Propinsi Kalimantan Selatan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Propinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak di antara 114 19" 33" BT - 116 33' 28 BT dan 1 21' 49" LS 1 10" 14" LS, dengan luas wilayah 37.377,53 km² atau hanya 6,98 persen dari luas pulau Kalimantan. Propinsi Kalimantan Selatan memiliki batas wilayah sebagai berikut :

• Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur

• Selatan berbatasan dengan Laut Jawa

• Barat berbatasan dengan propinsi Kalimantan Tengah

• Timur berbatasan dengan Selat Makasar

Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2005 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.

Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah: Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan.


Demografi

Kalimantan Selatan sebuah provinsi dengan luasan terkecil diantara provinsi-provinsi di pulau Kalimantan yaitu 37.530,52 Km2 atau hanya 6,98 % dari total luas pulau Kalimantan, dengan luasan tersebut dihuni oleh penduduk sebanyak 2.969.028 jiwa pada tahun 2000 dan pada tahun 2005 telah mencapai 3.250.100 jiwa. rata-rata jumlah penduduk yang ada dalam 1 kilo meter persegi atau dalam 100 Ha tanah di Kalimantan Selatan adalah 86 jiwa/KM2.

Sejarah

Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdiri Kerajaan Tanjung Puri sekitar abad 5-6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut Kerajaan Kahuripan, yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu berdiri kerajaan Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa.

Pada abad ke 14 muncul Kerajaan Negara Daha yang memiliki unsur-unsur Kebudayaan Jawa akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan dari Jawa menghancurkan Kerajaan Dipa ini. Untuk menyelamatkan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dengan raja sebagai pemimpin utama. Negara Daha pada akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan yang berlangsung sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara, selain juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara tersebut.

Pemimpin utama para patih bernama MASIH. Sementara tempat tinggal para MASIH dinamakan BANDARMASIH. Raden Samudra mendirikan istana di tepi sungai Kuwin untuk para patih MASIH tersebut. Kota ini kelak dinamakan BANJARMASIN, yaitu yang berasal dari kata BANDARMASIH.

Kerajaan Banjarmasin berkembang menjadi kerajaan maritim utama sampai akhir abad 18. Sejarah berubah ketika Belanda menghancurkan keraton Banjar tahun 1612 oleh para raja Banjarmasin saat itu panembahan Marhum, pusat kerajaan dipindah ke Kayu Tangi, yang sekarang dikenal dengan kota Martapura.

Awal abad 19, Inggris mulai melirik Kalimantan setelah mengusir Belanda tahun 1809. Dua tahun kemudian menempatkan residen untuk Banjarmasin yaitu Alexander Hare. Namun kekuasaanya tidak lama, karena Belanda kembali.

Babak baru sejarah Kalimantan Selatan dimulai dengan bangkitnya rakyat melawan Belanda. Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin rakyat yang gagah berani. Ia wafat pada 11 Oktober 1862, kemudian anak cucunya membentuk PEGUSTIAN sebagai lanjutan Kerajaan Banjarmasin, yang akhirnya dihapuskan tentara Belanda Melayu Marsose, sedangkan Sultan Muhammad Seman yang menjadi pemimpinnya gugur dalam pertempuran. Sejak itu Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Daerah ini dibagi menjadi sejumlah afdeling, yaitu Banjarmasin, Amuntai dan Martapura. Selanjutnya berdasarkan pembagian organik dari Indisch Staatsblad tahun 1913, Kalimantan Selatan dibagi menjadi dua afdeling, yaitu Banjarmasin dan Hulu Sungai. Tahun 1938 juga dibentuk Gouverment Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Gubernur Pertama dr. Haga.

Setelah Indonesia merdeka, Kalimantan dijadikan propinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimanatn Selatan juga diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan kekuatan dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati menyebabkan Kalimantan terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai bagian wilayah Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang isinya menyatakan bahwa rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Wilayah itu dinyatakan sebagai bagian dari wilayah RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang dilakukan dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuknya Dewan Banjar oleh Belanda.

Menyusul kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan kehidupan pemerintahan di daerah juga mengalamai penataaan. Di wilayah Kalimantan, penataan antara lain berupa pemecahan daerah Kalimantan menjadi 3 propinsi masing-masing Kalimantan Barat, Timur dan Selatan yang dituangkan dalam UU No.25 Tahun 1956.

Berdasarkan UU No.21 Tahun 1957, sebagian besar daerah sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan dijadikan Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan UU No.27 Tahun 1959 memisahkan bagian utara dari daerah Kabupaten Kotabaru dan memasukkan wilayah itu ke dalam kekuasaan Propinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu Propinsi Kalimantan Selatan tidak lagi mengalami perubahan wilayah, dan tetap seperti adanya. Adapun UU No.25 Tahun 1956 yang merupakan dasar pembentukan Propinsi Kalimantan Selatan kemudian diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 1957 dan UU No.27 Tahun 1959


Sosial budaya

Penduduk asli Kalimantan Selatan umumnya suku bangsa Banjar yang intinya terdiri dari sub suku, yaitu Maayan, Lawangan dan Bukiat yang mengalami percampuran dengan suku bangsa Melayu, Jawa dan Bugis. Identitas utama yang terlihat adalah bahasa Banjar sebagai media umum. Penduduk pendatang seperti Jawa, Melayu, Madura, dan Bugis sudah lama datang ke Kalimantan Selatan. Suku bangsa Melayu datang sejak zaman Sriwijaya atau sebagai pedagang yang menetap, suku bangsa Jawa datang pada periode Majapahit bahkan sebelumnya, dan orang Bugis datang mendirikan kerajaan Pegatan di masa lalu.

Suku-suku Maayan, Lawangan, Bukit, dan Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar. Kerajaan banjar pada abad ke-16 dan 17 sudah mengadakan hubungan dengan kesultanan Demak dan Mataram. Kerajaan inipun tidak luput incaran bangsa asing seperti Belanda dan Inggris yang silih berganti mendatangi pelabuhan Banjar.

Ketika terjadi perlawanan terhadap Belanda pada abad ke 29, tampil pemimpin-pemimpin seperti Sultan Hidayat dan Pangeran Antasari menghadapi Belanda.

Masyarakat adat Kalimantan Selatan terutama suku Banjar mengenal berbagai upacara adat yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Sejak masih dalam kandungan hingga saat kematian. Misalnya adanya adat berpantang bagi wanita hamil, upacara Bapalas bidan, yakni ketika bayi yang dilahirkan berumur 40 hari dan sekaligus memberikan nama, upacara perkawianan terdiri dari beberapa tahap, sejaka Babasasuluh yaitu mencari data-data tentang calon istri, Badatang yakni melamar, Bantar Patalian yaitu acara penyerahan seperangkat barang atau mas kawin, Qur’an dan puncak upacara adalah pengantin Batatai atau bersanding. Terakhir adalah upacara Pemakanan Pengantin yaitu kedua mempelai menjalani bulan madu, selama 7 hari 7 malam hanya makan dan minum di balik tabir tertutup.

Pada masyarakat Banjar berkembang seni sastra dan seni suara yang indah, yang semula dari pergaulan sehari-hari di anatara mereka saling sindir menyindir kadang-kadang dengan bahasa syair dan pantun-pantun dan ada kalanya bersifat humor di antara muda-mudinya. Sindir menyindir ini lama kelamaan berkembang menjadi seni sastra yang indah hingga kini misalnya pepatah-pepatah.

Di dalam seni rupa, suku Banjar mengenal sulaman-sulaman yang indah yang biasanya sebagai pelengkap peralatan upacara seni ukir, terdapat pada ukiran kayu pada bangunan rumah atau mesjid, juga pada kerajinan barang-barang dari Kuningan seperti tempat sirih, peludahan, bokor, kapit, abun dan sebagainya. Anyaman dari pandan ataupun rotan umumnya di kerjakan oleh wanita untuk mengisi waktu senggang berkembang pula di daerah lain.

Untuk seni bangunan terutama bangunan rumah, masyarakat suku Banjar sudah memiliki arsitektur yang cukup tinggi nilainya. Rumah-rumah tradisional berupa rumah panggung dengan atap yang menjulang tinggi. Dar samping bila di lihat seperti piramide. Ruamh-rumah panggung tersebut berbeda satu sama lainnya karenanya, dapat diketahui status sosial pemiliknya. Dahulu rumah-rumah tersebut dibedakan dalam beberapa golongan atas, seperti bangsawan, ulama, pedagang mempunyai rumah bubungan tinggi yang disebut gajah baliku, palimasan palimbangan, gajak manyusu, rumah balai laki, dan rumah balai bini. Sedangkan bagi kebanyakan rumah adalah rumah cacak burung, rumah tadah alas, rumah gudang atau pondok biasa. Rumah bagi orang biasa umumnya berbentuk segi empat silang atau segi empat memanjang.

PRODUK BARANG KERAJINAN DAN MAKANAN KHAS BANJAR

Kain Batik Sasirangan

Sasirangan adalah jenis batik khas Kalimantan Selatan yang diproduksi secara tradisional. Motif khas yang terkenal antara lain, motif Gigi Haruan, Naga Balimbur, Junjung Buih, dan Gajah Gemuling.

Lampit Rotan

Lampit adalah sejenis karpet yang terbuat dari rotan dan inti rotan. Karpet dengan bahan dasar rotan dikenal dengan sebutan karpet/lampit rotan (Rattan Carpet) sedangkan dengan bahan dasar inti rotan dikenal dengan sebutan karpet Saburina (Rattan Saburina). Kedua jenis lampit rotan tersebut merupakan komoditas ekspor Provinsi Kalimantan Selatan.

Perhiasan Intan

Pusat perdagangan perhiasan intan terletak di Martapura, Kabupaten Banjar, sekitar 30 km dari Banjarmasin. Di lokasi ini, berdiri Proyek Pengembangan Penggosokan Intan (P3I) yang berada di bawah pengelolaan dan pembinaan KOPEBI Banjarmasin yang dikukuhkan dengan berita acara serah terima tanggal 21 Januari 1997 antara Pemimpin Bank Indonesia Banjarmasin kepada Ketua KOPEBI Banjarmasin.

Makanan Khas

• Ikan Saluang  : sejenis ikan kecil yang biasa dikonsumsi masyarakat Banjar baik untuk lauk pauk makanan maupun makanan ringan.

• Buah Kasturi  : sejenis mangga yang berukuran kecil berwarna merah jingga dan sangat harum dengan rasa manis.

• Jeruk Sungai Madang  : jeruk khas Kalimantan Selatan dengan rasa yang lebih manis dibandingkan dengan jeruk yang ada di Kalimantan. Umumnya terdapat di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tapin.

• Kue Bingka : sejenis kue yang terbuat dari terigu berbentuk poding dengan cita rasa beraneka seperti tapai, kentang, telor, nangka, dan lainnya.

• Amplang : sejenis kerupuk yang terbuat dari ikan Tenggiri yang renyah dan gurih

• Kue Lam Barabai : sejenis kue yang terbuat dari telor dan terigu dengan bentuk dan rasa manis yang khas dari Kabupaten Barabai.

• Dodol Kandangan : sejenis makanan yang terbuat dari ketan, kelapa, dan gula merah dengan aroma yang harum khas dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

• Dendeng Itik : makanan khas yang berasal dari daerah Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara.


Potensi daerah

Kehutanan

Produksi kayu yang dihasilkan di Kalimantan Selatan berupa kayu bulat dan kayu olahan, selama 5 tahun terakhir fluktuatif. Produksi kayu bulat tertinggi dicapai pada tahun 2002, sedangkan produksi kayu olahan tertinggi dicapai pada tahun 2003. Hasil dari produksi kayu ini dapat berupa kayu bulat ataupun kayu olahan seperti contohnya plywood, Block Board, Veneer, Sawn Timber, dan lain-lain


Pertambangan

Sektor Pertambangan di Kalimantan Selatan didominasi batu bara, di samping minyak bumi, emas, intan, kaloin, marmer, dan batu-batuan.

Perkebunan

Hasil sektor perkebunan di kalimantan selatan diantaranya adalah kelapa sawit, kakao, karet. Dan terdapat beberapa perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan membuka lahan di kalimantan selatan seperti PT. Damit Mitra Sekawan, PT. Kintap Jaya Watindo, PT Lunik Anugrah, PT. Surya Satrya Timur, PT Banua Lima Sejurus, dan masih banyak lagi.

Perikanan dan kelautan

Potensi di sektor perikanan dan kelautan Kalimantan Selatan (Kalsel) boleh dibilang berlimpah dan akan menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan bila digarap maksimal, apalagi dilengkapi dengan sentuhan tehnologi canggih. Potensi sektor ini cukup besar, yaitu memiliki Garis Pantai : 1.330 Km, Perairan Umum : 1 Juta Ha, Kolam : 2.400 Ha, Tambak: 53.382 ha dan Mina Padi : 3.752 Ha, sedangkan dari produksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2005 – 2008) terakhir terjadi peningkatan produksi perikanan. Pada tahun 2007 menunjukkan total produksi perikanan sebanyak 114.876 Ton meningkat menjadi 178.924 Ton pada tahun 2008.

Peternakan

Dari hasil pencapaian populasi ternak di Kalimantan Selatan selama empat tahun terakhir ini, khususnya mencermati perkembangan dari tahun 2006 sampai dengan Juni 2009 sektor ini mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Artinya target sasaran teknis yang ditetapkan telah dapat dicapai , bahkan kenaikan angka populasi ternak terus meningkat rata-rata 4,50 % per tahun. Keberhasilan sektor peternakan ini meliputi jenis ternak besar, kecil dan unggas.

Petanian

Hasil utama pertanian adalah padi, di samping jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan buah-buahan terdiri dari jeruk, pepaya, pisang, durian, rambutan, kasturi dan langsat. Sementara itu untuk produk perikanan yang paling populer adalah ikan papuyu dan seluang.

Pariwisata

Di Propinsi Kalimantan Selatan sendiri terdapat banyak objek wisata yang dapat dijadikan tujuan wisatawan baik lokal ataupun asing. Diantaranya adalah Pasar Terapung, Penggosokan Intan, Jembatan Barito, Air Terjun Loksado, Bendungan Riam Kanan, Makam Datu-datu atau Ulama Makam Datu Sanggul, dan lain-lain.





Wilayah


Pesantren

Pesantren di Propinsi Kalimantan Selatan


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi Kalimantan Selatan


Tokoh

Sumber : • http://www.kalselprov.go.id/http://infokalimantan.wordpress.comhttp://www.indonesia.go.idhttp://www.bi.go.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox