Kabupaten Purworejo

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Purworejo terletak pada posisi 109o 47’28” – 110o 8’20” Bujur Timur dan 7o 32’ – 7o 54 Lintang Selatan. Secara topografis merupakan wilayah beriklim tropis basah dengan suhu antara 19 C – 28 C, sedangkan kelembaban udara antara 70% - 90% dan curah hujan tertinggi pada bulan Desember 311 mm dan bulan Maret 289 mm. Kabupaten Purworejo memiliki luas 1.034,81752 km2 dengan batas wilayah :

Sebelah barat : Kabupaten Kebumen

Sebelah utara : Kabupaten Magelang dan Wonosobo

Sebelah timur : Kabupaten Kulonprogo (DIY)

Sebelah selatan : Samudra Indonesia

Keadaan rupa bumi (topografi) daerah Kabupaten Purworejo secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bagian selatan merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 – 25 meter di atas permukaan air laut.

2. Bagian utara merupakan daerah berbukit-bukit dengan ketinggian antara 25 – 1050 meter di atas permukaan air laut.

Sedangkan kemiringan lereng atau kelerengan di Kabupaten Purworejo dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Kemiringan 0 – 2% meliputi bagian selatan dan tengah wilayah Kabupaten Purworejo,

2. Kemiringan 2 – 15% meliputi sebagian Kecamatan Kemiri, Bruno, Bener, Loano, dan Bagelen,

3. Kemiringan 15 – 40% meliputi bagian utara dan timur wilayah Kabupaten Purworejo,

4. Kemiringan > 40% meliputi sebagian Kecamatan Bagelen, Kaligesing, Loano, Gebang, Bruno, Kemiri, dan Pituruh.

Jenis tanah di Kabupaten Purworejo terdiri dari tanah konsosiasi alluvial hidromorf; konsosiasi alluvial kelabu;Asosiasi gley humus dan alluvial kelabu;komplek latosol coklat tua,latosol coklat kemerahan dan litosol; Asosiasi latosol coklat kemerahan dan latosol coklat tua ; komplek latosol merah kuning,latosol coklat tua dan litosol; konsosiasi regosol coklat; konsosiasi regosol kelabu. Posisi ketinggian Kabupaten Purworejo berkisar antara 0 meter sampai 325 meter diatas permukaan laut.


Demografi

umlah penduduk Kabupaten Purworejo pada akhir tahun 2009 adalah 782.662 jiwa. Sementara menurut hasil Sensus Penduduk pada Mei 2010 jumlah penduduk Kabupaten Purworejo sejumlah 694.404 jiwa. Artinya terdapat penurunan perhitungan jumlah penduduk dari estimasi survey 2009 sebesar 11,28% yang dikarenakan tingginya angka migrasi di Kabupaten Purworejo.

Manusia (penduduk) merupakan salah satu modal dalam pembangunan. Daya guna dari modal tersebut ditentukan oleh berbagai kondisi yang meliputi kuantitas, kualitas dan distribusinya. Dilihat dari persebarannya, Kecamatan Purworejo dan Kecamatan Kutoarjo memiliki jumlah penduduk yang paling banyak yaitu 11,63% dan 8,25% dari jumlah penduduk Kabupaten Purworejo. Hal ini tentunya membawa konsekuensi munculnya potensi permasalahan permukiman perkotaan dan permasalahan sosial lainnya pada dua kecamatan tersebut.


Sejarah

Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi. Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang. Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro. Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu. Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan. Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada. Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang. “ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …” Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga). Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang. Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano). Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris. Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupatn Magelang. Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani. Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikn Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, Kedungkebo dan Brengkelan. Pada periode Karesidenan Begelen ini, muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ). Dalam perjalanan sejarah, akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan. Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tanah Bagelen akibat Perjanjian Giyanti 13 pebruari 1755 tersebut sebagai wilayah Negara Gung juga dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu diupamakan sebagai campur baur seperti “rujak”. Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX, wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo. Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesienan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten. Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo. Dalam perkembangan sejarahnya Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer. Tokoh-tokoh yang muncul antara lain WR Supratman Komponis lagu Kebangsaan “Indonesia raya”. Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal A. Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya. Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri.


Potensi

Industri

Pembangunan sektor industri di Kabupaten Purworejo bertujuan untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan industri rumah tangga, meningkatkan peran industri kecil dan menengah dalam memperdayakan ekonomi kerakyatan, dan memperkuat penguasaan teknologi peralatan dalam upaya pencapaian akses pasar dan penguasaan modal.

Berdasarkan perhitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Purworejo Tahun 2009, kegiatan sektor industri mencapai 574,141 milyar rupiah atau 9,82% dari seluruh kegiatan di Kabupaten Purworejo. Kondisi tersebut menurun dibanding tahun 2008 yang mencapai 10,21%, hal ini terkait dengan kondisi sector industry yang secara nasional juga berpengaruh terhadap gejolak ekonomi global di tahun 2008. Di tahun 2009 industri local sampai dengan nasional sedang dalam proses recovery dimana laju pertumbuhan sector industry hanya mencapai 5,45% di tahun 2009, turun jauh dari tahun 2008 mampu mencapai 16,05%.

Namun demikian secara kuantitas nilai tambah bruto sector industry di tahun 2009 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya, yaitu dari 342,882 milyar rupiah di tahun 2005 meningkat menjadi 574,141 milyar rupiah di tahun 2009. Pendukung utama di sektor industri adalah dari industri makanan minuman dan tembakau yang mencapai 334,892 milyar rupiah di tahun 2009 atau sebesar 5,73% dari PDRB Kabupaten.

Perdagangan

Pembangunan sektor perdagangan bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah, penyediaan sarana dan prasarana pemasaran, pengembangan usaha dasar sebagai penyangga sumber pendapatan asli daerah, meningkatkan pengawasan terhadap peredaran barang dan jasa dalam rangka perlindungan konsumen.

Pariwisata

Jumlah Obyek Wisata di Kabupaten Purworejo dalam kurun waktu tahun 2003-2008 tidak mengalami perubahan. Objek wisata alam berjumlah 8 buah dan objek wisata buatan berjumlah 4 buah. Kabupaten Purworejo tahun 2001 memiliki hotel non berbintang sebanyak 14 buah mengalami penurunan menjadi 13 buah di tahun 2008.

Dalam kurun waktu 2006-2009 wisatawan yang datang di Kabupaten Purworejo hanya wisatawan domestik berturut-turut mencapai 146.040, 113.774, 200.817 dan 117.650 orang atau tiap tahun rata-rata mengalami kenaikan sebesar 14,29%. Jumlah situs bersejarah dikabupaten Purworejo dari tahun 2001-2005 berjumlah 15 buah dan tahun 2006 ditemukan situs sejarah baru menjadi 21 buah.

Pertanian

Kabupaten Purworejo adalah daerah agraris karena sebagian besar penggunaan lahannya adalah pertanian, begitu pula mata pencaharian penduduk sebagian besar sebagai petani. Dalam struktur perekonomian daerah, potensi daya dukung sector pertanian mencapai 32,81% di tahun 2009 yang didominasi oleh tanaman bahan makananan yang mencapai 22,20%. Namun demikian potensi tersebut masih belum tergarap dengan baik karena pada tahun 2008-2009 laju pertumbuhan sector pertanian masih dibawah 10%. Luas lahan pertanian Kabupaten Purworejo sebagian besar adalah sawah berpengairan non teknis dan tadah hujan, hanya sebagian kecil yang berpengairan teknis.

Kehutanan

Pelaksanaan pembangunan kehutanan dan perkebunan di Kabupaten Purworejo mempunyai peran dalam menjaga dan meningkatkan kelestarian lingkungan hidup, mendukung penyediaan lapangan kerja, penyediaan bahan baku industri dan penyediaan bahan ekspor non migas sehingga diharapkan dapat mewujudkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

Luas hutan produksi mengalami perubahan dari 447,40 Ha di 2005 menjadi 8.864,94 Ha di tahun 2009. Di tahun 2006-2007 mengalami peningkatan mencapai 20 kali lipat dikarenakan salah satunya ada program penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon di areal lahan kritis atau lahan tandus untuk meningkatkan produksi hasil hutan produksi di tahun yang akan datang agar lebih intensif lagi. Hasil hutan (kayu pinus) dalam kurun waktu 2005-2009 adalah 4.063; 3.840; 169,82; 1.064,11; dan 1.772 m3. Terjadi penurunan produksi yang signifikan karena terdapat peremajaan tanaman di tahun 2006-2007. Sedangkan untuk hsil produksi getah pinus pada periode tersebut berturut-turut adalah 1,9; 2.258; 1.772; 2.669; dan 3.084 ton. Lonjakan peningkatan produksi getah merupakan dampak dari adanya penanaman besar-besaran di tahun 2006-2007.

Perikanan

Perikanan laut

Jumlah produksi ikan laut dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami perubahan berturut-turut adalah 15.523, 16.091, 40.261, 34.538, dan 42.812 kg atau mengalami fluktuasi rata-rata tiap tahun 39,49%. Jumlah Nelayan Laut terus meningkat dalam kurun waktu tersebut yaitu dari 207 di tahun 2005 menjadi 272 di tahun 2009 dengan jumlah perahun mencapai 89 buah.

Perikanan darat

Luas tambak terus berkurang dalam kurun waktu 2005-2009 dari 151 Ha menjadi 136,25 Ha. Namun demikian produktivitas tambak mengalami peningkatan rata-rata mencapai 2,59% untuk perikanan air tawar/kolam dan 10,36% untuk tambak udang. Jumlah produksi ikan air tawar/kolam dalam kurun waktu tersebut berturut-turut yaitu 478.839, 484.714, 507.240, 516.930 dan 530.303 kg. Sedangkan jumlah produksi ikan tambak yaitu 187.487, 252.838, 255.877, 261.470 dan 269.846 kg. Peningkatan ini dikarenakan adanya teknologi perikanan yang telah diterapkan dengan baik.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Purworejo semakin giat membudidayakan ikan guna memenuhi permintaan pasar juga dalam rangka meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. Selain produksi ikan konsumsi, produksi benih ikan juga memiliki andil yang sangat besar dalam rangka keberhasilan perikanan. Upaya yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produksi benih ikan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana pembenihan ikan utamanya pada Balai Benih Ikan (BBI) yang berlokasi di Kecamatan Purworejo. Oleh karena itu, di tahun yang akan datang pengembangan produksi ikan konsumsi dengan produksi benih ikan harusnya berimbang karena produksi benih ikan nilai jualnya lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan produksi ikan konsumsi.

Peternakan

Ternak Besar

Jumlah populasi sapi potong dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami kenaikan 18,46% berturut-turut dari 14.130, 13.067, 13.170,16.980 dan 16.738 ekor. Jumlah pemotongan sapi potong dalam kurun waktu tersebut naik 6,10% yaitu berturut-turut 2.083, 1.268, 2.207, 1.753 dan 2.210 ekor. Jumlah produksi daging sapi dalam kurun waktu tersebut naik 12,33% berturut-turut dari 447,949, 1.463.722, 336.373, 578.490 dan 503.160 kg.

Jumlah populasi sapi perah dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami penurunan sebesar 35,16% yaitu dari 91 ekor di tahun 2005 menjadi tinggal 59 ekor di tahun 2009. Menurunnya minat peternakan sapi perah antara lain dikarenakan karena adanya kesulitan dalam proses pengolahan susu pasca panen dan distribusi pemasaran di tingkat local maupun regional. Akibatnya produk susu dalam kurun waktu tahun tersebut juga mengalami penurunan sampai sebesar 70,94% yaitu berturut-turut 248.242, 55.010, 439, 439 dan 72.146 liter.

Ternak Kecil

Jumlah populasi kambing dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 112.776, 93.237, 99.421, 102.159 dan 102.264 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 1,96%. Jumlah populasi Kambing PE dalam kurun waktu tersebut adalah 59.649, 60.808, 54.872, 67.165 dan 67.837 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 3,90%. Jumlah populasi domba dalam kurun waktu tersebut adalah 57.068, 43.974, 44.228, 45.603 dan 39.395 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 8,22%. Sedangkan jumlah populasi babi dalam kurun waktu tersebut adalah 503, 28, 137, 158 dan 226 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 88,30% sebagai akibat dari peningkatan drastis pada tahun 2007.

Unggas

Jumlah ayam buras dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 1.146.775, 671.821, 606.727, 608.477, dan 644.470 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 11,23%. Produksi telur ayam buras berturut-turut adalah 13.761.294, 5.068.191, 1.137.075, 3.969.879, dan 2.542.133 butir atau turun tiap tahun rata-rata 18,21%. Produksi daging ayam buras adalah 409.973, 2.070.711, 1.131.786, 601.779,5 dan 1.264.002,3 kg.

Jumlah populasi ayam petelur dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 21.000, 24.900, 40.967, 24.963, dan 18.364 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 4,40%, sedangkan produksi telur ayam petelur adalah 202.421, 102.829, 82.195, 109.893,3 dan 184.414,8 kg atau tiap tahun naik rata-rata 3,51%.

Jumlah populasi ayam pedaging dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 141.100, 105.500, 140.659, 587.481 dan 205.351 ekor atau naik 45,54% dari tahun 2005. Produksi daging ayam pedaging adalah 810.496, 747.981, 2.585.214, 1.703.611,7 dan 4.258.289,9 kg atau tiap tahun naik rata-rata 88,44%.

Jumlah populasi itik dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 75.729, 98.710, 90.501, 75.567 dan 72.291 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 0,31%. Jumlah produksi itik berupa telur dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 4.961.762, 8.587.786, 2.767.488, 1.762.170 dan 2.245.714 butir atau turun 19,08% dari tahun 2004 s.d 2007 dan naik sebesar 27% di tahun 2008.

Perkebunan

Perkebunan di Kabupaten Purworejo terdiri dari perkebunan cengkeh, kopi, jambu mete, aren, kapok randu, kapulogo, kemukus, tebu, temulawak, kencur, kunyit, jahe, tembakau, kakao, lada, nilam, mlinjo, vanili. Jumlah areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi dalam kurun waktu tahun 2005-2009 di Kabupaten Purworejo secara umum ada yang mengalami kenaikan dan penurunan. Luas areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi yang mengalami kenaikan hanya tembakau. Sedangkan luas areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi yang mengalami penurunan adalah kopi, kakao, lada, vanili, dan tebu. Industri pengolahan hasil perkebunan di Kabupaten Purworejo terdiri dari hammermill kopi, mesin luwak, mesin bubuk kopi, alat pengolah gula kelapa, alat pengolah minyak kelapa, alat pengolah emping mlinjo, alat suling daun cengkeh, dan alat suling minyak nilam.


Wilayah Kabupaten Purworejo


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Purworejo


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Purworejo


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Purworejo







Sumber :

http://www.purworejokab.go.id/

http://bappeda.purworejokab.go.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox