Kabupaten Ogan Ilir

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Ogan Ilir memiliki luas wilayah 2.666,07 km2, secara geografis terletak diantara 30 02' sampai 30 48' Lintang Selatandan diantara 1040 20' sampai 1040 48' Bujur Timur. Kabupaten Ogan Ilir dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut :

• Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim

• Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu

• Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten OKI dan OKU Timur

• Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kota Prabumulih

Wilayah bagian utara Kabupaten Ogan Ilir merupakan hamparan dataran rendah berawa yang sangat luas mulai dari Kecamatan Pemulutan, Pemulutan Barat, Pemulutan Selatan, sampai Indralaya Selatan. sedangkan Kecamatan Tanjung Batu, Payaraman, Lubuk Keliat, Rambang Kuang dan wilayah Kecamatan Muara Kuang merupakandaratan yang bertofografi datar sampai bergelombang dengan ketinggian sampai 14 meter dari permukaan air laut. Wilayah daratan Kabupaten Ogan Ilir mencapai 65 % serta wilayah berair dan rawa-rawa sekitar 35 %. Derajat keasaman tanah berkisar antara pH 4,0 sampai pH 6,0.

Kabupaten Ogan Ilir dialiri oleh satu sungai besar yaitu sungai Ogan yang mengalir mulai dari Kecamatan Muara Kuang, Lubuk Keliat, Rantau Alai, Kandis, Sungai Pinang, Tanjung Raja, Rantau Panjang, Indralaya, Pemulutan Selatan, Pemulutan Barat dan Pemulutan yang bermuara di Sungai Musi Kertapati Kota Palembang. Sedangkan sungai kecil antara lain sungai Kelekar, sungai Rambang, sungai Kuang, sungai Randu, sungai Kandis, sungai Kumbang yang bermuara di Sungai Ogan, dan sungai Keramasan yang bermuara di Sungai Musi Palembang. Danau yang ada berupa Danau Lebung Karangan yang terletak di Desa Sejaro Sakti Kecamatan Indralaya, serta rawa sungai Kelekar yang dijadikan objek wisata alam di Tanjung Putus Kota Indralaya.

Kabupaten Ogan Ilir merupakan daerah yang mempunyai Iklim Tropis Basah (Type B) dengan musim kemarau antara bulan Mei -bulan Oktober, sedangkan musim hujan antara bulan November -April. Pada tahun 2011 iklim di Kabupaten Ogan Ilir telah mengalami pergeseran sehingga musim hujan terjadi sepanjang tahun. Musim kemarau dengan sedikit turun hujan terjadi pada bulan-bulan April sampai Agustus 2011. Curah hujan rata-rata tahun 2011 berkisar antara 2.600 mm hingga 3.500 mm, dan jumlah hari hujan 68 sampai 108 hari per tahun. Suhu udara harian berkisar antara 230 C sampai 330 Celcius. Selama tahun 2011 rata-rata Kelembaban udara harian berkisar 69 % -98 %.

Jenis tanah didominasi oleh jenis tanah Alluvial dan jenis tanah Podsolik.Jenis Tanah alluvial terdapat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ogan yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan dengan warna tanah kelabu atau kecoklatan, keadaan tanahnya liat, berpasir dan lembab apabila musim kering akan menjadi keras. Tanah alluvial memiliki susunan humus yang kaya bahan organik yang berasal dari endapan limpasan air sungai. Tanah alluvial tersebar di Kecamatan Pemulutan, Pemulutan Selatan, Pemulutan Barat, Indralaya, Indralaya Utara, Indralaya Selatan, Tanjung Raja, Rantau Panjang, Sungai Pinang, Rantau Alai, Kandis, Muara Kuang, Lubuk Keliat dan sebagian di Tanjung Batu. Tanah podsolik terdapat di daratan yang tidak mengalami penggenangan pada musim hujan, tingkat kesuburan lebih rendah dibandingkan dengan jenis tanah alluvial.


Demografi

Pada tahun 2005 jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 356.983 jiwa dengan laki-laki 178.556 jiwa dan perempuan 178.427 jiwa,Jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2006 bertambah menjadi 365.333 jiwa dengan laki-laki sebanyak 183.631 jiwa dan perempuan sebanyak 181.702 jiwa, kemudian pada tahun 2007 jumlah pendudukmencapai 372.431 jiwa dengan laki-laki 184.035 jiwa dan perempuan 188.396jiwa Pada tahun 2008 jumlah penduduk Ogan Ilir mencapai 400.717 jiwadengan jumlah laki-laki mencapai 199.067 jiwa dan perempuan sebanyak 201.650 jiwa. Pada tahun 2009 menurut Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ogan Ilir jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 416.803 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 105.768 KK.

Pada tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 422.712 jiwa, terdiri dari jenis kelamin perempuan yang mencapai 210.663 jiwa sedangkan jenis kelamin laki-laki mencapai 212.049 jiwa, dengan kepadatan penduduk mencapai 158 jiwa/km2, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 107.106 KK, pertumbuhan penduduk tahun 2010 adalah mencapai 1,42 %.

Pada tahun 2011 jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 432.449 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 108.475 kepala keluarga. Jumlah penduduk Laki-laki mencapai 215.444 jiwa dan perempuan mencapai 217.005 jiwa, dengan pertumbuhan penduduk adalah 2,30 %.


Sejarah

Nama OGAN ILIR sebagai identifikasi bagi suatu kesatuan wilayah dipergunakan sejak masa sebelum kemerdekaan. Paling tidak, pada abad ke-19 pada masa kolonial Belanda, identifikasi ini telah ditetapkan dalam pengertian teritorial dan administratif. Dalam Regeering Almanak yang diterbitkan Belanda pada tahun 1870 , Ogan Ilir dan Belida merupakan zona ekonomi afdeeling yang langsung berada dibawah Keresidenan Palembang.

Pada waktu itu dalam Keresidenan Palembang terdapat 9 afdeeling, yaitu :

1. Afdeeling Palembang

2. Afdeeling Tebing Tinggi

3. Afdeeling Lematang Ulu dan Lematang Ilir

4. Afdeeling Komering Ulu, Ogan Ulu dan Enim

5. Afdeeling Rawas

6. Afdeeling Musi Ilir

7. Afdeeling OGAN ILIR dan Belida

8. Afdeeling Komering Ilir

9. Afdeeling Iliran dan Banyuasin.

Pembagian wilayah afdeling ini mengalami beberapa kali perubahan. Pada tahun 1872 terjadi peristiwa Regrouping dari 9 afdeeling menjadi 7 afdeeling, dan pada tahun 1878 menjadi 6 afdeeling kemudian dalam Staatblad 1918 Nomor 612 afdeeling menjadi 4 afdeling, yaitu:

1. Afdeeling Hofdspaats Palembang (Kota Palembang dan sekitarnya)

2. Afdeeling Palembangsche Boevenlanden (Palembang Hulu)

3. Afdeeling Komering Ulu dan Ogan Ulu

4. Afdeeling Palembangsche Benedenlanden (Palembang Hilir).

Pada tahun 1921, melalui Staatblad nomor 465 dan pada tahun 1930 memalui Staadblad nomor 352, Keresidenan Palembang di Sumatera Selatan diubah menjadi 3 afdeeling, yaitu:

1. Afdeeling Palembang Hilir dibawah seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Kota Palembang

2. Afdeeling Palembang Hulu dibawah seorang Asisten Residen berkedudukan di Lahat

3. Afdeeling OGAN dan Komering Ulu dibawah seorang Asisten Residen berkedudukan di Baturaja.

Pada waktu itu Ogan Ilir tidak lagi sebagai Afdeling tetapi berubah menjadi Onder Afdeling OGAN ILIR

Sebutan OGAN ILIR, dikaitkan dengan keberadaan wilayah Kabupaten Ogan Ilir yang terletak di bagian hilir Sungai Ogan. Sungai Ogan merupakan satu dari sembilan sungai besar di wilayah Provinsi Sumatera Selatan atau disebut Batang hari Sembilan, yaitu : 1) Sungai Ogan, 2) Sungai Komering, 3) Sungai Lematang, 4) Sungai Kelkingi, 5) Sungai Lakitan, 6) Sungai Rawas, 7) Sungai Rupit, 8) Sungai Batang Hari Leko dan 9) sungai terbesar Sungai Musi.

Nama OGAN ILIR pada zaman pemerintahan Hindia Belanda merupakan Zona Ekonomi Afdeeling (perkebunan) pada zaman itu yang disebut : AFDEELING OGAN ILIR yang termasuk pada Keresidenan Palembang. Sejak tahun 1921, Afdeling Ogan Ilir waktu itu berpusat pemerintahan di Kota TANJUNG RAJA, ada 19 Marga Pemerintahan, yaitu :

A. 13 Marga Pemerintahan, termasuk dalam Wilayah Kabupaten Ogan Ilir, yaitu:

   1) Marga Pegagan Ilir Suku 1,
   2) Marga Rantau Alai,
   3) Marga Pegagan Ulu Suku 2,
   4) Marga Pegagan Ilir Suku 2,
   5) Marga Pemulutan,
   6) Marga Sakatiga,
   7) Marga Meranjat,
   8) Marga Burai,
   9) Marga Tanjung Batu,
  10) Marga Parit,
  11) Marga Muara Kuang,
  12) Marga Lubuk Keliat, dan
  13) Marga Tambangan Kelekar.

B. 6 Marga Pemerintahan yang termasuk dalam Wilayah Kabupaten Muara Enim yaitu:

   1) Marga Gelumbang,
   2) Marga Alai,
   3) Marga Lembak,
   4) Marga Kerta Mulia,
   5) Marga Lubai Suku 1
   6) Marga Rambang Empat Suku.  

Marga dipimpin oleh seorang PASIRAH yang ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan langsung oleh rakyat (Mancang). Ibukota Onder Afdeeling Ogan Ilir bertempat di Tanjung Raja yang terletak di tepian Sungai Ogan. Pada bulan januari 1939 onder Afdeling Ogan Ilir dipimpin oleh A.V. Peggemeier dan berkantor di Tanjung Raja. Sebutan pemerintahan dibawah Marga disebut dengan DUSUN. Pemerintahan Marga terdiri dari beberapa Dusun yang dipimpin oleh PASIRAH. Sedangkan Dusun dipimpin oleh seorang KERIO. Pada tahun 1983 sebutan DUSUN diganti dengan DESA, sebutan Marga dihapuskan.

Eksistensi Sejarah Pembentukan Kabupaten OGAN ILIR

Keberadaan Ogan Ilir sebagai suatu kesatuan wilayah tersendiri telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan, yaitu dalam status wilayah Afdeling Ogan Ilir yang kemudian berbubah menjadi Onder Afdeling Ogan Ilir dengan ibukotanya Tanjung Raja.

Pada kemerdekaan, bersama-sama dengan onder-afdeling Komering Ilir, marga-marga dalam wilayah ini digabungkan dan bernaung dalam satu kabupaten yaitu Kabupaten Ogan Komering Ilir. Pada waktu itu wilayah Ogan Ilir berstatus sebagai wilayah Kewedanaan dengan ibukota tetap berada di Tanjung Raja, meliputi marga-marga dalam onder-afdeling Ogan Ilir setelah dikurangi marga yang digabung ke Kabupaten Muara Enim.

Gagasan pembentukan Kabupaten Ogan Ilir dan perhatian khususnya sudah muncul sejak lama. antara lain dapat dicatat dari generasi muda yang belajar di Kota Jogjakarta pada tahun 1958. Dari Kota Jogjakarta generasi muda Ogan Ilir membentuk organisasi Ogan Ilir yang disingkat IPOI (Ikatan Pelajar Ogan Ilir) dengan ketua Dr. H. Ahmad Asof dari Tanjung Raja dan sebagai sekretaris Dr. H. Hasan Zaini dari Desa Kerinjing, serta bendahara Bapak Prof. Dr. Ki. Amri Yahya dari Desa Sukaraja. Pada masa itu mereka masih merupakan generasi muda yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Gerakan yang dilakukan oleh generasi muda itu adalah fokus pada upaya memindahkan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir dari Kota Kayu Agung ke Kota Tanjung Raja.

Pada penghujung dasa-warsa 1960-an muncul pula di Kota Palembang suatu organisasi Badan Musyawarah Pembangunan Ogan Ilir (BAMUPOI). Organisasi ini secara resmi berdiri pada tanggal 19 Januari 1969. Dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 3 Oktober 1971, organisasi BAMUPOI berubah nama menjadi Badan Musyawarah Keluarga Ogan Ilir disingkat BAMUKOI, dengan Ketua pertama BAMUKOI H. M. Zen Umar alias Tjuing dari Kecamatan Tanjung Batu, sebagai Sekretaris BAMUKOI adalah Drs. H. Abdullah Yahya dari Kecamatan Tanjung Indralaya, dan sebagai Bendahara adalah Tadjudin Hakiki dari Kecamatan Muara Kuang. Langkah perjuangan BAMUKOI antara lain menghimpun putera-puteri asal Wilayah Ogan Ilir (6 kecamatan) yang berada di Kota Palembang menjadi keluarga besar Ogan Ilir, memperjuangkan daerah Ogan Ilir menjadi kabupaten tersendiri, membantu Pemerintah dalam segala bidang pembangunan di Wilayah Ogan Ilir.

Pada tahun 1972 dilakukan gerakan lebih terarah oleh beberapa tokoh masyarakat Ogan Ilir untuk upaya pemekaran Kabupaten Ogan Ilir. Mereka adalah Letkol M. Nur Teguh dari Sukaraja, Letkol Syarnubi Insi dari Kerinjing, Ambon Alim dari Talang Balai, Muhsin Ishak dari Tanjung Raja, H.M. Yusuf Yahya dari Sungai Pinang, H. Dimyati Anwar dari Seribandung, H. Djakfar Siddik dari Muara Kuang, H. Bakri Pasirah dari Rantau Alai, A. Rifai Pasirah dari Tambangan Rambang, serta beberapa tokoh yang bertempat tinggal di Kota Palembang antara lain : Basyaruddin Icon asal Talang Aur, H. Zainal Arifin asal Sungai Pinang, H. Nawawi Zahir asal Lubuk Keliat, Hatiyar asal Tanjung Sejaro. Mereka menghadap Bupati Ogan Komering Ilir yang pada waktu itu dijabat oleh H.A. Latief Rais, dengan mengajukan permohonan agar Kabupaten OKI dibagi dua yaitu Ogan Ilir menjadi kabupaten tersendiri yang wilayahnya berasal dari marga-marga bekas kewedanaan Tanjung Raja. Akan tetapi perjuangan ini belum membuahkan hasil. Salah satu alasannya adalah menurut Basyaruddin Icon (salah seorang tokohnya) adalah menurut Gubernur Sumatera Selatan pada waktu itu yang dijabat oleh H. Asnawi Mangku Alam bahwa pemekaran terlalu riskan bagi usaha persatuan dan kesatuan nasional pasca desintegrasi akibat mala petaka gerakan 30 September 1965 PKI. Basyaruddin Icon pada waktu itu bersamaan memperjuangkan pemekaran Marga Pagegan Ilir Suku I yang berhasil dimekarkan menjadi Pegagan Ilir Suku I (PIS I) dan Pegagan Ilir Suku II (PIS II) yang beribukota di Dusun/Desa Talang Aur.

Bangkitnya Harapan Baru Pemekaran Ogan Ilir

Tiga puluh tahun kemudian mulai tahun 2000 dan memasuki masa reformasi, rencana pembentukan Kabupaten Ogan Ilir baru dapat terwujud. Munculnya kembali pembicaraan rencana pemekaran kabupaten Ogan Ilir ini dipicu oleh suatu perbincangan tidak sengaja dalam seminar tentang Tata Ruang Kecamatan Indralaya di kampus Universitas Sriwijaya. Dalam pembahasan tata ruang ini disimpulkan rencana pembentukan Kota Indralaya sebagai Kota Satelit. Dalam seminar itu, sesuai dengan keberadaannya sebagai Kota Satelit UNSRI menuntut kepada Pemerintah Kabupaten OKI agar Kecamatan Indralaya mendapatkan sarana perkotaan terutama untuk menunjang aktivitas kampus baru dan bagi mahasiswa UNSRI yang berada di Indralaya.

Pada waktu itu Camat Indralaya yang dijabat oleh Drs. Abdul Rahman Rosyidi yang mewakili Pemerintah Kabupaten OKI dalam seminar tataruang kec Indralaya secara spontan menyatakan bahwa Kecamatan Indralaya tidak mungkin mendapatkan fasilitas lebih dibanding dengan kecamatan lain di Kabupaten OKI karena hanya salah satu dari 18 kecamatan di Kabupaten OKI. Kecuali apabila Indralaya dijadikan sebagai kabupaten baru. Pernyataan dalam seminar resmi yang dihadiri oleh Pembantu Rektor UNSRI Dr. Mahyuddin Sp. OG itu selanjutnya terus bergulir, semakin terarah dan membangkitkan kembali rencana lama yang sempat tertunda. Perjuangan lama kembali diteruskan dalam suasana reformasi dengan semangat dan strategi yang baru. Berbagai kekuatan rakyat bergerak secara simultan dan bersama-sama menyuarakan suara yang sama. Di sela-sela itu, memang terjadi sikap yang bersifat kontra antara lain dengan ditopang oleh alasan perlu persiapan yang lebih matang sebelum terbentuk suatu kabupaten. Tetapi kehawatiran ini dikalahkan oleh arus yang lebih besar menghendaki suatu kabupaten baru sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten OKI.

Perjuangan pemekaran mandapat titik terang setelah melalui BAPPEDA Kab OKI pada Tahun 2001 menganggarkan dana untuk kegiatan Seminar Kabupaten OKI menjadi beberapa alternatif kabupaten dengan Survey Potensi Wilayah Rencana Pemekaran Kabupaten OKI bekerjasama dengan Universitas Sriwijaya. Daerah yang wilayahnya terlalu luas mempersulit jangkauan bagi pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Suatu daerah yang akan dimekarkan menjadi beberapa daerah seyogyanya harus menjamin bahwa daerah tersebut benar-benar mampu untuk mandiri dalam arti bisa mengatur dan mengurus kebutuhan dan kepentingan rumah tangganya sendiri tanpa banyaknya ketergantungan. Surver ini bertujuan untuk : Melakukan pengkajian pemekaran wilayah Kabupaten OKI menurut alternatif wilayah Barat-Timur, Utara-Selatan, Ogan Ilir-Komering Ilir (ex kewedanaan), dan menurut wilayah pembantu Bupati wilayah I, II dan wilayah III.

Teknik analisa data berpedoman pada Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000, yakni berdasarkan penilaian 7 kriteria yaitu : 1) kemampuan ekonomi, 2) potensi daerah, 3) sosial budaya, 4) sosial politik, 5) jumlah penduduk, 6) luas daerah, dan 7) pertimbangan lain.

Hasil survey ini menhasilkan 4 alternatif pemekaran namun menurut kesimpulan kajian analisa data yang dilaksanakan oleh Tim Survey Universitas Sriwijaya ini, Kabupaten OKI belum layak untuk dimekarkan.

Adalah Ir. H. Mawardi Yahya yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten OKI, asal wilayah Ogan Ilir secara kreatif terpanggil menawarkan kepada anggotanya agar pembahasan tentang pemekaran ini diagendakan lebih terfokus, melalui hak inisiatif DPRD. Dengan menganggarkan kembali survey pemekaran Kabupaten OKI bekerjasama dengan STPDN Jatinangor Jawa Barat. Survey ini menganalisi lebih mendalam dengan 7 kriteria sesuai dengan PP Nomor 129 tahun 2000. Akhirnya hasil kerja Tim Survey STPDN merekomendasikan Kabupaten OKI sangat layak dimekarkan menjadi 2 kabupaten yakni Kabupaten Ogan Ilir dengan wilayah 6 kecamatan dan Kabupaten OKI induk dengan wilayah 12 kecamatan.

Dari perkembangan hasil survey Tim STPDN Jatinangor kemudian memunculkan beberapa pendapat di lingkungan DPRD itu namun akhirnya lahirlah Surat Keputusan DPRD Kabupaten OKI Nomor 12 Tahun 2002 tanggal 2 September 2002 tentang Persetujuan atas usul pemekaran Kabupaten OKI untuk pembentukan Kabupaten Ogan Ilir. Surat Keputusan ini ditandatangani oleh Ketua DPRD Kabupaten OKI Ir. H. Mawardi Yahya. Pada tahap sebelumnya DPRD Kabupaten OKI bersama-sama dengan pihak Eksekutif telah menetapkan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 22 Tahun 2002 tanggal 12 Agustus 2002 tentang Rekomendasi Pemekaran Kabupaten OKI.

Tahap selanjutnya adalah membawa usulan pemekaran kabupaten ini ke tingkat Provinsi Sumsel, dengan mendapatkan dukungan dari DPRD Provinsi Sumsel dengan Surat Keputusan DPRD Provinsi Sumatera Selatan Nomor 12 Tahun 2002 tanggal 11 September 2002 tentang Dukungan dan Persetujuan terhadap Rencana Pemekaran Kabupaten OKI di Provinsi Sumsel. Kemudian dengan dilengkapi Surat Gubernur Sumsel Nomor 130/4081/i menyambut baik dan mendukung rencana pemekaran Kabupaten OKI menjadi 2 kabupaten, berkas usulan disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri RI dan DPR RI di Jakarta. Dalam proses ini dan dengan gerakan masyarakat yang besar untuk memekarkan dan membentuk Kabupaten Ogan Ilir, telah dilakukan rapat akbar di halaman Polsek Indralaya yang menghadirkan Tim dari Kementerian Dalam Negeri RI dan dari Anggota DPR RI dengan jumlah massa yang sangat fantastik, dan menghasilkan kebulatan tekad masyarakat yang berada dan berasal dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Indralaya, Pemulutan, Tanjung Raja, Tanjung Batu, Muara Kuang dan Kecamatan Rantau Alai dengan menghasilkan Deklarasi Kebulatan Tekad Pembentukan Kabupaten Ogan Ilir terpisah dari Kabupaten OKI.

Pada waktu masih bergabung dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir hingga awal terbentuknya Kabupaten Ogan Ilir, Wilayah Ogan Ilir terdiri dari 6 kecamatan terdapat 161 desa/kelurahan, yaitu :

1) Kecamatan Indralaya, terdapat 28 desa

2) Kecamatan Tanjung Raja, terdapat 26 desa dan 3 kelurahan

3) Kecamatan Tanjung Batu, terdapat 31 desa

4) Kecamatan Muara Kuang, terdapat 27 desa

5) Kecamatan Pemulutan, terdapat 28 desa dan

6) Kecamatan Rantau Alai.terdapat 21 desa.

Guna mempercepat kemajuan dan kemandirian wilayah maka pada tahun 2003, wacana pembentukan Kabupaten Ogan Ilir mulai digulirkan dengan melakukan penelitian pemekaran wilayah Kabupaten OKI yang dilaksanakan oleh Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan BAPPEDA Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian dilanjutkan oleh Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dengan lebih intensif bekerjasama dengan DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir dibawah pimpinan Ir. H. Mawardi Yahya yang sekarang menjadi BUPATI OGAN ILIR, yang menyimpulkan bahwa pembentukan kabupaten baru Kabupaten Ogan Ilir sangat layak dan sudah waktunya untuk membentuk Pemerintahan sendiri menjadi Wilayah kabupaten yang otonom yang terdiri dari 6 wilayah kecamatan, yaitu : Kecamatan Indralaya, Tanjung Raja, Tanjung Batu, Muara Kuang, Pemulutan, dan Kecamatan Rantau Alai.

Otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan mendapatkan otonomi daerah secara penuh dan terpisah dari kabupaten induk Kabupaten Ogan Komering Ilir melalui Undang-Undang Nomor 37 tahun 2003 yang ditetapkan pada tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Ilir diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta pada Tanggal 7 Januari 2004 bersama-sama dengan pembentukan 24 kabupaten/kota di Indonesia. Peresmian Kabupaten Ogan Ilir dilaksanakan di Aula Departemen Dalam Negeri Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 07 Jakarta Pusat oleh Menteri Dalam Negeri H. Moh. Ma'ruf dihadiri perwakilan 24 kabupaten/kota baru tersebut. Pada kesempatan peresmian Menteri Dalam Negeri RI berpesan agar pelaksanaan pemerintah kabupaten/kota pemekaran benar-benar berpihak pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan memanfaatkan potensi sumberdaya yang dimiliki secara arif dan bijaksana.

Mulai efektif dilaksanakan secara nyata sejak tanggal 14 Januari 2004 dengan dilantiknya Penjabat Bupati Ogan Ilir Drs. H. Indra Rusdi yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) oleh Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Syahrial Oesman, MM bertempat di Gedung Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) jalan raya Lintas Timur Palembang-Indralaya km 34 milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Pada kesempatan pelantikan penjabat Bupati Ogan Ilir Drs. H. Indra Rusdi sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 131.26-12 Tahun 2004 yang ditandatangani oleh H. Moh. Ma'ruf pada tanggal 6 Januari 2004, dihadiri antara lain pejabat pemerintahan provinsi Sumatera Selatan, Pejabat pemerintahan Kabupaten Ogan Komering Ilir dan pemuka masyarakat lainnya. Penjabat Bupati Ogan Ilir mendapat tugas sebagai pelaksana tugas umum penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta memfasilitasi pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.


Saat-saat pelantikan penjabat Bupati Ogan Ilir (Bupati pertama) Drs. H. Indra Rusdi tanggal 14 Januari 2004 oleh Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Syachrial Oesman

Pembentukan Kabupaten Ogan Ilir bertujuan untuk:

a) Mempersingkat rentang kendali pemerintahan sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pemerintah yang baik.

b) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga tercapai suatu pelayanan dalam rangka otonomi daerah secara nyata, luas, dinamis dan bertanggungjawab.

c) Meningkatkan efektivitas penggalian dan pendayagunaan sumber daya yang terkandung di daerah untuk kesejahteraan masyarakat.

d) Mempercepat penyebaran dan pemerataan hasil-hasil pembangunan sehingga akan dapat memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang merata.

e) Memperkokoh sistem keamanan dan ketertiban masyarakat yang merupakan bagian integral dari sistem pertahanan dan keamanan dalam NKRI.


Penyelenggaraan pemerintahan otonomi daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, adalah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, pada tahun 2005 dilakukan pemekaran kecamatan yang semula hanya 6 kecamatan dimekarkan menjadi 16 kecamatan. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Ilir Nomor 22 Tahun 2005 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dalam Kabupaten Ogan Ilir, jumlah kecamatan dalam Kabupaten Ogan Ilir sebanyak 16 kecamatan terdapat 227 desa dan 14 kelurahan, yaitu :

1) Kecamatan Indralaya, terdapat 17 desa dan 3 kelurahan

2) Kecamatan Indralaya Utara, terdapat 15 desa dan 1 kelurahan

3) Kecamatan Indralaya Selatan, terdapat 14 desa

4) Kecamatan Pemulutan, terdapat 25 desa

5) Kecamatan Pemulutan Barat, terdapat 11 desa

6) Kecamatan Pemulutan Selatan, terdapat 15 desa

7) Kecamatan Tanjung Batu, terdapat 19 desa dan 2 kelurahan

8) Kecamatan Payaraman, terdapat 11 desa dan 2 kelurahan

9) Kecamatan Tanjung Raja, terdapat 15 desa dan 4 kelurahan

10) Kecamatan Sungai Pinang, terdapat 12 desa dan 1 kelurahan

11) Kecamatan Rantau Panjang, terdapat 12 desa

12) Kecamatan Muara Kuang, terdapat 13 desa dan 1 kelurahan

13) Kecamatan Rambang Kuang, terdapat 13 desa

14) Kecamatan Lubuk Keliat, terdapat 10 desa

15) Kecamatan Rantau Alai, terdapat 13 desa

16) Kecamatan Kandis, terdapat 12 desa.

Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Ilir Nomor 21 Tahun 2006 tentang Pemekaran Kelurahan dan Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan, serta Peraturan Bupati Ogan Ilir Nomor 44 Tahun 2006 tentang Pembentukan dan Pemekaran Desa di Kabupaten Ogan Ilir, maka jumlah desa/kelurahan semula hanya 164 desa/kelurahan yang terdiri dari 159 desa dan 5 kelurahan berubah menjadi 241 desa/kelurahan yang terdiri dari 227 desa dan 14 kelurahan.



Sosial dan Budaya

Mayoritas penduduk Kabupaten Ogan Ilir adalah : Suku Ogan, Suku Penesak dan Suku Pegagan. Budaya dan Adat Istiadat merekapun memiliki wujud dan sifat yang beraneka ragam, sesuai dengan kondisi masyarakatnya yang majemuk. Seni kerajinan masyarakat Kabupaten Ogan Ilir, telah memiliki kemampuan Estetika dan kemampuan Artistik yang tinggi. Kondisi ini dapat dilihat dari berbagai karya seni rupa yang bersifat terapan dengan wujud Seni Ukir Kayu, Seni Kerajinan Emas dan Perak, Seni Membuat Hiasan Pakaian Penganten, Seni ukir Keramik, Seni Tenun Songket dan Tenun Ikat, Seni Pertukangan Kayu, dan Seni pandai Besi dan Aluminium.

Daerah Tujuan Obyek Wisata

Wisata alam

meliputi :

1. Wisata Perairan Sungai Ogan di Kota Tanjung Raja.

2. Wisata Danau Lebong Karangan di Desa Sejaro Sakti, Kecamatan Indralaya.

3. Wisata Pantai Jodoh di Kelurahan Tanjung Raja, Kecamatan Tanjung Raja.

4. Wisata Pantai/Perairan Tanjung Laut di Desa Tanjung Laut, Kecamatan Tanjung Batu.

5. Wisata Perairan Tanjung Putus di Kelurahan Indralaya Raya, Kecamatan Indralaya.

6. Wisata Lebak Palas di Desa Tanabang, Kec. Muara Kuang.

Agrowisata

antara lain:

1. Wisata Perkebunan Tebu di Desa Ketiau Kecamatan Lubuk Keliat, di Kecamatan Tanjung Batu dan Indralaya.

2. Wisata Perkebunan Kelapa Sawit PT Bumi Sawit Permai di Tanjung Miring Kecamatan Rambang Kuang.

3. Wisata Perkebunan Karet PT Rusli Taher di Tanjung Raja, PT Bumi Rambang Kramajaya Kecamatan Rambang Kuang, dan PT Gembala Sriwijaya di Indralaya Utara.

4. Agrowisata Agropolitan Agro Techno Park di Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara.

5. Wisata Kota Terpadu Mandiri di Sungai Rambutan dan Parit, Kecamatan Indralaya Utara.

Wisata sejarah dan budaya

antara lain :

a. Makam Pelaku Sejarah dan Legenda Rakyat, antara lain :

Obyek Wisata Makam Raja Pertama Kerajaan Palembang Darussalam Sido Ing Rajek di Sakatiga Kec. Indralaya, Makam Putri Pinang Masak di Desa Senuro Kecamatan Tanjung Batu, Makam Samporayo (Parang Betuah) di Desa Tanjung Baru Kecamatan Indralaya Utara, Makam USang Sungging di Desa Meranjat, Makam Said Umar Bagindo Sari di Desa Tanjung Atap Kecamatan Tanjung Batu, Makam Usang Bujang di Desa Meranjat Kecamatan Indralaya Selatan, Makam Usang Rimau di Desa Meranjat Kecamatan Indralaya Selatan, Makam Usang Rantai di Desa Meranjat Kecamatan Indralaya Selatan, Makam Usang Meranjat di Desa Meranjat I Kecamatan Indralaya Selatan, Makam Usang Megat Sari di Desa Meranjat I Kecamatan Indralaya Selatan, Makam Puyang Ngawak Rd Ranom Wali 9 Rambang Senuling (Usang Muara Rambang terdapat kerah jinak) terletak di Desa Lubuk Keliat Kecamatan Lubuk Keliat, Makam Nyuak Junjungan Saiydina Angkasa di Desa Tangai Kecamatan Rambang Kuang, Makam Puyang Empat Putih Jage di Desa Lubuk Tunggal Kecamatan Rambang Kuang, Makam Pangeran Punto di Desa Pemulutan Kecamatan Pemulutan, Makam Lanang Kuaso di Desa Payaraman Kecamatan Payaraman, dan Obyek Wisata Makam Puyang Siyak Turbiyah Ali Melayang terletak di Kelurahan Muara Kuang Kecamatan Muara Kuang.

b. Monumen Pahlawan, antara lain :

Monumen Perjuangan Kemerdekaan Front Simpang Timbangan, di Kelurahan Timbangan, Kecamatan Indralaya Utara, Monumen Perjuangan Kemerdekaan Front Kamal di Desa Kamal, Kecamatan Indralaya, Monumen Perjuangan Kemerdekaan Front Parit, di Desa Parit, Kecamatan Indralaya Utara, dan Taman Makam Pahlawan di Kota Indralaya.

3. Wisata Taman Rekreasi, antara lain :

a. Taman Rekreasi Anak-anak Pulau Khihaji di Kelurahan Indralaya Mulya, Kecamatan Indralaya.

b. Taman Rekreasi Kota Ruang Terbuka Hijau di Kota Indralaya.

c. Taman Rekreasi Kampus Unsri Indralaya, Kecamatan Indralaya.

4. Wisata pendidikan, antara lain :

Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya di Kel. Indralaya Indah, Kampus Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah di Kelurahan Indralaya Mulya, Kecamatan Indralaya, Kampus Wisata Rohani Kampus Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Desa Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kampus Pondok Pesantren Nurul Islam di Desa Seribandung, Kecamatan Tanjung Batu, Bangunan Rumah Bari di desa-desa Muara Penimbung, Talang Aur, sakatiga, Tanjung Sejaro, Kecamatan Indralaya, Bangunan Rumah ex Peninggalan Belanda di Kelurahan Tanjung Raja, Kecamatan Tanjung Raja, dan Bangunan Masjid-Masjid Tua di Indonesia : 1) Masjid Al-Falah di Kelurahan Tanjung Batu, dibangun pada tahun 1361 M Peninggalan Usang Sungging, dan 2) Masjid Al-Abror di Desa Kerinjing Kec Tanjung Raja dibangun pada tahun 1826 Masehi Peninggalan K.H. Dahlan.

Wisata Sentra Industri Kerajinan

antara lain :

Rumah Bongkar Pasang(Knockdown), PandaiEmas dan Perak, PandaiBesi, PandaiAluminium, IndustriPakaian Hias Penganten, Tenun Songket, Kerajian Border/Sulaman, Kerajian Kain Tajung Gebeng, Anyaman Tikar Purun, Anyaman Purun dan Bambu, Kerajinan Eceng Gondok, Kerajinan Kulit Batang Pisang, Anyaman Rotan, Industri Ikan Asin, Industri Keramik, Konveksi Pakaian, Industri Kerupuk Kemplang, Industri Makanan Dodol dan Kue Kering, Industri Gula Aren, Industri Kripik Nenas, Kripik Pisang, Industri Meubeler, Industri Batu Bata, Industri Pembuatan Perahu, Speedboot, Industri Pembuatan Kursi Bambu, dan Industri Pengolahan Kopi,


Selain ODTW sebagaimana diatas, juga terdapat ODTW Daerah minat khusus yang meliputi :

a. Wisata Alam; antara lain :

Ex lapangan Terbang Jepangdi Desa Ketiau Kec. Lubuk Keliat, Wisata Panorama Sungai Ogan dengan anak-anak sungainya, Pemancingan Ikan di kawasan Irigasi Ogan Keramasan Kecamatan Pemulutan dan Indralaya.

b. Wisata seni dan budaya, antara lain :

Cerita Legenda Parang Betuah, Cerita Legenda Putri Pinang Masak, Drama Bangsawan Dul Muluk, Kesenian Gitar Tunggal Batang Hari Sembilan, Kesenian Terbangan Hadra, Kesenian Rebana dan Qasidah, Seni Pencak Silat dari seluruh kecamatan, Seni Tari Daerah dari seluruh kecamatan, dan Festival Ogan Ilir yang dilaksanakan setiap tahun.


Keberadaan fasilitas penunjang kepariwisataan di Kabupaten Ogan Ilir belum cukup memadai terutama ketersediaan Hotel dan Penginapan lainnya. Jumlah hotel yang ada baru mencapai 2 buah yaitu Hotel TRIFIKA yang memiliki 25 kamar dan 33 tempat tidur, dan Hotel INDRIYASARI yang memiliki 33 kamar dan 64 tempat tidur. Sedangkan fasilitas asrama cukup banyak tersedia dalam Kota Indralaya terutama untuk mahasiswa Universitas Sriwijaya Indralaya, dan Perguruan Tinggi lain. Asrama-asrama yang ada cukup mudah dicari dan tersebar dalam Kota Indralaya terutama di sekitar Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya, Kampus Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya dan Kampus Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga yang menyediakan sarana Out Bound yang refresentatif.

Ketersediaan restoran dan rumah makan yang cukup memadai seperti RM Pagi Sore, RM Buana Baru, RM OI Raya, RM Alam Selaya, RM Sri Melayu, RM Putih Salju, RM Bodronoyo, RM Selera 1 dan RM Selera 2, RM Meranjat, RM Sakatiga, RM Tuah Siang Malam, Agrowisata Bina Dharma yang memiliki tempat bermain Out Bound dan Rumah makan berwawasan alam yang mulai beroperasi pada Desember 2009 menambah sarana wisata Ogan Ilir, dan banyak lagi rumah makan yang menyediakan makanan khas lokal seperti Pindang Pegagan ikan gabus, ikan toman, ikan patin, ikan baung, goreng ikan seluang, serta masakan padang, masakan jawa, dan masakan sunda.


Potensi

Pertambangan

Potensi komoditas tambang Kabupaten Ogan Ilir berdasarkan hasil inventarisasi Dinas Pertambangan, Energi dan Lingkungan Hidup terdiri dari :

Batubara

Batubara Kabupaten Ogan Ilir termasuk dalam formasi Kasai (Qtk) dan sedikit formasi Muaraenim (Tmpm) yang terdiri atas 2 (dua) seam batubara dengan ketetebalan seam berkisar 3 sampai 15 meter, batubara ini termasuk dalam kelas sub-bituminous-A sampai sub-bituminous B. Di wilayah Kabupaten Ogan Ilir terdapat 7 (tujuh) perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang berada di dalam wilayah Kecamatan Payaraman, Muara Kuang, Rambang Kuang dan Lubuk Keliat dengan luas total keseluruhan IUP sekitar 68.610 Hektar.

Dari pembacaan peta geologi lembar lahat selain di Kecamatan di atas terdapat juga formasi Muaraenim (Tmpm) di Kecamatan Pemulutan Barat sampai ke Kecamatan Pemulutan, namun dari sampel yang diambil di lapangan kondisi fisiknya jauh berbeda dengan yang ada di Kecamatan Rambang Kuang, batubara yang terdapat di Kecamatan Pemulutan Barat termasuk kategori gambut dimana keterdapatnya berada di bawah hamparan lahan persawahan masyarakat sehingga sampai saat ini belum ada perusahaan yang mengajukan permohonan izin usaha pertambangan.

Oksida Besi

Singkapan (outcrop) komoditas tambang Oksida Besi terdapat di Desa Talang Seleman Kecamatan Payaraman berbentuk kerikil dengan ukuran diameter butir sekitar 4 sampai 20 cm.

Kaolin

Lempung kaolinan digunakan sebagai bahan baku pembuatan Keramik Gerabah yang keberadaanya terdapat di desa Parit Kecamatan Indralaya Utara.

Pasir Sungai

Pasir Bangunan yang tersebar sepanjang Sungai Ogan yang berada dalam wilayah Kecamatan Pemulutan, Kecamatan Pemulutan Barat, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kecamatan Sungai Pinang, Kecamatan Tanjung Raja, Kecamatan Rantau Panjang, Kecamatan Kandis, Kecamatan Rantau Alai dan Kecamatan Muara Kuang (termasuk Sungai Randu).

Tanah Liat

Tanah Liat keterdapatannya di Kecamatan Payaraman, Kecamatan Rambang Kuang, Kecamatan Indralaya Selatan, Kecamatan Indralaya yang peruntukannya dibuat batubata. Sedangkan di Kecamatan Pemulutan lebih banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan Genteng sedangkan di Kecamatan Indralaya Utara kegunaannya untuk penimbunan setiap kegiatan proyek.

=Minyak dan Gas Bumi

pertambangan Minyak dan Gas Bumi yang terdapat di Kecamatan Rambang Kuang, terdapat 9 struktur jebakan minyak yaitu struktur Ogan, Tanjung Miring Barat, Tanjung Miring Timur, Tampa, Tangai, Sialingan, Sukananti, Bunian dan Kupang dengan jumlah sumur sebanyak 154 buah sumur.

Pertanian dan Perkebunan

Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pada tahun 2008 luas panen padi mencapai 49.253 hektar dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 50.963 hektar. Sedangkan pada tahun 2010 luas panen padi sedikit mengalami penurunan mencapai 49.108 ha dengan pencapaian produksi padi 201.270 ton GKG (gabah kering giling), dari sasaran produksi 190.740 ton GKG.

Potensi tanaman pangan dan hortikultura meliputi padi dan palawija, buah-buahan dan sayur-sayuran di Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2011 dengan komoditi utama padi sawah dengan luas panen 46.323 hektar, padi gogo seluas 2.155 hektar, sehingga total luas panen tanaman padi mencapai 48.478 hektar. Luas panen tanaman jagung tahun 2011 mencapai 966 hektar, kacang tanah 103 hektar, kacang hijau 14 hektar, ubi kayu 640 hektar, dan tanaman ubi jalar dengan luas panen 116 hektar.

Perkebunan

Potensi Komoditi perkebunan terluas di Kabupaten Ogan Ilir tahun 2010 masih diduduki oleh tanaman karet milik rakyat yang mencapai luas 29.251 hektar, dan kelapa sawit rakyat seluas 2.616 hektar. Perkebunan Besar yang dikelola oleh PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis di Ketiau Kecamatan Tanjung Batu pada tahun 2010 mencapai areal 13.188 hektar dan produksi 67.000 ton gula pasir. Perkebunan Besar Swasta tanaman karet dengan luas areal 9.244 hektar dan produksi 6.280 ton, Perkebunan Besar Swasta Kelapa Sawit mencapai areal 4.780 hektar dan produksi 87.569 ton.

Peternakan

Potensi peternakan di Kabupaten Ogan Ilir cukup besar, potensi tersebut ditunjukkan oleh data populasi dan produksi peternakan di Kabupaten Ogan Ilir tahun 2008 sampai 2010, antara lain :

1) Ternak Kerbau, tahun 2008 dengan populasi sebanyak 1.646 ekor, dan tahun 2009 dengan populasi sebanyak 1.700 ekor, serta pada tahun 2010 dengan populasi sebanyak 1.718 ekor.

2) Ternak Sapi, tahun 2008 dengan populasi sebanyak 14.428 ekor, dan tahun 2009 dengan populasi sebanyak 14.498 ekor, serta pada tahun 2010 dengan populasi sebanyak 14.773 ekor

3) Ternak Kambing, tahun 2008 dengan populasi sebanyak 13.323 ekor, dan tahun 2009 dengan populasi meningkat menjadi sebanyak 14.016 ekor, serta tahun 2010 dengan populasi meningkat menjadi sebanyak 14.331 ekor.

4) Ternak Ayam BURAS, tahun 2008 populasinya sebanyak 127.700 ekor, dan tahun 2009 populasinya sebanyak 90.800 ekor, serta pada tahun 2010 populasinya sebanyak 93.500 ekor.

5) Ternak Ayam Ras Pedaging, 2008 populasinya sebanyak 17.800 ekor, dan tahun 2009 populasinya sebanyak 102.000 ekor, serta pada tahun 2010 populasinya sebanyak 48.000 ekor.

6) Ternak Ayam Ras Petelur, tahun 2008 populasinya sebanyak 22.900 ekor, dan tahun 2009 populasinya sebanyak 51.300 ekor, serta pada tahun 2010 populasinya sebanyak 46.000 ekor.

7) Ternak Itik, tahun 2008 populasinya sebanyak 30.600 ekor, tahun 2009 populasinya sebanyak 40.000 ekor, serta tahun 2010 populasinya 41.200 ekor.

Perikanan

Potensi perikanan di Kabupaten Ogan Ilir cukup besar, potensi tersebut ditunjukkan oleh data populasi dan produksi perikanan di Kabupaten Ogan Ilir yang berasal dari Ikan budidaya yang diproduksi dan sentra produksi ikan di Kabupaten Ogan Ilir antara lain :

(1) Budi daya ikan dalam kolam dengan jenis ikan Nila di Kecamatan Pemulutan dan Indralaya.

(2) Budidaya ikan dalam Keramba dengan jenis ikan Patin dan Nila di Kecamatan Tanjung Raja, Rantau Alai, Idralaya dan Kecamatan Indralaya Selatan.

(3) Budidaya Ikan sistem Mina Padi dengan jenis ikan Mas dan Nila di Kecamatan Pemulutan Selatan.

(4) Budidaya Ikan dalam Empang dengan jenis ikan Patin di Kecamatan Indralaya Selatan.

(5) Ikan Tangkap umumnya ikan Gabus, Toman, Betok, Lele, Sepat, Udang dan Baung di Kecamatan Pemulutan Selatan, Rantau Panjang, Rambang Kuang dan di Kecamatan Muara Kuang.




Wilayah Kabupaten Ogan Ilir


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Ogan Ilir


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Ogan Ilir


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Ogan Ilir




Sumber : http://www.oganilirkab.go.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox