Masa Kecil Rasulullah

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Sudah menjadi kebiasaan wanita arab menyusukan anaknya apabila ibunya dalam keadaan sakit, demikian halnya dengan Muhammad SAW bin Abdullah, beliau disusukan kpd seorang wanita yang tinggal di suatu desa di pinggiran Kota Mekkah tepatnya di Desa Bani Sa’ad. Wanita yang mulia itu brnama Halimatus Sa’diyah. Dalam sirah Nabawiyah juga di jelaskan bahwa wanita yang juga menyusui Nabi Muhammad adalah Tsuwaibah, seorang hamba sahaya Abu Lahab yg juga sedang kebetulan menyusui anaknya yg bernama Masruh. Selama 4 tahun Muhammad SAW dlm asuhan Halimah, dan ketika berumur 5 tahun, barulah ia diasuh oleh ibunya sendiri.

Pada saat Muhammad SAW berusia 4 tahun terjadilah sesuatu hal yang menakjubkan. Yaitu, Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW lalu hatinya dibersihkan dgn air zam-zam. Setelah peristiwa itu, Muhammad SAW di bawa pulang ke Mekkah oleh Ummu Aiman & diserahkan kepada kakeknya Abdul Mutholib. Dgn penuh perasaan dan kasih sayang di dalam sanubari terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin terpupuk. Abdul Mutholib tidak ingin cucunya hidup sebatang kara, bahkan dia lebih mengutamakan cucunya dari pada anak-anaknya. Hanya 2 tahun diasuh oleh kakek Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu beliau berusia 8 tahun di tinggal wafat kakeknya dalam usia 80 tahun. Disitulah Nabi Muhammad SAW menangis saat mengantarkan jenazah kakeknya. Sbelum kakeknya meninggal, Abdul Mutholib pernah berwasiat agar Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib. Maka atas wasiat itu, Abu Tholib pun merawat Nabi Muhammad SAW. Dia melindungi dan membimbingnya ke jalan yang baik, sekalipun dia bukan orang kaya. Tapi sering ia berdagang ke Syam. Hingga berumur 40 tahun Nabi Muhammad SAW berada dalam penjagaan AbuTholib.

Suatu hari, saat Nabi Muhammad SAW telah berusia 12 tahun, ia ikut serta pamannya untuk berdagang ke Syam. Sesampainya di Kota Basrah, Abu Tholib bertemu dengan pendeta kristen bernama Bahiro atau Buhairoh yang nama aslinya Jurjis.Pendeta itu memperhatikan keadaan Muhammad SAW, maka Bahiroh mengerti bahwa Muhammad SAW itu yang disebut-sebut dalam kitab Injil dan Taurat. Abu Tholib diberi nasehat agar segera kembali saja ke Mekkah & memelihara Muhammad SAW sebaik-baiknya, karena ia memiliki ciri-ciri seorang nabi yang di tunggu-tunggu. Dan pada suatu hari nanti, pasti ada kaum yang memusuhinya. Maka setelah sampai di Syam. Ia segera kembali ke Mekkah sekalipun mendapatkan untung yang sedikit dari hasil dagangannya. Abu Tholib berbesar hati atas keterangan pendeta Nasrani itu, karena Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah yang disebut-sebut dalam kitab-kitab sebelumnya.


Sumber: http://pojoklangit.blogspot.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox