Kabupaten Wonogiri

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Kabupaten Wonogiri, dengan luas wilayah 182.236,02 Ha secara geografis terletak pada garis lintang 7 0 32' sampai 8 0 15' dan garis bujur 110 0 41' sampai 111 0 18' dengan batas-batas sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : berbatas dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
  • Sebelah Timur : berbatas dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur).
  • Sebelah Selatan : berbatas dengan Kabupaten Pacitan (Jawa Timir) dan Samudra Indonesia.
  • Sebelah Barat : berbatas dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten.

Secara umum daerah ini beriklim tropis , mempunyai 2 musim yaitu penghujan dan kemarau dengan temperatur rata-rata 24 0 C hingga 32 0 C. Dengan topografi daerah yang tidak rata, perbedaan antara satu kawasan dengan kawasan lain membuat kondisi sumber daya alam juga saling berbeda. Di Wonogiri hampir sebagian besar tanahnya tidak terlalu subur untuk pertanian, berbatuan dan kering membuat penduduknya lebih banyak merantau(boro).

Kabupaten Wonogiri mempunyai Waduk buatan yaitu Gajah Mungkur yang selain menjadi sumber mata pencaharian petani nelayan dan sumber irigasi persawahan juga merupakan aset wisata yang telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan domestik.



Demografi

Jumlah Penduduk menurut registrasi yang ada sebanyak 1.117.115 jiwa pada tahun 2004 bertambah dari 1.112.825 jiwa Dari Jumlah penduduk 2004 tersebut 557.542 laki-laki dan 559.573 perempuan. Sementara Warga Negara Asing yang tercatat di Kec. Wonogiri ( 84.480 jiwa) dan paling sedikit di Kec. Paranggupito ( 20.889 jiwa ). Dari jumlah penduduk tahun 2004 yang tercatat maka tingkat kepadatan penduduk perkilometer adalah 613 jiwa.


Sejarah

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri dimulai dari embrio "kerajaan kecil" di bumi Nglaroh Desa Pule Kecamatan Selogiri. Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana, dan dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu perjuangan rakyat. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri ( Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.

Mulai saat itulah Ngalroh (Wonogiri) menjadi daerah yang sangat penting, yang melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah di kemudian hari. Tepatnya pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabi'ul awal (Mulud) Tahun Jumakir, Windu Senggoro: Angrasa retu ngoyang jagad atau 1666, dan apabila mengikuti perhitungan masehi maka menjadi hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 ( Kahutaman Sumbering Giri Linuwih), Ngalaroh telah menjadi kerajaan kecil yang dikuatkan dengan dibentuknya kepala punggawa dan patih sebagai perlengkapan (institusi pemerintah) suatu kerajaan walaupun masih sangat sederhana. Masyarakat Wonogiri dengan pimpinan Raden Mas Said selama penjajajahan Belanda telah pula menunjukkan reaksinya menentang kolonial.

Jerih payah pengeran Samber Nyawa ( Raden Mas Said ) ini berakhir dengan hasil sukses terbukti beliau dapat menjadi Adipati di Mangkunegaran dan Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya ( KGPAA) Mangkunegoro I. Peristiwa tersebut diteladani hingga sekarang karena berkat sikap dan sifat kahutaman ( keberanian dan keluhuran budi ) perjuangan pemimpin, pemuka masyarakat yang selalu didukung semangat kerja sama seluruh rakyat di Wilayah Kabupaten Wonogiri.

Ditemukannya hari jadi Wonogiri pada tanggal 19 Mei 1741 akan merupakan sumber kebanggaan sebagai pendorong kemajuan dan pembangunan daerah Wonogiri. Hari jadi itu sendiri sebenanrnya merupakan jati diri yang akan menjadi titik tolak untuk melihat ke masa depan dengan pembangunan yang berkesinambungan dengan berpedoman pada Stabilitas Undang-undang Koordinasi Sasaran Evaluasi dan Semangat Juang (SUKSES).

Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang pembentukannya ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah–Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah.

Kondisi Kabupaten Wonogiri yang kaya kepemilikan gunung dan perbukitan dengan unsur tanah yang bervariasi sehingga kaya akan potensi alam seperti hutan, sungai, waduk dan gua yang sangat potensial sebagai tujuan wisata. Kabupaten Wonogiri sebagai kota tujuan wisata sangat dimungkinkan karena :

- Dekat dengan tujuan wisata Solo dan Yogyakarta.

- Dekat dengan Bandara Adi Sumarmo Solo

- Event-event pariwisata cukup potensial

- Jaringan transportasi cukup lancar dari Pacitan, Ponorogo (Jawa Timur), Solo dan Yogyakarta.

- Potensi alam dan fasilitas cukup memadai.

Wonogiri kaya akan wisata ritual, karena menurut sejarahnya wonogiri didirikan oleh RM. Said (Pangeran Sambernyowo/MangkunegoroI). Salah satu petilasan RM.Said adalah Momumen Watu Gilang di Nglaroh Selogiri, Sendang Siwani terletak di Kecamatan Selogiri kurang lebih 5 Km arah ke utara Kota Wonogiri dan masih banyak petilasan yang lain, sebagai wisata ritual banyak dikunjungi orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.



Kebudayaan

Susuk Wangan

Upacara adat tradisional “Susuk Wangan” di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, dilakukan setiap tahun yaitu pada Hari Sabtu Kliwon Bulan Besar (Tahun Jawa). Bila dicermati dan direfleksikan secara mendalam (’tandesing bathin’- Bahasa Jawa), kegiatan tersebut betul-betul merupakan integrasi acara kebangkitan budaya, sosial, ritual-spiritual, pembangunan semangat pemberdayaan kebersamaan kegotong-royongan masyarakat yang luar biasa. Menurut dr. JB. Soebroto (2008), kegiatan semacam itu adalah betul-betul merupakan bentuk konkrit aktualisasi getaran jati diri manusia yang sangat menyentuh sanubari ajaran adiluhung “Eling Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Gusti, Memayu Hayuning Bawana“. Hal ini dapat direfleksikan lewat pengamatan acara adat tradisional “Susuk Wangan” yang dilaksanakan di Desa Setren, Kec. Slogohimo setiap tahun sekali.

Labuhan Ageng

Labuhan Ageng merupakan kegiatan ritual keraton Kasunanan Surakarta yang telah dilakukan sejak zaman Mataram dan hingga kini diikuti dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Labuhan tersebut dilakukan berdasarkan kepercayan masyarakat dan pihak keraton Kasunanan Surakarta bahwa Pantai Sembukan yang terletak di Kecamatan Paranggupito Wonogiri merupakan pintu gerbang ke 13 keraton laut Selatan (Kanjeng Ratu Kidul). Pintu gerbang tersebut digunakan oleh Kanjeng Ratu Kidul ketika akan mengadakan kunjungan dan pertemuan dengan Raja-raja di Jawa dari trah Mataram yang berkuasa di keraton Kasunanan Surakarta. Dengan adanya kegiatan labuhan tersebut dimaksudkan mengharap agar tercipta keselarasan kehidupan baik secara vertikal maupun horisontal. Kegiatan Labuhan Ageng juga dirangkai dengan berbagai sajian pagelaran kesenian untuk memeriahkan acara tersebut.

Gebyar Gajah Mungkur

Gebyar Gajah Mungkur adalah merupakan kegiatan wisata yang bersinergi antara Budaya,Rekreasi dan Olahraga yang telah dilakukan sejak adanya Waduk Gajah Mungkur yang melegenda karena dalam sejarahnya telah menenggelamkan sebanyak 51 Desa / Kelurahan dan memindahkan kurang lebih 60.000 jiwa.Kegiatan Gebyar diisi dengan kesenian baik tradisional maupun modern. dan pengunjung bisa menikmati panorama waduk dipadu dengan pegunungan seribu (kawasan Kars) yang sangat indah. selain itu, pengunjung juga bisa berlayar di perairan Waduk serta menikmati sajian makanan khas berupa ikan hasil dari Waduk Gajah Mungkur yang tersedia di warung apung (warung yang berdiri diatas perairan Waduk). Penutupan Event dilakukan dengan upacara Andum Ketupat yang dilakukan oleh Bupati Wonogiri yang diperebutkan oleh para pengunjung, hal ini dimaksudkan sebagai simbol menyatunya Kawulo-Gusti (Kebersamaan antara Pemimpin dengan Rakyat) agar tercipta kehidupan yang Toto Tentrem Kerto Raharjo.

Sedekah Bumi

Sedekah Bumi merupakan upacara ritual yang dilakukan di Obyek Wisata Kahyangan sebagai ungkapan rasa syukur serta doa masyarakat Wonogiri kepada Tuhan YME agar selalu mendapatkan keselamatan dan ketentraman. Pada saat menuju tempat upacara rombongan diikuti oleh arak-arakan terbangan/ sholawatan. Setelah upacara ritual kemudian berbagai makanan sarana sesaji tersebut dibagikan kepada pengunjung serta masyarakat sekitar. Konon Sedekah Bumi selain merupakan kepercayaan masyarakat setempat, dari pihak keraton Kasultanan Yogyakarta juga menerangkan bahwa Wisata Spiritual Kahyangan yang terletak di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri merupakan petilasan pertapaan raja-raja tanah Jawa (Mataram) antara lain Sultan Agung dan Panembhan Senopati. Konon ditempat inilah Danang Suto Wijoyo mendapatkan wahyu raja dan kemudian bergelar Panembahan Senopati selain itu juga digunakan untuk mengadakan perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk bersama-sama membangun pemerintahan di Jawa (Mataram).



Potensi

Peluang Ekspor Mete

Produksi mete di Kabupaten Wonogiri memang luar biasa. Bahkan dari delapan provinsi di Indonesia yang dikenal sebagai produsen mete terbesar, Wonogiri sangat mendominasi pasar dengan berhasil memasok mete hingga 70% lebih dan menembus pasar ekspor ke beberapa negara tetangga. Pada tahun 2010 silam, sedikitnya ada 14.934 kepala keluarga yang tersebar di 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri yang memilih menanam jambu mete untuk mendapatkan untung besar setiap bulannya. Tidaklah heran bila lahan pertanian seluas 21.658 Ha kini disulap menjadi kebun jambu mete, dan bisa menghasilkan mete gelondong kering hingga 12,00 ton dengan nilai jual sekitar Rp 70.000,00 – Rp 80.000,00 per kg.

Potensi Bisnis Gaplek

Memiliki lahan pertanian yang minim pengairan, membuat masyarakat Wonogiri lebih memilih singkong daripada tanaman lainnya untuk dikembangkan sebagai produk unggulan di sektor pertanian. Umumnya, singkong-singkong yang dihasilkan masyarakat kemudian dijemur menjadi gaplek dan diolah menjadi aneka macam produk baru seperti tiwul, maupun dikembangkan menjadi tepung tapioka untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan nasional. Bahkan tidak hanya itu saja, industri gaplek Wonogiri juga berhasil menembus pasar ekspor untuk memenuhi permintaan dari negara China.

Potensi Industri Mebel Kayu

Selain dikenal sebagai kota gaplek, Wonogiri juga dikenal sebagai sentra industri mebel yang memiliki kualitas bagus dengan harga yang kompetitif. Ukirannya yang sangat khas merupakan warisan dari para lelulur, sehingga tidak heran bila potensi industri mebel kayu yang tersebar di Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Batuwarno, Giritontro dan Paranggubito ini tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, namun juga berhasil menembus pasar luar negeri, seperti misalnya diekspor ke Eropa, Denmark, Jerman, serta Hongkong.


Wilayah Kabupaten Wonogiri


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Wonogiri


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Wonogiri


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Wonogiri



Sumber : http://www.wonogirikab.go.id http://dony.blog.uns.ac.id http://bisnisukm.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox