Kabupaten Ngawi

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Ngawi terletak di wilayah barat Propinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km2, di mana sekitar 40 persen atau sekitar 506,6 km2 berupa lahan sawah. Secara administrasi wilayah ini terbagi ke dalam 17 kecamatan dan 217 desa, dimana 4 dari 217 desa tersebut adalah kelurahan. Pada tahun 2004 berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) wilayah Kabupaten Ngawi terbagi ke dalam 19 kecamatan, namun karena prasaranan administrasi di kedua kecamatan baru belum terbentuk maka dalam publikasi ini masih menggunakan Perda yang lama. Secara geografis Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7o21’-7o31’ Lintang Selatan dan 110o10’-111o40’ Bujur Timur.

Topografi wilayah ini adalah berupa dataran tinggi dan tanah datar. Tercatat 4 kecamatan terletak pada dataran tinggi yaitu Sine, Ngrambe, Jogorogo dan Kendal yang terletak di kaki Gunung Lawu. Batas wilayah Kabupaten Ngawi adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara  : Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora (Propinsi Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro.

Sebelah Timur  : Kabupaten Madiun.

Sebelah Selatan  : Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan.

Sebelah Barat  : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen (Propinsi Jawa Tengah).



Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Ngawi akhir tahun 2011 adalah 911.911 jiwa, terdiri dari 448.424 penduduk laki-laki dan 463.487 penduduk perempuan, dengan sex ratio sebesar 96 artinya bahwa setiap 100 penduduk wanita terdapat sekitar 96 penduduk laki-laki. Dibandingkan dengan tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Ngawi bertambah sebesar 17.236 jiwa atau meningkat sebesar 1,92 persen. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar adalah Paron dengan 88.510 jiwa, sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil adalah Kasreman yaitu 24.545 jiwa.

Kepadatan penduduk menunjukkan rasio antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Tingkat kepadatan penduduk Kab. Ngawi tahun 2011 adalah 704 jiwa/km2, naik sekitar 14 jiwa untuk setiap kilometer persegi dari tahun sebelumnya. Tingkat kepadatan per kecamatan tertinggi adalah Ngawi (1.199 jiwa/km2) dan tingkat kepadatan terendah adalah Kecamatan Karanganyar (230 jiwa/km2). Jumlah kelahiran selama tahun 2011 adalah 8.015 jiwa, terdiri dari 4.002 bayi laki-laki dan 4.013 bayi perempuan. Jika dibandingkan dengan tahun 2010 terjadi penurunan hingga 2,49 persen. Jumlah kematian pada tahun 2011 tercatat sebesar 4.270 jiwa, yang terdiri dari 2.239 penduduk laki-laki dan 2.031 penduduk perempuan jika dibandingkan dengan tahun 2010 naik 3,19 persen.



Sejarah

Asal Usul Nama Ngawi

Ngawi berasal dari kata “AWI” yang artinya bambu yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “Ng” menjadi “NGAWI” . Seperti halnya dengan nama-nama di daerah-daerah lain yang banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang di kaitkan dengan nama tumbuh-tumbuhan. Seperti Ngawi menunjukkan suatu tempat yang di sekitar pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi bambu.


Sejarah Hari Jadi Ngawi

Penelusuran Hari jadi Ngawi dimulai dari tahun 1975, dengan dikeluarkannya SK Bupati KDH Tk. II Ngawi Nomor Sek. 13/7/Drh, tanggal 27 Oktober 1975 dan nomor Sek 13/3/Drh, tanggal 21 April 1976. Ketua Panitia Penelitian atau penelusuran yang di ketuai oleh DPRD Kabupaten Dati Ii Ngawi. Dalam penelitian banyak ditemui kesulitan-kesulitan terutamanarasumber atau para tokoh-tokoh masayarakat, namun mereka tetap melakukan penelitian lewat sejarah, peninggalalan purbakala dan dokumen-dokumen kuno.

Didalam kegiatan penelusuran tersebut dengan melalui proses sesuai dengan hasil sebagai berikut ;

• Pada tanggal 31 Agustus 1830, pernah ditetapkan sebagai Hari Jadi Ngawi dengna Surat Keputusan DPRD Kabupoaten Dati II Ngawi tanggal 31 Maret 1978, Nomor Sek. 13/25/DPRD, yaitu berkaitan dengan ditetapkan Ngawi sebagai Order Regentschap oleh Pemerintah Hindia Belanda.

• Pada tanggal 30 September 1983, dengan Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Ngawi nomor 188.170/2/1983, ketetapan diatas diralat dengan alas an bahwa tanggal 31 Agustus 1830 sebagai Hari Jadi Ngawi dianggap kurang Nasionalis, pada tanggal dan bulan tersebut justru dianggap memperingati kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda.

• Menyadari hal tersebut Pada tanggal 13 Desember 1983 dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Ngawi nomor 143 tahun 1983, dibentuk Panitia/Tim Penelusuran dan penulisan Sejarah Ngawi yang diktuai oleh Drs. Bapak MOESTOFA.

• Pada tanggal 14 Oktober di sarangan telah melaksanakan simposium membahas Hari Jadi Ngawi oleh Bapak MM.Soekarto


K, Atmodjo dan Bapak MM. Soehardjo Hatmosoeprobo dengan hasil symposium tersebut menetapkan ;

• Menerima hasil penelusuran Bapak Soehardjo Hatmosoeprobo tentang Piagam Sultan Hamengku Buwono tanggal 2 Jumadilawal 1756 Aj, selanjutkan menetapkan bahwa pada tanggal 10 Nopember 1828 M, Ngawi ditetapkan sebagai daerah Narawita (pelungguh) Bupati Wedono Monco Negoro Wetan. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari perjalanan Sejarah Ngawi pada jaman kekuasaan Sultan Hamengku Buwono.

• Menerima hasil penelitian Bapak MM. Soekarto K. Atmodjo tentang Prasasti Canggu tahun 1280 Saka pada masa pemerintahan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk. Selanjutmya menetapkan bahwa pada tanggal 7 Juli 1358 M, Ngawi ditetapkan sebagai Naditirapradesa (daerah penambangan) dan daerah swatantra. Peristiwa tersebut merupakan Hari Jadi Ngawi sepanjang belum diketahui data baru yang lebih tua.

• Melalui Surat Keputusan nomor : 188.70/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 DPRD Kabupaten Dati II Ngawi telah menyetujui tentang penetapan Hari Jadi Ngawi yaitu pada tanggal 7 Juli 1358 M. Dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Ngawi No. 04 Tahun 1987 pada tanggal 14 Januari 1987. Namun Demikian tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penelusuran lebih lanjut serta menerima masukan yang berkaitan dengan sejarah Ngawi sebagai penyempurnaan di kemudian hari.



Seni dan Budaya

Tari Pentul Melikan

Tarian ini ditarikan dengan memakai topeng kayu yang melambangkan watak manusia yang berbeda-beda namun tetap bersatu dalam kerja. Topeng ini dipengaruhi Jaman Kerajaan Kediri dan masa kini. Iringan gamelan sedikit mendapat pengaruh Reog Ponorogo.

Tari ini digarap atau diciptakan pada tahun 1952 oleh Bapak Munajah di Desa Melikan Kelurahan Tempuran, Kecamatan Paron, Kebudayaan Ngawi. Diciptakan untuk menghibur masyarakat setelah membangun sekolah desa itu. Perkembangan selanjutnya pementasan diadakan untuk memperingati hari-hari besar nasional dan hari besar Islam oleh penduduk setempat. Gerak-gerak tarian melambangkan menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan ini menumbuhkan ketentraman dan kedamaian. Digambarkan dalam bentuk berbaris seperti prajurit dan setengah lingkaran.

Tari Orek Orek

Ngawi sejak tahun 1980 an terkenal sebagai Bumi Orek Orek. Sebutan ini tidak lepas dari adanya Tari Orek Orek yang tumbuh subur dan berkembang dimasyarakat luas. Hampir disetiap acara baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat sendiri, tari ini selalu dipentaskan. Tari Orek–orek merupakan tarian dengan gerak dinamis dengan pemain terdiri dari pria, wanita berpasangan. Menggambarkan muda mudi masyarakat desa yang sehabis kerja berat gotong royong, melakukan tarian gembira ria untuk melepaskan lelah.

Tari Bedoyo Srigati

Tari Bedoyo Srigati ini adalah tarian sakral yang biasanya menjadi tarian upacara adat pada waktu Ganti Langse di obyek wisata spiritual Pesanggrahan Srigati . Tarian Ini ditarikan oleh paling sedikit 10 penari yang semua harus masih gadis. Saat ini Tari Budoyo Srigati juga biasa ditampilkan pada saat ada jamuan tamu yang berkunjung di Ngawi. Ditarikan oleh para gadis cantik dengan pakaian tradisional yang indah dan gerak yang lembut, Budoyo Srigati sangat menarik untuk ditonton.

Keduk Bedji

Upacara Keduk Bedji merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu. Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran. Karena di sumber inilah letak kehidupan penduduk Tawun. Menurut masyarakat sekitar, Keduk Bedji harus dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon setelah panen di bulan Oktober. Inti dari ritual ini, terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.

Ritual ini berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh pemuda desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan penyilepan kendi ke dalam pusat sumber. Setelah itu, penyiraman air legen ke dalam sumber Beji dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber. Selama penyeberangan sesaji, para pemuda yang berada di sekitar sumber Beji berjoged dan melakukan ritual saling gepuk (pukul) dengan diringi gending Jawa. Ritual tahunan ini diakhiri dengan makan bersama Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk "ngalub" (meraih) berkah. Warga saling berebut makanan yang dipercaya bisa mendatangkan berkah dan keberuntungan bagi kehidupannya kelak.

Batik Khas Ngawi

Batik merupakan salah satu warisan dari kebudayaan asli Indonesia Dewasa ini. Pemerintah baru-baru ini giat mengkampanyekan memakai pakaian batik sebagai identitas nasional. Salah satu industri rumah tangga yang sedang berkembang di dua Kecamatan yaitu di Desa Munggut Kecamatan Padas dan Desa Banyu Biru kecamatan Ngrambe.Batik motif Ngawi ini dibuat dengan teknologi batik tulis. Dengan mengusung ciri khas Ngawi, yaitu padi, bambu dan manusia purba (palu purba), kain ini didesain dengan sangat teliti. Efek rentesan pada setiap konturnya membuat proses batik tulis ini cukup lama. Oleh karena itu kain batik tulis ini dijual dengan harga yang pantas



Potensi Daerah

Pertanian

Tanaman Bahan Makanan, data pertanian tanaman bahan makanan meliputi luas panen, produksi, produktivitas dari tanaman padi, palawija, dan kacang-kacangan.

Luas lahan pertanian tahun 2011 mencapai 56 persen dari luas wilayah Kabupaten Ngawi. Hal ini menggambarkan sektor pertanian merupakan sektor andalan bagi penduduk Ngawi. Produksi padi mengalami penurunan dari 697.501 ton tahun 2010 menjadi 572.984 ton tahun 2011 yang berarti mengalami penurunan 17,85 persen. Penurunan produksi padi terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Perkebunan

Perkebunan menyajikan data luas areal tanaman perkebunan, produksi dan rata-rata harga tanaman perkebunan berdasarkan jenis perkebunan.

Perkebunan di Kabupaten Ngawi meliputi perkebunan kelapa, tebu, coklat dll. Perkebunan tebu merupakan perkebunan yang memiliki area terbesar di Kab. Ngawi sebesar 5.959,5 ha. Produksi tahun 2011 naik 114.947 kwintal atau naik 35,79 persen. Diharapkan produksi tebu naik dari tahun ke tahun sehingga dapat mendorong kenaikan produksi gula.


Peternakan

Peternakan menyajikan data populasi ternak besar dan kecil, populasi unggas, produksi daging, telur dan rata-rata harga produksi ternak dan unggas.

Usaha ternak besar dan kecil di Kab. Ngawi terdiri dari antara lain sapi, kerbau, kambing, domba, sedangkan jenis unggas yang di ternak antara lain ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging dll. Pada tahun 2011, jumlah seluruh hewan ternak naik dibanding tahun 2010 kecuali kerbau yang mengalami penurunan jumlah ternak sebesar 50 ekor atau 2 persen.


Kehutanan

Hutan rakyat adalah hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat; meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan Negara.

Kabupaten Ngawi merupakan penghasil kayu jati terbesar di Jawa Timur. Luas areal tanaman hutan rakyat pada tahun 2011 sebesar 300 Ha. Jenis kayu yang diproduksi dari hutan rakyat yaitu jati, mahoni, akasia, sono, pinus, eucalyptus dll.

Pada tahun 2011 produksi kayu jati sebesar 1.863,29 M3, berdasarkan Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ngawi sedangkan berdasarkan KPH Ngawi yaitu sebesar 14.655,5 M3. Luas areal hutan dilihat dari tataguna hutan, hutan produksi merupakan hutan terluas dengan luas 32.009,30 Ha.


Perikanan

Perikanan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari pra produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.

Perikanan Darat di Kabupaten Ngawi memilki luas 1.381.895 Ha dengan produksi 1.690.308 Kg. Kecamatan Bringin sebagai penyumbang produksi ikan terbesar yaitu 12,91 persen dari total produksi kabupaten Ngawi. Jenis ikan yang dikembangbiakan di kabupaten Ngawi yaitu Lele, Patin, Gurami, Mujair dll. Perkembangan produksi ikan dari tahun 2009 hingga 2011 naik terus. Pemerintah Kabupaten Ngawi juga menggalakkan penduduk Ngawi untuk mengkonsumsi ikan dengan acara “GEMAR IKAN”.


Perindustrian

Sektor industri di Kab. Ngawi berjalan lambat namun terus meningkat. Jumlah industri kecil/kerajinan rumah-tangga naik dari 15.643 pada tahun 2010 menjadi 15.970 pada tahun 2011. Nilai produksi dari usaha di atas juga meningkat dari 121,824 milyar rupiah pada tahun 2010 menjadi 133,646 milyar rupiah pada tahun 2011.

Sektor industri Kecil/Kerajinan rumahtangga menyerap tenaga kerja 39.849 pada tahun 2011 meningkat 1,44 persen dibanding tahun 2010. Industri barang dari kayu dan sejenisnya sebagai subsektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 20.592 pekerja.

Wilayah Kabupaten Ngawi


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Ngawi


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Ngawi


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Ngawi





Sumber :

http://www.ngawikab.go.id

http://ngawikab.bps.go.id

ngawitourism.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox