tahun 2008. Undang-undang yang terakhir ini lebih jelas dan tegas menyatakan bahwa prinsip yang dipakai bukan lagi otonomi riil dan seluas-luasnya, tetapi otonomi nyata dan bertanggung jawab serta bertujuan pemberian otonomi kepada daerah untuk meningkatkan pembinaan kestabilan politik dan kesatuan bangsa.


Kebudayaan

Berdasarkan data yang ada penduduk Kabupaten Lampung Selatan secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu penduduk asli Lampung dan penduduk pendatang. Penduduk asli khususnya sub suku Lampung Peminggir umumnya berkediaman di sepanjang pesisir pantai. Penduduk sub suku lainnya tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Penduduk pendatang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Selatan terdiri dari bermacam-macam suku dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Dari semua suku pendatang tersebut jumlah terbesar adalah pendatang dari Pulau Jawa. Besarnya penduduk yang berasal dari Pulau Jawa dimungkinkan oleh adanya kolonisasi pada zaman penjajahan Belanda dan dilanjutkan dengan transmigrasi pada masa setelah kemerdekaan, disamping perpindahan penduduk secara swakarsa dan spontan. Beragamnya etnis penduduk di Kabupaten Lampung Selatan mungkin juga disebabkan karena Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar adalah wilayah pantai sehingga banyak nelayan yang bersandar dan menetap. Para nelayan ini pada umumnya mendiami wilayah pantai timur dan selatan, yang sebagian besar berasal dari pesisir selatan Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan. Dengan beragamnya etnis penduduk yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Selatan, maka beragam pula adat dan kebiasaan masyarakatnya sesuai dengan asal daerahnya. Adat kebiasaan penduduk asli yang saat ini masih sering terlihat adalah pada acara-acara pernikahan. Penduduk Kabupaten Lampung Selatan dalam bentuknya yang asli memiliki struktur hukum adat tersendiri. Hukum adat tersebut berbeda antara yang satu dengan lainnya. Secara umum penduduk asli Lampung yang terdapat di Kabupaten Lampung Selatan dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu masyarakat Lampung Peminggir yang merupakan mayoritas suku Lampung di Kabupaten Lampung Selatan dan kelompok kedua yaitu masyarakat Lampung Pepadun.


Potensi

Peternakan

Sektor peternakan terus berkembang di Lampung Selatan. Saat ini ada 82.624 ekor sapi, 11.971 ekor kerbau, 10.972 ekor babi, 6.565.466 ekor ayam buras, 907.274 ekor ayam petelur, 25.666.567 ekor ayam pedaging dan 264.029 ekor itik. Produksi daging sapi, kerbau, kambing, ayam dan babi meningkat dari tahun 2003-2004. produksi terbanyak adalah daging ayam, yakni 10.243,92 ton per tahun. Begitu juga dengan telur ayam buras dari 2.027,57 ton per tahun menjadi 2.390,50 ton per tahun.

Pertanian

Potensi produksi pertanian tanaman pangan di Kabupaten Lampung Selatan meliputi padi, jagung, singkong, ubi jalar, kedelai, sayur-mayur dan lainnya. Padi dan jagung merupakan komoditas yang dibudidayakan dengan lahan paling luas. Produksi padi sebagian besar dari lahan sawah beririgasi teknis, yang tersebar di sepuluh kecamatan. Wilayah yang paling luas areal sawahnya adalah Kecamatan Palas, Candipuro dan Sidomulyo. Di wilayah tersebut terdapat irigasi teknis Rawasragi.

Perkebunan

Tanaman perkebunan yang paling banyak berproduksi di Kabupaten Lampung Selatan adalah kelapa dalam, yakni mencapai 44.037 ton per tahun dari 44.598 ha lahan kelapa. Sedangkan produktivitas terbesar ada pada komoditi kencur, yakni 11.22l kg/ha per tahun.

Perikanan

Di Lampung Selatan ada 203 unit kelompok usaha yang memproduksi ikan asin sebanyak 2.432,36 ton per tahun, 91 unit kelompok usaa memproduksi 1.249,26 ton teri rebus per tahun. Sedangkan produksi ikan olahan lainnya, ada 648,55 to per tahun oleh 156 unit kelompok usaha.

Kehutanan

Sebagian besar wilayah administratif Kabupaten Lampung Barat adalah kawasan hutan (57,154% dari luas Kabupaten Lampung Barat), sedangkan sisanya adalah kawasan yang dapat diusahakan menjadi kawasan budidaya pertanian, perikanan, perkebunan, dan juga permukiman penduduk, sarana umum, perkotaan dan sebagainya.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 256/KPTS-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000, luas hutan Kabupaten Lampung Barat adalah 380.092,37 Ha (76,78 %) dari luas wilayah Lampung Barat, sedangkan sisanya sebesar 114,948 Ha (23,22 %) adalah kawasan yang dapat diusahakan menjadi kawasan budidaya pertanian, perkebunan, perikanan, permukiman penduduk, sarana umum dan sebagainya


Vegetasi yang terhimpun dan mengisi deretan Bukit Barisan, antara lain :

Hutan Dataran Rendah

1. Formasi hutan pantai di samping semenanjung selatan Taman Nasional Bukit Barisan, di pantai barat yang terendah pada ketinggian 0 - 2 meter dpl, dengan jenis vegetasi : Terminalia, Ahesbiskus Sp, Barbaringtonia, Calophylum, Casuarina Sp, Pandanus Sp, dan Ficus Sp.

2. Formasi dataran rendah, terletak di semenanjung selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan ketinggian 0 - 500 meter dpl.

3. Formasi Hutan Hujan Bawah, terletak di sebelah Danau Ranau bagian barat dan selatan, berada pada ketinggian 500 - 1000 meter dpl.

Hutan Hujan Tengah

Tipe Hutan ini terletak di daerah Sekincau di tengah pegunungan sebelah utara pada ketinggian 1.000 - 1.500 meter dpl. Jenis vegetasinya dari famili Dipterocarpaceae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Fagaceae. Selain itu terdapat juga padang rumput dengan jenis Gajah. Usaha-usaha di areal hutan produksi terbatas dan dapat dikonversi, berupa penebangan kayu, pengambilan getah damar, daun, akar dan kulit kayu, bambu, madu hutan dan rotan. Saat ini Dinas Kehutanan Lampung Barat tengah mengembangkan budidaya lebah madu dan ulat sutera, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Produk hasil hutan non kayu yang telah dikembangkan oleh masyarakat secara turun temurun adalah getah Damar Mata Kucing. Damar mata kucing di Kabupaten Lampung Barat sudah terkenal kualitasnya dan merupakan komoditas andalan Kabupaten Lampung Barat.

Sentra-sentra produksi damar mata kucing di Kabupaten Lampung Barat terdapat di Kecamatan Pesisir Utara, Pesisir Tengah dan Pesisir Selatan dengan rata-rata produksi 4.435,2 ton/tahun, namun sampai saat ini belum ada investor yang mengelola getah damar mata kucing tersebut. Hasil-hasil hutan ikutan lainnya (non kayu) yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan adalah sumber mata air sebagai bahan baku air mineral.

Pariwisata

Potensi pariwisata sangat erat hubungannya dengan potensi budaya alam dan budaya sebagai obyek dan daya tarik wisata alam dan budaya yang dapat di andalkan baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang.

Wisata Bahari

Potensi wisata bahari seperti wisat pantai, pemancingan laut, selancar air dan snorkeling. Sentra wiata bahari terdapat di kecamatan Pesisir Utara, Pesisir Tengah dan Pesisir Selatan, antara lain Pantai Labuhan Jukung, Pantai Tanjung Setia, Pantai Way Jambu,

Wisata Alam

Kondisi alam yang indah dan unik terbesar hampir disemua kecamatan, diantaranya antara lain: Wisata Buru, Danau Ranau, Danau Suoh, Wisata ala mini, Gunung Pesagi, Arung Jeram, Kebun Damar.

Wisata Budaya

Pesta Sakura

Pesta adat ini rutin dilaksanakan untuk merayakan hari raya Idul Fitri, selain sebagai sarana hiburan acara ini juga sebagai ajang mencari jodoh untuk para muda-mudi. Pesta sakura ini di pusatkan di kenali ( + 20 km dari Liwa).

Nabuh Kelukup

Kebiasaan menabuh (memukul) kelukup (kentongan raksasa) ini di lakukan pada setiap bulan puasa sebagai tanda waktu masuk sahur, suara kelukup yang cukup besar ini dapat terdengar hingga jarak 10 km, masyarakat yang sering menabuh kelukup ini berdomisili di daerah sekitar kec. Balik Bukit dan kec. Belalau.


Festival teluk Stabas

Event ini di lakukan rutin menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat. Di dalam event Teluk Stabas ini di adakan perlombaan budaya dan olahraga antara lain: Kebut Pesagi, Kebut Jukung, (sampan), Pawai Budaya, Arung Jeram, dan lomba tarian adat tradisionil.



Wilayah Kabupaten Lampung Selatan


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Lampung Selatan


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Lampung Selatan


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Lampung Selatan




Sumber : http://www.lampungselatankab.go.id http://lampungselatankab.bps.go.id http://www.kemendagri.go.id http://potensidaerah.ugm.ac.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox