Propinsi DI Yogyakarta

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografi

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan tengah Pulau Jawa yang dibatasi oleh Samudera Hindia di bagian selatan dan Propinsi Jawa Tengah di bagian lainnya. Secara astronomis, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70° 33' LS - 8° 12' LS dan 110° 00' BT - 110° 50' BT.

Komponen fisiografi yang menyusun Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 4 (empat) satuan fisiografis yaitu Satuan Pegunungan Selatan (Dataran Tinggi Karst) dengan ketinggian tempat berkisar antara 150 - 700 meter, Satuan Gunungapi Merapi dengan ketinggian tempat berkisar antara 80 - 2.911 meter, Satuan Dataran Rendah yang membentang antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulonprogo pada ketinggian 0 - 80 meter, dan Pegunungan Kulonprogo dengan ketinggian hingga 572 meter.

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai luas 3.185,80 km², terdiri dari 4 kabupaten dan 1 Kota, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulonprogo. Setiap kabupaten/kota mempunyai kondisi fisik yang berbeda sehingga potensi alam yang tersedia juga tidak sama. Perbedaan kondisi fisik ini ikut menentukan dalam rencana pengembangan daerah.

Batas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut :

• Utara berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah

• Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia

• Timur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah

• Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah


Demografi

Penduduk DIY tercatat sebanyak 3.220.808 jiwa (Susenas, BPS, 2004) dengan persentase yang hampir berimbang antara penduduk perempuan dan laki-laki yaitu masing-masing sebesar 50,81% dan 49,19%. Pertumbuhan penduduk pada tahun 2004 adalah 0,42%, pertumbuhan tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni sebesar 1,79%, diikuti oleh Kabupaten Sleman (0,42%), Kabupaten Kulonprogo (0,19%), Kabupaten Gunungkidul (0,16%) dan Kabupaten Bantul (0,07%).

Dengan luas terkecil, Kota Yogyakarta justru memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 12.246 jiwa per km2. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul dengan luas terbesar menduduki peringkat terakhir kepadatan penduduk yaitu 462,33 jiwa per km2. Kepadatan penduduk Kabupaten lainnya adalah Kabupaten Sleman 1.642 jiwa per km2 , Kabupaten Bantul 1.610 jiwa per km2 dan Kabupaten Kulonprogo 641 jiwa per km2.


Sejarah

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai tradisi pemerintahan, karena Yogyakarta adalah Kasultanan, termasuk di dalamnya terdapat juga Kadipaten Pakualaman.

Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di jaman penjajahan Hindia Belanda disebut Zelfbesturende Landschappen. Di jaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I.

Baik Kasultanan maupun Pakualaman, diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1941 No. 47, dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 No. 577.

Pada saat proklamasi kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara RI, serta bergabung menjadi satu, mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Pegangan hukumnya adalah :

1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI.

2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Amanat Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (yang dibuat sendiri-sendiri secara terpisah).

3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 (yang dibuat bersama dalam satu naskah).

Dari 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara RI, justru dimasa perjuangan bahkan mengalami saat-saat yang sangat mendebarkan, hampir-hampir saja Negara RI tamat riwayatnya. Oleh karena itu pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang berkumpul dan berjuang di Yogyakarta pada waktu itu mempunyai kenangan tersendiri terhadap kota Yogyakarta. Apalagi pemuda-pemudanya yang setelah perang selesai, melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada, sebuah Universitas Negeri yang pertama didirikan oleh Pemerintah RI, sekaligus menjadi monumen hidup untuk memperingati perjuangan Yogyakarta.

Pada saat ini Kraton Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Puro Pakualaman dipimpin oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Keduanya memainkan peran yang sangat menentukan didalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat-istiadat jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta.

Kemudian Negara RI mengeluarkan Undang-undang Pokok Pemerintahan Daerah, yaitu Undang-undang No. 1 tahun 1957. Penetapan Presiden RI No. 6 tahun 1959 (disempurnakan), kemudian Undang-undang No. 18 tahun 1964. Kesemuanya itu mengatur perihal pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom. Yang terakhir Undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah kecuali mengatur Pemerintahan Daerah Otonom, sekaligus mengatur Pemerintahan Administratif.

Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk secara tersendiri dengan Undang-undang No. 3 tahun 1950 jo. No. 19 tahun 1950 yang sampai saat ini masih berlaku. Undang-undang No. 5 tahun 1974 Bab VII Aturan Peralihan pasal 91 (b) menyebutkan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang sekarang adalah Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Istimewa menurut Undang-undang ini, dengan sebutan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat pada ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya.

Dengan dasar pasal 18 Undang-undang Dasar 1945, Dewan Perwakilan Rakyat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintah-an Daerahnya yang sepatutnya dihormati.

Pasal 18 Undang-undnag Dasar 1945 itu menyatakan bahwa "pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa".

Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang No. 3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman. Sesudah Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat pada 3 Oktober 1988, Sri Paku Alam VIII, Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta ditunjuk untuk melaksanakan tugas dan kewenangan sehari-hari Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, diberi kedudukan sebagai Pejabat Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 340 tahun 1988. Sesuai dengan latar belakang sejarah berdirinya Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka keberadaan dan posisi raja-raja yang berada di Yogyakarta pun berubah karena tidak lagi bersifat politik namun lebih bersifat sebagai pemimpin dan pengayom di bidang pelestarian kebudayaan. Di Yogyakarta, terdapat 2 (dua) orang tokoh pemangku adat yang juga merupakan pemimpin di lingkungan kraton yaitu Sri SUltan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam ke IX.


Sosial Budaya

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa mempunyai sumbangan yang cukup besar dalam memajukan kebudayaan Nasional. Jumlah suku/etnis asli yang ada cenderung homogen yaitu 1 (satu) yaitu suku Jawa, meskipun demikian karena sebagai pusat pendidikan, budaya dan pariwisata maka sebetulnya para pendatang yang berasal dari luar DIY maupun luar Jawa juga banyak berdatangan di DIY. Seiring dengan jumlah suku/etnis asli hanya 1 (satu) buah, maka bahasa lokal yang digunakan selain bahasa Indonesia adalah hanya 1 (satu) buah bahasa lokal yaitu bahasa Jawa.

Lagu daerah

Suwe ora jamu, Pitik Tukunt, Sinom

Tarian tradisional

Tari Gambir Anom, Tari Serimpi, Tari Merak, Tari Bondan.

Senjata tradisional

keris

Rumah tradisional

Rumah Joglo

Alat musik tradisional

Gamelan jawa

Kesenian Tradisional

Ketoprak, wayang


Potensi Daerah

Industri

Industri berskala besar, sedang dan kecil yang ada di DIY merupakan salah satu sektor yang ikut menopang perekonomian daerah ini. Pada tahun 1997 tercatat ada 362 unit industri, di mana yang terbanyak adalah industri tekstil, pakaian jadi dan kulit, yakni 103 unit atau 28,45%. Jumlah industri berikut tenaga kerjanya di DIY tahun 1997 adalah sebagai berikut: industri makanan, minuman, dan tembakau 67 unit (5.678 orang); industri tekstil, pakaian jadi dan kulit 103 unit (16.031 orang); industri kayu dan barang-barang dari kayu 52 unit (2.730 orang); industri kertas dan barang-barang dari kertas 21 unit (1.950 orang); industri kimia dan barang-barang dari kimia 25 unit (1.766 orang); industri barang galian 46 unit (2.777 orang); industri barang-barang dari logam 28 unit (3.636 orang); dan industri lainnya 20 unit (1.247 orang).

Dalam hal penyerapan tenaga kerja, sektor industri mempunyai peran yang signifikan, yakni mampu menyerap 35.815 orang. Industri yang sekarang berkembang pesat di Yogyakarta antara lain industri kecil dan industri rumah tangga (home industry) seperti pembuatan batik, kaos, pakaian jadi, mebel, kerajinan kulit, perak, tanah liat/keramik, kertas daur ulang, anyaman bambu, pakaian jadi, cerutu, dan makanan/ minuman

Pertambangan

Di sektor pertambangan, DIY memiliki beberapa bahan tambang/galian seperti batu kapur, kalsit, andesit, pasir koral, dan gips. Kaolin dan pasir kwarsa banyak terdapat di Kab. Gunungkidul, dan Kulonprogo.

Pariwisata

DIY memiliki berbagai macam potensi wisata yang telah dikembangkan, terbagi atas wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja maupun wisata kuliner. Berikut disajikan beberapa tujuan wisata di DIY.

Gunung Merapi

Gunung Merapi yang merupakan salah satu tujuan wisata di Kabupaten Sleman terletak 25 km sebelah utara Kota Yogyakarta memiliki ketinggian 2.968 m di atas permukaan laut. Gunung Merapi pertama kali terbentuk sekitar 60.000-80.000 tahun yang lalu. Namun sejarah aktivitasnya mulai diamati dan didokumentasi sejak tahun 1791. Kawah Gunung Merapi berbentuk dataran tinggi yang berpasir dengan luas kurang lebih 4 hektar dengan beberapa kawah-kawah lebih kecil yang masih aktif. Puncak gunung berapi dapat diamati dari lereng sebelah barat yaitu desa Turi, sekitar 15 km dari Yogyakarta. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas, wisatawan dapat mengunjungi tempat pengamatan di Plawangan. Pendakian hingga puncak gunung Merapi dapat ditempuh dalam 7 hingga 8 jam. Jalur terpendek menuju puncak adalah melalui desa Selo, desa antara Merapi dan Merbabu, yang hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai puncak Merapi.

Kraton Yogyakarta

Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis/poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat. Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sekarang merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono X dan keluarganya. Kraton Yogyakarta didirikan oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1775. Lokasi tersebut berada di pusat Kota Yogyakarta dan di antara sungai Winongo dan sungai Code. Dahulu tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya. Bangunan ini menghadap ke arah utara dengan halaman depan berupa alun-alun (lapangan) yang dimasa lalu dipergunakan sbg tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat.

Parangtritis

Parangtritis, selain dikenal keindahan alam pantainya, juga terkenal sebagai tempat yang memikili berbagai peninggalan sejarah. Komplek Parangtritis terdiri dari Pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Dataran Tinggi Gembirowati. Terletak sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta, Pantai Parangtritis adalah pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta. Di Parangkusumo terdapat kolam permandian air panas ( belerang ) yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dalam. Kolam ini diketemukan dan dipelihara oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Adanya komplek kerajinan kerang, tempat pelelangan ikan (TPI) hingga hotel bertaraf Internasional (Queen of South), serta dokar wisata di Parangtritis ikut menyemarakkan pariwisata di wilayah ini.

Malioboro

Malioboro merupakan salah satu ‘trade mark’ Kota Yogyakarta. Hal ini selain Malioboro terletak di pusat kota, juga disebabkan keramaian dan semaraknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, dari pagi hingga malam hari. Hampir semua barang yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Ujung jalan Malioboro yang satu terhubung dengan jalan Mangkubumi dan dibatasi oleh stasiun kereta api Tugu dan ujung satunya lagi terhubung dengan jalan A.Yani. Dalam areal kawasan Malioboro dan sekitarnya banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi misalnya Siti Inggil Keraton Jogjakarta, pasar Beringhardjo, benteng Vredeburg, Gedong Senisono, Museum Sono Budoyo dan lainnya. Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Pada malam hari para wisatawan dapat menikmati hidangan-hidangan di warung lesehan di sepanjang jalan Malioboro, makanan yang disediakan dan ditawarkan dari jenis makanan khas Jogja yaitu nasi gudeg dan ayam goreng dan juga makanan Padang, ChinesseFood dan lain sebagainya. Saat menikmati hidangan yang disajikan akan dihibur oleh musik dari pedagang dan pengamen jalanan yang cukup banyak dari yang hanya sekedar bawa gitar adapula yang membawa peralatan musik lengkap.

Agrowisata

Kini wisatawan Yogyakarta dapat merasakan secara langsung memetik Salak Pondoh yang merupakan buah khas Yogyakarta di Agrowisata Salak Pondoh. Lokasi agrowisata ini tepatnya berada di wilayah desa Bangunkerto, Kec. Turi, Kab. Sleman, kurang lebih 25 km di utara Yogyakarta. Di lokasi ini diberikan fasilitas gardu pandang, kolam pemancingan, becak air, arena bermain anak-anak, tempat pertemuan, jalan setapak dan kios penjualan salak pondoh. Agrowisata ini memiliki luas zona inti 27 ha dari keseluruhan areal perkebunan salak seluas 633 ha.

Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan salah satu dari sekian banyak candi yang berada di DIY, dan merupakan candi kedua terbesar setelah candi Borobudur. Kompleks candi Prambanan dibangun oleh raja-raja wamca (dinasti) Sanjaya pada abad ke-9. Bilik Utama dari candi induk di komplek candi Prambanan ditempati Dewa Shiwa sebagai Mahadewa sehingga dapat disimpulkan bahwa candi Prambanan merupakan candi Shiwa. Agama Hindu mengenal Tri-Murti, yang terdiri dari Dewa Brahmana sebagai sang Pencipta, Dewa Wisnhu sebagai Sang Pemelihara dan Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Candi Prambanan atau candi Shiwa sering disebut sebagai candi Roro Jonggrang, berkait dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung, putri Prabu (Raja, yang dalam bahasa Jawa sering di sebut Ratu) Boko, yang membangun kerajaannya di atas bukit di sebelah selatan komplek candi Prambanan. Bagian tepi dari candi dibatasi dengan pagar lankan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang dapat dinikmati bilamana kita berperadaksima (berjalan mengelilingi candi dengan pusat candi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu. Cerita ini berlanjut pada pagar langkan di sebelah kiri (selatan) candi induk. Sedang pada pagar candi Whisnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah utara) candi induk, terpahat relief cerita Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan (titisan) Dewa Whisnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia. Gempa tektonik yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 juga mengakibatkan kerusakan pada situs candi ini. Hingga saat ini pemerintah daerah masih melakukan pemugaran candi dengan melibatkan arkeolog.

Monumen Yogya Kembali

Monumen Yogya Kembali yang terletak di jalan lingkar utara dibangun untuk mengenang berfungsinya kembali Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia, 6 Juli 1949. Bangunan setinggi 31 meter ini melambangkan pegunungan surgawi yang terletak di garis lurus khayal antara keraton di sebelah selatan dan Gunung Merapi di sebelah utara. Monumen ini berlantai tiga, lantai pertama terdiri atas sebuah museum, sebuah perpustakaan, sebuah auditorium, dan kafetaria. Lantai dua terdiri atas 10 diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Yogyakarta untuk merebut kembali ibukotanya dari penjajah Belanda yang menguasai Yogyakarta sejak Desember 1948 hingga Juli 1949. Di bagian atas gedung, tergambar 40 relief yang menceritakan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaannya mulai dari peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 hingga pengakuan Internasional atas status Indonesia pada 27 Desember 1949.






Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi DI Yogyakarta


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi DI Yogyakarta


Tokoh

Sumber : • http://www.jogjaprov.go.id/http://www.tasteofjogja.orghttp://ujp.ucoz.com

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox