Kabupaten Sumenep

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Letak Kabupaten Sumenep yang berada diujung Timur Pulau Madura merupakan Wilayah yang unik karena selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang tersebar berjumlah 126 pulau (sesuai dengan hasil sinkronisasi luas Kabupaten Sumenep Tahun 2002). Kabupaten Sumenep terletak diantara 113 032 (54"-116 016 (48" Bujur Timur dan diantara 4 055 (-7 024 1 Lintang Selatan.

Gugusan pulau-pulau yang ada di Sumenep, Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dengan jarak ±151 Mil laut dari Pelabuhan Kalianget, dan pulau yang paling Timur adalah Plilau Sakala dengan jarak ±165 MiI laut dari Pelabuhan Kalianget. Sumenep memiliki batas-batas sebagai berikut :

1. Sebelah selatan berbatasan dengan : - Selat Madura

2. Sebelah Utara berbatasan dengan : - Laut Jawa

3. Sebelah Barat berbatasan dengan : - Kabupaten Pamekasan

4. Sebelah Timur berbatasan dengan : - Laut Jawa / Laut Flores

Luas daerah Kabupaten Sumenep adalah 2.093.457573 KM2, terdiri dari luas daratan 1.146,927065 KM 2 (54,79%) dan luas kepulauan 946.530508 KM 2 (45,21%) Sedangkan luas wilayah perairan Kabupaten Sumenep ± 50.000 KM2


Demografi

Jumlah penduduk di kabupaten sumenep tahun 2005 adalah 1.003.035 Jiwa dan kepadatan penduduk per km2 adalah 478,85 Jiwa/Km2



Sejarah

Perubahan dari Songennep menjadi Sumenep terjadi pada masa penjajahan Belanda, permulaan abad XVIII (1705). Belanda sudah memulai peran dalam menentukan politik kekuasaan pemerintahan di Madura termasuk Sumenep.

Pada awal abad XVIII Belanda mengubah sebutan Songennep menjadi Sumenep, terbukti dengan adanya bterbitan Belanda pada masa itu telah menggunakan sebutan nama Sumenep. Perubahan tersebut didasari oleh beberapa hal, antara lain:

1. Menurut tata bahasa, hal ini dilakukan oleh Belanda untuk penyesuaian atau kemudahan dalam pengucapan agar lebih sesuai dengan aksen Belanda. Bagi mereka lebih mudah mengucapkan Sumenep daripada melafalkan Songennep.

2. Untuk menanamkan penngaruhnya, pihak Belanda merasa perlu mengadakan perubahan nama Songennep menjadi Sumenep. Sebagai komparasi nama kata Jayakarta diubah menjadi Batavia, dll. Nama Sumenep menjadi baku di kalangan pemerintahan, karena setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama kabupaten ini disebut dengan nama kabupaten Sumenep.

Arti Kata Nama Songennep

Dalam kenyatannya menjadi jelas bahwa kata Songennep adalah nama asal pada masa kuno. Songennep menurut arti etimologis (asal-usul kata), yaitu :

1. Song berarti relung, geronggang (bahasa Kawi), Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi, Songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang.

2. Song berarti sejuk, rindang, payung. Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi, Songennep berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang.

3. Song berarti relung atau cekungan. Ennep berarti tenang. Jadi, Songennep berarti lembah, cekungan yang tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang.

Setelah menelaah sebutan Sonegennep dari arti katanya (etimologi). Beberapa pendapat yang berkembang di masyarakat Sumenep mengenai artian kata Songennep :

1. Songennep berasal dari kata-kata Moso ngenep.

Moso dalam bahasa Madura berarti lawan atau musuh, Ngenep berarti bermalam. Jadi, Songennep berarti lawan atau musuh menginap atau bermalam. Cerita mengenai asal-usul nama “Songennep” berdasarkan versi ini sangat popular di lingkungan masyarakat Sumenep. Cerita atau pendapat ini dihubungkan dengan suatu peristiwa bersejarah di Sumenep tahun 1750, yaitu saat diserangnya dan didudukinya keraton Sumenep oleh Ke Lesap yang berhasil menaklukkan Sumenep dan selama 1/2 bulan tinggal di keraton Sumenep. Karena peristiwa tersebut, maka dinamakan Moso Ngenep yang artinya musuh bermalam. Cerita ini tentunya tidak benar, sebab kitab Pararaton yang ditulis tahun 1475-1485 sudah menuliskan nama Songennep. Ini berarti nama Songennep sudah lahir sebelum Ke Lesap menyerang Sumenep.

2. Songennep berasal dari kata-kata Ingsun Ngenep.

Ingsun artinya saya, sedangkan Nginep artinya bermalam. Jadi Songennep berarti saya bermalam. Pendapat ini kurang popular di kalangan rakyat dibandingkan dengan versi lainnya. Ada orang yang menghubungkan dengan peristiwa ini dengan kejadian 700 tahunyang lalu, ketika Raden Wijaya mengungsi ke Madura akibat dikejar-kejar Jayakatwang.

3. Kemudian berkembang di kalangan masyarakat.

Pendapat-pendapat kependekan asal kata Songennep, seperti Songennep berasal dari kata Ngaso Nginep, Songennep berasal dari kata Lesso Nginep, Songennep berasal dari kata Napso Nginep. Pendapat ini hanya sekedar permainan kata yang tidak didukung dengan peristiwa yang melatar belakanginya.

Asal Usul Berdirinya Kabupaten Sumenep (Kadipaten Sumenep)

Saat itu Kadipaten Sumenep berada dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari, dengan penguasanya Raja Kertanegara. Dengan demikian Arya Wiraraja dilantik oleh Raja Kertanegara, sehingga sumber prasasti yang berhubungan dengan Raja Kertanegara dijadikan rujukan bagi penetapan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Sumber prasasti yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah prasasti berikut ini :

1. Prasasti Mua Manurung dari Raja Wisnuwardhana berangkat tahun 1255 M.

2. Prasasti Kranggan (Sengguruh) dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1356 M.

3. Prasasti Pakis Wetan dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1267 M.

4. Prasasti Sarwadharma dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1269 M.

Sedangkan sumber naskah (manuskrip) yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tokoh Arya Wiraraja, adalah manuskrip berikut :

1. Naskah Nagakertagama karya Rakawi Prapanca pada tahun 1365 M.

2. Naskah Peraraton di tulis ulang tahun 1631 M.

3. Kidung Harsa Wijaya.

4. Kidung Ranggalawe.

5. Kidung Pamancangan.

6. Kidung Panji Wijayakramah.

7. Kidung Sorandaka.

Dari sumber sejarah tersebut, maka sumber sejarah Prasasti Sarwadharma yang lengkapnya berangkat tahun 31 Oktober 1269 M, merupakan sejarah yang sangat signifikan dan jelas menyebutkan bahwa saat itu Raja Kertanegara telah menjadi Raja Singosari yang berdaulat penuh dan berhak mengangkat seorang Adipati.

Prasasti Sarwadharma dari Raja Kertanegara di Desa Penampihan lereng barat Gunung Wilis Kediri. Prasasti ini tidak lagi menyebut perkataan makamanggalya atau dibawah pengawasan. Artinya saat itu Raja Kertanegara telah berkuasa penuh, dan tidak lagi dibawah pengawasan ayahandanya Raja Wisnuwardhana telah meninggal tahun 1268 M.

Prasasti Sarwadharma berisi penetapan daerah menjadi daerah suatantra (berhak mengurus dirinya sendiri) dan lepas dari pengawasan wilayah thani bala (nama wilayah/daerah saat itu di Singosari). Sehingga daerah swatantra tersebut, yaitu daerah Sang Hyang Sarwadharma tidak lagi diwajibkan membayar bermacam-macam pajak, pungutan dan iuran.

Atas dasar fakta sejarah ini maka pelantikan Arya Wiraraja ditetapkan tanggal 31 Oktober 1269 M, dan peristiwa itu dijadikan rujukan yang sangat kuat untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269 M, yang diperingati pada setiap tahun dengan berbagai macam peristiwa seni budaya, seperti prosesi Arya Wiraraja dan rekan seni Budaya Hari Jadi Kabupaten Sumenep.


Sosial dan Budaya

Penduduk Kabupaten Sumenep terdiri dari 4 suku bangsa yaitu: Madura, Bugis, Mandar dan Bajoe. Dari keempat suku bangsa tersebut 3 suku bangsa, yaitu : Bugis, Mandar dan Bajoe berada di daerah kepulauan, yaitu: Pulau Masalembu dan Pulau Sapeken . Dengan demikian lebih dekat dengan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Sedangkan suku Madura merupakan mayoritas dan terdapat di wilayah daratan dan sebagian kecil di kepulauan.

Penduduk Kabupaten Sumenep mempunyai sifat terbuka dan bersemangat tinggi dalam menyukseskan pelaksanaan pembangunan daerahnya. Mereka bersedia berkorban untuk kepentingan orang banyak dan mempunyai sikap toleransi yang tinggi, ulet dan bekerja keras. Mata pencaharian pokok mayarakat Madura khususnya penduduk Kabupaten Sumenep adalah bertani atau masyarakat agraris. Pada umumnya penduduk Kabupaten Sumenep bersifat fanatis religius dan taat terhadap ajaran agama.

Mayoritas penduduk Kabupaten Sumenep berdasarkan data tahun 2003 beragama Islam (92,64%); sedangkan Protestan (0,09%); Katolik (0,09%); Hindu (0,03%); Budha (0,01%) dan lainnya (7,14%). Jumlah tempat peribadatan menurut agama di Kabupaten Sumenep pada tahun 2003 Mesjid berjumlah 1.413, Langgar berjumlah 2.848, Mushola/Surau berjumlah 926, Gereja berjumlah 5 dan Pura/Kuil berjumlah 1.

Kehidupan beragama di Kabupaten sumenep, baik antar umat beragama, antar sesama agama dan umat beragama dengan sesama agama, demikian juga penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat terpelihara dengan baik, dapat hidup berdampingan, saling toleransi, saling bantu dan saling berupaya untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat.



Potensi Daerah

Pertambangan

• Kabupaten Sumenep memiliki kandungan mineral yang cukup bervariatif. Misalnya dari jenis bahan galian golongan C yang terdiri dari pospat, batu gamping, calsit/batu bintang, gipsum, pasir kwarsa, dolomit, batu lempung dan kaolin.

• Pospat, merupakan endapan dalam gua yang dimanfaatkan penduduk untuk pupuk tersebar di Kecamatan Pasongsongan, Ambunten, Dasuk, Batang-Batang, Batu Putih, Gapura, Manding, Bluto, Guluk-Guluk, Lenteng, Ganding, Sumenep dan Arjasa.

• Batu Gamping, merupakan bahanbakuuntuk pembuatan semen tersebar di Kecamatan Pasongsongan, Dasuk, Gapura, Batang-Batang, Batu Putih, Lenteng, Ganding dan Sumenep.

• Calsit/batu bintang, digunakan untuk bahan bangunan dan sebagian dikirim ke Gresik, tersebar di Kecamatan Batu Putih dan Pasongsongan.

• Gipsum, ditemukan di dalam rekahan-rekahan batu lempung tersebar di Kecamatan Batu Putih Desa Gedang-Gedang dan Rubaru.

• Pasir Kwarsa, merupakan bahanbakuuntuk industri gelas, semen dan keramik. Batu pasir kwarsa berasal dari formasi ngrayong dan pasir kwarsa berasal dari endapan pantai tersebar di Kecamatan Pasongsongan, Ambunten, Dasuk dan Batang-Batang.

• Dolomit, tersebar di wilyah Bluto dan Batu Putih.

• Batu Lempung digunakan sebagai bahanbakupembuatan batu bata dan genteng tersebar di bagian selatan Pulau Kangean dan Pulau Paliat (juga sedikit mengandung kaolin).

• Kaolin, merupakan pelapukan dari batuan beku dan tuff, terdapat di sekitar gunung Mandala. Beberapa lokasi telah ditambang oleh penduduk dan dipasarkan ke Gresik danSurabaya.

Kabupaten Sumenep selain memiliki potensi kekayaan alam berupa bahan galian golongan C, juga memilki bahan tambang strategis berupa golongan A yang terletak di Pulau Pagerungan Besar Kecamatan Sapeken. Berdasarkan perjalanan waktu selain di Pulau Pagerungan Besar masih ada beberapa tempat yang terindikasi mengandung gas dan minyak bumi (ada rembesan minyak atau ditemukan zat organik sebagai tengara kalau ada sumber minyak).Diantaranya sekitar perairan Pulau Giligenting, Pulau Karamian Kecamatan Masalembu dan Kecamatan Pasongsongan.


Pertanian

Potensi Komoditi Pangan.

Tanaman pangan dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu komoditas beras (padi sawah dan padi gogo) dan komoditas palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ketela pohon dan ketela rambat). Seluruh komoditas tanaman pangan mempunyai nilai strategis dari segi perannya sebagai bahan makanan pokok, bahan baku industri atau sumber pendapatan bagi masyarakat petani.

Berdasarkan data Tahun 2003, luas panen komoditas beras (padi sawah dan padi gogo) adalah 25.556 Ha dengan jumlah produksi 214.511,9 Kw, sedangkan untuk komoditas palawija yang terdiri dari jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ketela pohon dan ketela rambat masing-masing sebagai berikut : luas panen jagung adalah 148.049 Ha dengan jumlah produksi 2.733.370 Kw, jagung sebagai makanan pokok tetap berada di peringkat pertama. Kemudian untuk luas panen kedelai adalah 7.158 Ha dengan jumlah produksi sebesar 98.617 Kw, luas panen kacang tanah adalah 4.701 Ha dengan jumlah produksi sebesar 68.426 Kw, luas panen kacang hijau adalah 14.888 Ha dengan jumlah produksi sebesar 147.391 Kw, luas panen ketela pohon adalah sebesar 14.887 Ha dengan jumlah produksi sebesar 1.427.239 Kw sedangkan luas panen ketela rambat adalah 106 Ha dengan jumlah produksi 4.885 Kw.

Potensi Komoditas Hortikultura.

Komoditas Hortikultura sering dianggap sebagai komoditas pertanian masa depan yang menjanjikan berbagai keuntungan. Pengembangan hortikultura diharapkan mampu memberi nilai tambah yang besar bagi produsen dan industri pengguna, sedangkan bagi konsumen juga dapat memperbaiki perimbangan gizi dan pola makanan yang saat ini bertumpu pada beras.

Komoditas sayur mayur yang diusahakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Sumenep terbanyak adalah lombok dengan jumlah produksi 25.500 Kw, bawang merah dengan jumlah produksi 18.240 Kw dan jumlah produksi terong adalah 17.550 Kw. Sedangkan untuk komoditas yang lain jumlah produksinya adalah sebagai berikut : bayam 10.540 Kw; kangkung 8.450 Kw; mentimun 6.790 Kw; tomat 6.400 Kw dan kacang panjang 6.300 Kw.

Sedangkan untuk komoditas buah-buahan jumlah produksinya cukup bervariatif. Buah mangga dengan jumlah produksi 252.949 Kw merupakan komoditas buah tertinggi jumlah produksinya. Peringkat kedua dan ketiga masing-masing buah pisang 186.687 Kw dan pepaya 86.347 Kw. Sedangkan untuk komoditas yang lain jumlah produksinya sangat bervariatif yaitu buah rambutan 18.978 Kw; jeruk 14.818 Kw; jambu biji 8.985 Kw; salak 4.076 Kw; sawo 2.815 Kw; nenas 679 Kw; belimbing 317 Kw dan alpukat 1 Kw.

Perkebunan

Berdasarkan data statistik Tahun 2003, komoditas perkebunan di Kabupaten Sumenep sangat bervariatif. Jumlah produksi tertinggi adalah kelapa yaitu 31.110,27 ton dengan luas lahan 48.027,01 Ha. Jumlah produksi lainnya masing-masing yaitu :

• Tembakau 14.793,43 ton dengan luas lahan 23.339,75 Ha

• Cabe jamu 4.328,22 ton dengan luas lahan 1.811,70 Ha

• Jambu mete 2.614,28 ton dengan luas lahan 8.921 Ha

• Kapok randu 1.851,20 ton dengan luas lahan 10.013 Ha

• Siwalan 1.626,82 ton dengan luas lahan 5.412 Ha

Tanaman tembakau merupakan komoditas unggulan yang menjadi komoditas favorit bagi masyarakat petani di Kabupaten Sumenep, dengan harapan hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Komoditas unggulan lainnya adalah kelapa, jambu mente, dan cabe jamu. Tanaman cabe jamu banyak diusahakan secara intensif, karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Komoditas perkebunan dari kelompok rempah-rempah, produksi terbesar adalah lempuyang 251,44 ton dengan luas 140 Ha.Temulawak 242,67 ton dengan luas 124 Ha. Kunyit 130,97 ton dengan luas 149 Ha; jahe 82,85 ton dengan luas 96 Ha. Komoditas rempah-rempah ini banyak ditanam masyarakat disamping untuk konsumsi rumah tangga juga untuk bahan dasar produksi jamu tradisional madura, sedangkan tanaman rempah terendah adalah kunci yaitu 8,8 ton dengan luas lahan 10 Ha.

Perikanan

Luas wilayah perairan Kabupaten Sumenep ± 50.000 Km² dengan jumlah pulau yaitu 126 pulau (data terkoreksi). Panjang pantai ± 577,76 Km; jumlah nelayan 30.120 orang; jumlah petani ikan 622 orang; jumlah perahu 7.530 unit dan alat tangkap 30.130 unit.

Berdasarkan estimasi produksi potensi sumber daya ikan di perairan laut Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan per tahun sebesar 50.000 Km² x 4,58 ton = 229.000 ton per tahun. Sedangkan menurut estimasi potensi sumber lestari dihitung 60% dari jumlah potensi yang ada atau 60% x 229.000 ton = 137.400 ton per tahun.

Pengembangan produksi perikanan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani nelayan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha yang berorientasi pada agrobisnis. Produksi perikanan yang dicapai Kabupaten Sumenep pada Tahun 2003 mencapai 43.828,386 ton per tahun atau 31,90% dari potensi lestari dengan nilai Rp. 547.854.825.000,-. Berarti potensi perikanan yang masih belum tergali sebesar 93.571,69 ton per tahun atau 68,10% dari potensi lestari. Kemampuan potensi sebesar ini masih perlu penanganan secara optimal sehingga kemampuan potensi yang ada dapat dinikmati untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan di lingkungan Kabupaten Sumenep. Produksi tahun 2003 tersebut mengalami kenaikan sebesar 1.798,076 ton atau 4,28% dibandingkan dengan produksi Tahun 2002 sebesar 42.030,310 ton.

Pariwisata

Kabupaten Sumenep dengan kondisi alam yang indah seperti panorama pantai, panorama bawah tanah (gua-gua), panorama bawah laut (taman laut) dan sumber mata airnya. Didukung pula adanya peninggalan sejarah berupa keraton, museum keraton dan makam raja-raja islam. Serta kekayaan seni budaya keterampilan tangan rakyatnya berupa seni batik, seni ukir, makanan dan jamu tradisonal, dapat mengarahkan Kabupaten Sumenep menjadi daerah tujuan wisata di Jawa Timur. Beberapa obyek wisata maupun atraksi seni tradisional dan budaya yang ada di Kabupaten Sumenep yang sudah maupun yang belum di kembangkan adalah : A. Wisata Alam

     1.    Pantai Lombang (Kecamatan Batang-Batang).
     2.    Pantai Slopeng (Kecamatan Dasuk).
     3.    Pantai Ponjug (Kecamatan Talango).
     4.    Pantai Badur (Kecamatan Batuputih).
     5.    Pantai Karamian (Kecamatan Masalembu).
     6.    Taman Kiermata (Kecamatan Saronggi).
     7.    Sumber Air Belerang (Kecamatan Pragaan).
     8.    Gua Jeruk (Kecamatan Kota Sumenep).
     9.    Gua Kuning (Kecamatan Arjasa).
     10.  Gua Pajuddan (Kecamatan Guluk-Guluk).
     11.  Gua Peteng (Kecamatan Arjasa).
     12.  Gua Arca (Kecamatan Arjasa).
     13.  Gua Tampeh (Kecamatan Ganding).
     14.  Areal Pancing (Kecamatan Kalianget dan Saronggi).
     15.  Rumah Berkasur Pasir (Kecamatan Batang-Batang).
     16.  Kolam Renang (Kecamatan Kota Sumenep).
     17.  Sumber Mata Air Batu Karang ( Kecamatan Arjasa).
     18.  Sumber Air Panas (Kecamatan Batang-Batang).
     19.  Batu Tali (Kecamatan Dungkek).
     20.  Batu Kondang (Kecamatan Dungkek).
     21.  Batu Kodung Bahari (Kecamatan Kalianget).
     22.  Goa (Kecamatan Nonggunong).
     23.  Pantai/Gunung Pasir Panaongan (Kecamatan Pasongsongan).
     24.  Sungai Grujugan (Kecamatan Pasongsongan).
     25.  Gua Mandalia (Kecamatan Saronggi).

B. Wisata Sejarah dan Agamis/Ziarah.

     1.    Keraton Sumenep (Kecamatan Kota Sumenep).
     2.    Museum Keraton Sumenep (Kecamatan Kota Sumenep).
     3.    Mesjid Agung (Kecamatan Kota Sumenep).
     4.    Pemakaman Asta Tinggi (Kecamatan Kota Sumenep).
     5.    Pemakaman Asta Katandur (Kecamatan Kota Sumenep).
     6.    Gunung Leket (Kecamatan Ganding).
     7.    Asta Belingi (Kecamatan Gayam).
     8.    Asta Nyamplong (Kecamatan Gayam).
     9.    Asta Adipoday (Kecamatan Gayam).
     10.  Asta (kuburan) Simo Winokromo (Kecamatan Gayam).
     11.  Asta K. Abdullah (Kecamatan Guluk-Guluk).
     12.  Asta Gumuk (Kecamatan Kalianget).
     13.  Benteng VOC (Kecamatan Kalianget).
     14.  Asta K. Faqih/Nyi Stir (Kecamatan Lenteng).
     15.  Pemakaman Pekke (Kecamatan Lenteng).
     16.  Asta Jokotole (Kecamatan Manding).
     17.  Bujuk/Asta Ponjuk (Kecamatan Nonggunong).
     18.  Asta Agung Ali Akbar (Kecamatan Pasongsongan).
     19.  Asta/Bujuk Panaongan (Kecamatan Pasongsongan).
     20.  Pemakaman Anggo Suto (Kecamatan Saronggi).
     21.  Asta Sayid Yusuf (Kecamatan Talango).

C. Wisata Bahari

     1.    Pantai Mamburit (Kecamatan Arjasa).
     2.    Taman Laut Pulau Saobi (Kecamatan Arjasa).
     3.    Taman Laut/Terumbu Karang (Kecamatan Masalembu).
     4.    Terumbu Karang (Kecamatan Ra’as).
     5.    Taman Laut Pulau Saor (Kecamatan Sapeken).
     6.    Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Pulau Saor (Kecamatan Sapeken)
     7.    Taman Laut Gililawak (Kecamatan Talango).

D. Wisata Konservasi

     1.    Kijang/Rusa di Kecamatan Arjasa dan Sapeken.
     2.    Ayam Bekisar di Kecamatan Arjasa.
     3.    Cagar Alam Pulau Saobi di Kecamatan Arjasa.
     4.    Pohon Cemara Udang (Kecamatan Batang-Batang).
     5.    Burung Betet (Kecamatan Masalembu).
     6.    Kucing Busok (Kecamatan Ra’as).
     7.    Penyu (Kecamatan Sapeken).
     8.    Burung Gosong, telurnya sebesar badannya (Kecamatan Arjasa).

E. Wisata Budaya

     1.    Kerapan Sapi (beberapa kecamatan ada).
     2.    Upacara Adat Nyadar (Kecamatan Saronggi).
     3.    Upacara Adat Petik Laut (Kecamatan Bluto dan Saronggi).
     4.    Topeng (beberapa kecamatan ada).
     5.    Ludruk (beberapa kecamatan ada).
     6.    Macopat (beberapa kecamatan ada).
     7.    Karawitan/Gamelan (beberapa kecamatan ada).
     8.    Pencak Silat (beberapa kecamatan ada).
     9.    Tari Sintong (Kecamatan Ambunten).
     10.  Saronen (Kecamatan Gayam dan Talango).
     11.  Jidur/Bedug (Kecamatan Gayam).
     12.  Rokatan Laut (Kecamatan Masalembu).
     13.  Musik Tong-Tong (Kecamatan Pasongsongan).
     14.  Hadrah (beberapa kecamatan ada).
     15.  Samroh (beberapa kecamatan ada).
     16.  Gambus (beberapa kecamatan ada).

F. Wisata Minat Khusus

     1.    Pondok Pesantren
     2.    Pembuatan Garam
     3.    Sentra Batik Sumenep di Kecamatan Bluto.
     4.    Pembuatan Ukir-ukiran.
     5.    Pembuatan Perahu
     6.    Pembuatan Topeng
     7.    Pembuatan Keris




Wilayah Kabupaten Sumenep


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Sumenep


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Sumenep


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Sumenep




Sumber : http://www.sumenep.go.id/ http://assyams.com http://kim-putrajaya-dasuk.blogspot.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox