Kabupaten Solok Selatan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Solok Selatan berada pada jajaran Pegunungan Bukit Barisan yang termasuk dalam daerah Patahan Semangka. Posisi daerah secara geografis berada pada 01° 17’ 13” - 01° 46’ 45” Lintang Selatan dan 100° 53’ 24”- 101° 26’ 27” Bujur Timur. Dengan luas wilayah lebih kurang 3.590 Km². Tepatnya berada di bagian selatan Provinsi Sumatera Barat. Batas-batas wilayah Kabupaten Solok Selatan adalah:

Ø Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Solok.

Ø Sebelah Selatan dengan Kabupaten Kerinci (Provinsi Jambi).

Ø Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan.

Ø Sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Dharmasraya

Ibu kota Kabupaten Solok Selatan sendiri ditetapkan berkedudukan di Padang Aro. Jarak antara Padang Aro dengan Kota Padang adalah 166 Km. Secara administratif, sejak tahun 2007 Kabupaten Solok Selatan terdiri dari tujuh kecamatan, yaitu (i) Sangir, (ii) Sangir Jujuan, (iii) Sangir Balai Janggo, (iv) Sangir Batang Hari, (vi) Sungai Pagu, (vi) Pauh Duo dan (vii) Koto Parik Gadang Diateh. Secara keseluruhan kabupaten ini terdiri dari 39 nagari dan 215 jorong. Tiap kecamatan ini memiliki luas yang bervariasi. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Sangir Batang Hari dengan luas 752 km2 dan Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh dengan luas 673 km2. Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Sangir Jujuan dengan luas 279 km2 dan Kecamatan Pauh Duo dengan luas 265 km2.



Demografi

Berdasarkan data BPS Tahun 2011, jumlah penduduk Kabupaten Solok Selatan sebanyak 147.369 jiwa terdiri dari laki-laki 74.117 jiwa dan perempuan 73.252 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 41 jiwa/kilometer persegi. Bila dibandingkan dengan tahun 2010 terjadi peningkatan pertumbuhan penduduk 2,14 persen. Peningkatan kepadatan penduduk merupakan dampak langsung dari meningkatnya jumlah penduduk dari tahun sebelumnya.

jumlah penduduk terpadat terdapat pada wilayah Sungai Pagu yaitu 80,59 jiwa/km2 dan Kecamatan Sangir yaitu sebesar 61,75 jiwa/km2, dan yang terenggang Kecamatan Sangir Batang Hari dan Sangir Balai Janggo yaitu sebesar 17,73 jiwa/km2 dan 25,43 jiwa/km2, dengan rata-rata kepadatan penduduk sebesar 41,05 jiwa/km2 Jika ditinjau dari klasifikasi kepadatan penduduk, Kabupaten Solok Selatan tergolong daerah yang berpenduduk tidak padat (Undang-undang Nomor: 56/PRP/1960 membagi empat klasifikasi kepadatan penduduk, yaitu: tidak padat, dengan tingkat kepadatan 1 – 50 jiwa/ km2; kurang padat antara 51 – 250 jiwa/ km2; cukup padat 251 – 400 jiwa/ km2; dan sangat padat dengan tingkat kepadatan lebih besar dari 401 jiwa/km2).


Sejarah

Kabupaten Solok Selatan merupakan buah dari perjuangan panjang yang dimulai sejak tahun 1950-an yang ditandai dengan diadakannya Konferensi Timbulun. Pada Konferensi Timbulun saat itu digagas rencana pembentukan sebuah kabupaten dengan nama Kabupaten Sehilir Batang Hari yang memasukan wilayah Kecamatan Lembah Gumanti (Alahan Panjang), Pantai Cermin (Surian), Sungai Pagu (Muaro Labuh) dan Sangir (Lubuk Gadang).

Perjuangan panjang itu baru tercapai setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003. Pada 7 Januari 2004 diresmikanlah 24 kabupaten baru di Indonesia yang tiga di antaranya terdapat di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Solok Selatan, Dharmasraya, dan Pasaman Barat.

Tiga hari setelah diresmikan, atau pada 10 Januari 2004, Gubernur Sumatera Barat, melantik Penjabat Bupati Solok Selatan, Drs. Aliman Salim. Dalam perjalanan satu tahun Kabupaten Solok Selatan, Gubernur Sumatera Barat, H. Zainal Bakar kembali melantik Marzuki Omar sebagai Penjabat Bupati Solok Selatan menggantikan Aliman Salim yang sudah habis masa jabatannya. Melalui dua Penjabat Bupati, daerah pemekaran terus menata dan menjalankan roda pemerintah hingga terpilihnya bupati dan wakil bupati baru melalui pemilihan kepala daerah.

Pada proses demokrasi perdana itu, terpilih pasangan Drs. Syafrizal, M.Si. dan Drs. Nurfirmanwansyah yang dilantik pada 20 Agustus 2005 oleh Gubernur Sumatera Barat, di Padang Aro yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Solok Selatan.



Sosial dan Budaya

Batombe

Batombe adalah Tradisi yang hanya ada di Kabupaten Solok Selatan. Tradisi ini berupa berbalas pantun yang diiringi dengan alat musik tradisional Rabab. Batombe biasanya dilakukan oleh muda-mudi. Dalam pantun, mereka saling mengutarakan isi hati mereka. Tradisi Batombe ini biasanya dilaksanakan selama 7 malam bersamaan dengan kegiatan Baralek.

Lokasinya terletak di Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, sekitar 40 Km dari Ibu Kota Kabupaten Solok Selatan, Padang Aro.

Gandang Sarunai

Gandang Sarunai merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Solok Selatan. Sesuai dengan namanya, Gandang Sarunai merupakan perpaduan musik Serunai, Saluang, Gendang dan diiringi oleh Talempong. Kesenian tradisional ini berkembang di daerah Muaralabuh.


Potensi

Pariwisata

Pariwisata merupakan industri yang potensial. Sesuai dengan kondisi geografisnya, alam Solok Selatan merupakan perpaduan dari dataran rendah, dataran tinggi yang diselingi sungai dan pegunungan dengan hutan tropis yang masih asri. Dengan kondisi alam yang demikian pariwisata Solok Selatan menyimpan potensi yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Pengembangan pariwisata dilakukan dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan berorientasi pada ; pengembangan nilai budaya masyarakat, pelestarian karakteristik dasar masyarakat dengan mepertahankan nilai-nilai adat serta berlandaskan nilai-nilai agama.

Pariwisata di Solok Selatan secara umum dapat dikelompokkan atas 4 kategori : wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya dan wisata petualangan (olah raga) berupa wisata arung jeram menelusuri sungai-sungai perawan yang mempunyai karakteristik eksklusif dan menantang.

Untuk wisata alam antara lain perkebunan teh Sungai Lambai di kaki Gunung Kerinci sebagai kawasan agrowisata, panorama alam bukit barisan, panorama areal persawahan / pertanian yang ada disetiap sudut Solok Selatan, serta sumber air panas “Sapan Maluluang”.

Untuk wisata Sejarah terdapat situs Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bidar Alam, sedangkan untuk wisata budaya dapat dinikmati ke unikan rumah panjang 21 ruang di kecamatan Sangir Batang Hari, perkampungan seribu rumah gadang di Sungai Pagu, yang menjadikan Kabupaten Solok Selatan dijuluki “Nagari Seribu Rumah Gadang” oleh Dr. Meutia Hatta

Industri

Sektor industri sangat potensial untuk dikembangkan. Baik industri rumah tangga, industri kecil maupun industri menengah. Dari usaha industri kecil dan menengah terlihat adanya trend yang terus meningkat. Sepanjang tahun 2008, dari 112 unit industri kecil, telah mampu menyerap 466 orang tenaga kerja dengan nilai produksi Rp. 11.12 Milyar. Disamping itu juga telah ada 4 unit industri berskala besar yang mampu menyerap 20.000 tenaga kerja dengan nilai produksi mencapai Rp. 1,5 milyar setiap bulannya. Untuk tahun 2007 - 2008, pada Dinas Koperindag Kabupaten Solok Selatan mencatat peningkatan jumlah industri kecil/kerajinan. Yang semula hanya 123 unit meningkat menjadi 266 unit. Dilihat dari jenisnya, industri logam mesin dan kimia dari 3 unit di tahun 2007 meningkat menjadi 9 unit tahun 2008. industri hasil pertanian dan kimia agro dan hasil hutan naik dari 99 unit tahun 2007 menjadi 221 unit tahun 2008. Dari industri kecil/kerajinan terserap tenaga kerja sebanyak 898 orang dengan nilaiproduksi mencapai Rp. 30,307 milyar.

Guna menunjang peningkatan jumlah industri tersebut pemerintah daerah telah melakukan berbegai langkah kebijakan yang antara lain berupa penyempurnaan pelayanan perizinan bagi dunia usaha. Hasilnya berupa peningkatan jumlah SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan) yang diterbitkan.

Perdagangan & Jasa

Nilai perdagang tahun 2004 yang semula bernilai Rp. 106,298,890.000,- tahun 2005 naik menjadi Rp. 120.178.150.000,-, tahun 2006 menjadi Rp. 139.548.820.000,-, tahun 2007 naik lagi menjadi Rp. 155.683.250.000,-, dan pada 2008 mencapai 184.888.150.000,-. dari sini dapat dilihat peningkatan dan pertumbuhan ekonomi Solok Selatan.

Sementara itu untuk sektor jasa mulai dari tahun 2004 sebesar Rp. 60.648.510.000,- pada tahun 2005, naik menjadi Rp. 67.468.810.000,- pada tahun 2006, naik lagi menjadi Rp. 75.076.750.000,- tahun 2007, dan pada tahun 2008 mencapai Rp.96.933.320.000,-.

Perbankan & Koperasi

Semenjak pemekaran, perekonomian daerah semakin membaik dan berkembang. Guna menunjang hal tersebut dibutuhkan bank dan lembaga keuangan lainnya yang dapat diakses secara online. Tahun 2008 telah ada 7 unit operasi perbankan milik pemerintah yakni Bank Pemerintah Daerah (BPD) Bank Nagari sebanyak 2 unit, Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebanyak 2 unit dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebanyak 3 unit. BPD/Bank Nagari dan BRI sudah online. Sementara itu koperasi yang ada mencapai 76 unit meliputi koperasi berbagai jenis usaha.

Bahan Galian / Tambang

Bahan tambang seperti, emas, Timah hitam, Biji besi, tembaga, mangan dan perak tersebar pada beberapa kecamatan. Sementara itu bahan galian industri yang masih dalam penyelidikan adalah bentonit, granit, marmer, obsidian, batu giok dan batu kapur. Khusus emas telah dilaksanakan penambangan oleh masyarakat sekitar secara tradisional. Ada juga Energi Panas Bumi yang terdapat di Kecamatan Pauh Duo, Dari penelitian yang telah dilaksanakan berpotensi membangkitkan energi listrik sebesar 1000 MW.

Untuk bahan galian C depositnya cukup besar tersebar diberbagai tempat dalam wilayah Kabupaten Solok Selatan. Bahan galian C yang dominan telah dikelola masyarakat baru berupa material pasir, batu dan kerikil (Sirtukil). Menjadi salah satu sumber PAD dan memberikan kontribusi pada APBD Kabupaten Solok Selatan.




Wilayah Kabupaten Solok Selatan


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Solok Selatan


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Solok Selatan


Tokoh

Sumber : http://www.solselkab.go.id/ http://www.iannnews.com/

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox