Propinsi Maluku

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Contents

Geografis

Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 632 pulau besar dan kecil. Pulau terbesar adalah Pulau Seram (18.625 Km2) disusul Pulau Buru (9.000 Km2), pulau Yamdena (5.085 Km2) dan Pulau Wetar (3.624 Km2). Pulau-pulau di daerah ini dapat digolongkan atas dua bagian utama yaitu pulau vulkanis dan pulau karang yang terjadi dari pertemuan anatara system orogenetik dan lingkar pasifik dengan system orogenetik sunda. Di pulau-pulau ini terdapat empat gunung , 11 danau dan 113 sungai besar dan kecil, sekitar 83% desa di provinsi ini berada pada ketinggian 0-100m dari permukaan laut. Iklim yang terdapat di kepulauan maluku adalah iklim Tropis dan iklim Muzon, karena Daerah maluku merupakan daerah kepulauan dan dikelilingi oleh lautan yang luas. Dengan demikian iklim di daerah ini sangat dipengaruhi oleh lautan yang luas dan berlangsung seirama dengan iklim musim yang terdapat di sini. Propinsi Maluku dengan Ibukota Ambon, terletak diantara 3? Lintang Utara 8.30? Lintang Selatan dan 125? - 135? Bujur Timur dengan batasan sebagai berikut : • di sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara

• di sebelah selatan berbatasan dengan Negara Tilor Leste dan Australia

• di sebelah barat berbatasan dengan Prpvinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah

• di sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Irian Jaya Provinsi Maluku memiliki Luas Wilayah : 712.479,69 km yang terdiri dari 54.185 km daratan, Dan 658.294,69 km lautan. Perbandingan luas wilayah darat dan laut adalah : 1 : 9. Tanah dataran tinggi hampir tidak ada. Pegunungan merupakan sebuah punggung yang membentang ditengah-tengah pulau membentuk deretan gunung dengan ketinggian tertinggi 3.055 m.

Demografi

Propinsi Maluku terdiri dari ribuan pulau-pulau kecil. Ibu kotanya adalah Ambon. Propinsi ini disebut juga dengan "Kepulauan rempah-rempah" karena propinsi ini merupakan penghasil cengkeh dan pala. Penduduk asli Propinsi Maluku adalah orang Ambon. Banyak pula orang-orang dari daerah lainnya yang menetap di Maluku, misalnya orang Jawa dan orang Bugis yang datang ke sana sebagai pedagang. Hasil Sensus tahun 2000 jumlah penduduk Propinsi Maluku sebanyak 1.200.000 jiwa .Sebagian besar penduduk daerah ini berdiam di wilayah pedesaan pada tahun 1995 : 75,43 %, umumnya terletak di pesisir pantai sedangkan yang berdiam di daerah perkotaan sekitar 24,57 %. Penyebaran penduduk tidak merata, dimana konsentrasi penduduk pada umumnya di pulau-pulau kecil seperti Ambon, Kepulauan Lease, Kei Kecil dan sebagian pulau sedang dan besar dapat dikatakan jarang penduduknya.


Sejarah

Seperti daerah – daerah lainnya di Indonesia, Maluku sebagai wilayah kepulauan memiliki perjalanan sejarah cukup panjang yang tidak dapat dilepas-pisahkan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Meskipun di daerah Maluku belum pernah ditemukan fosil/kerangka manusia purba, namun ada asumsi yang mengatakan, bahwa di Maluku pernah hidup manusia purba yang mempunyai kemiripan dengan manusia Homo Sapiens, yaitu manusia purba yang hidup sekitar 40.000 tahun SM di daratan Jawa dan pulau – pulau lain di Nusantara ini sebenarnya adalah manusia Australoid, yaitu suatu ras manusia yang punya kemiripan dengan penghuni pertama Pulau Seram.

Sebagai daerah yang cukup subur, Maluku tentu saja mengundang kedatangan kaum migrant dari berbagai kawasan yang menimbulkan gelombang perpindahan dan menghasilkan percampuran kebudayaan antara penghuni lama/asli dengan suku-suku pendatang yang kemudian melahirkan suku-suku baru, seperti suku Alune dan suku Wemale yang mendiami Pulau – pulau seram, Buru, dan Halmahera yang di duga merupakan nenek moyang suku – suku Alifuru, Togifil, dan Furu-Aru.Pada awal abad ke-7 pelaut – pelaut dari daratan Cina pada masa Dinasti Tang, telah menyinggahi daerah-daerah di kepulauan Maluku untuk mencari rempah –rempah, namun mereka merahasiakannya agar tidak diketahui oleh bangsa – bangsa lain dalam mencari rempah- rempah itu.Pada jaman keemasan Kerajaan Sriwijaya di Abad ke-12, Kepulauan Maluku termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan itu. Pada Abad ke-14, Majapahit mengambil alih kekuasaan maritime di hamper seluruh wilayah Asia Tenggara, termasuk pula Kepulauan Maluku. Para pedagarng dari Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda baru menemukan jalan ke Kepulauan Maluku pada Abad ke-16.Masuknya agama Islam melalui pedagang – pedagang dari Aceh, Malaka, dan Gresik pada Abad ke-14 dan ke-15 turut memperkenalkan bentuk pemerintahan yang lebih rapi dan teratur, seperti pada Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan serta Jailolo. Pada tahun 1512, bangsa Portugis yang telah menemukan jalan ke Kepulauan Maluku dan menjalin persahabatan dengan Kesultanan Ternate, diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikapoli dan Hitulama serta Mamala. Sembilan tahun kemudian, Spanyol mulai menapakkan kaki di Kepulauan Maluku dan mendirikan benteng di Tidore.Tahun 1570, karena kalah perang dengan Kesultanan Ternate yang diperintahkan Sultan Baabullah, Portugis diusir dari Ternate dan pindah ke Ambon. Tahun 1577 armada Inggris tiba di Ternate. Bangsa Belanda pun mulai mengincar Maluku dan membantu Hitu dalam perang melawan Portugis di Ambon dan Portugis akhirnya dapat dikalahkan dan harus menyerahkan benteng pertahanannya yang ada di Ambon kepada Belanda, demikian pula dengan bentent Inggris di Kambelo – Pulau Seram. Sejak saat itu, Belanda menguasai sebagian besar kepulauan Maluku. Posisi Belanda semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602 sehingga Belanda praktis menjadi pemegang monopoli perdagangan rempah – rempah di Kepulauan Maluku. Untuk memperkuat kedudukannya di Maluku, Belanda membentuk badan administratif yang disebut Governement van Amboina, demikian pula di Banda, Kei, Aru, Tanimbar serta teon-Nila Serua yang berada di bawah pengawasan Governement van Banda.System monopoli yang diterapkan Belanda dalam perdagangan rempah –rempah lambat laun mengundang perlawanan rakyat Maluku yang merasa tidak suka dengan penerapan system monopoli tersebut, sehingga muncullah perlawanan rakyat dimana – mana terhadap belanda. Tahun 1643 Kakiali mengobarkan perlawanan terhadap Belanda. Tahun 1644 Tulukabessy dan Fatiwani bangkit melawan Belanda, namun pada tahun 1646 perlawanan rakyat itu dapat dihancurkan Belanda dan Tulukabessy dihukum gantung di Benteng Victoria pada tahun 1648.Situasi Eropa turut mempengaruhi keadaan tanah jajahan Belanda di Nusantara tidak terkecuali di kepulauan Maluku. Tahun 1795, Kerajaan Belanda ditaklukkan oleh Perancis dan pada tahun 1799 VOC di bubarkan. Pada tahun 1810, Kerajaan Belanda menjadi bagian dari Kerajaan Perancis. Kondisi ini sangat berpengaruh bagi kekuasaan Belanda di Kepulauan Maluku. Tahun 1810 kekuasaan Belanda di Maluku jatuh ke tangan Inggris. Inggris Menguasai Maluku sejak tahun 1811 – 1817 Tahun 1814, sesuai Konvensi London, Inggris harus mengembalikan daerah – daerah jajahan yang direbutnya itu kepada Belanda. Tahun 1817, Belanda mulai mengatur kembali pemerintahannya di Maluku dan menyatukannya dalam satu government, yaitu Governement de Molukken.

Apa yang Anda ingat dari sejarah Maluku? Tentunya sosok pahlawan perjuangan yang sejak sekolah dasar dikenal kepada kita. Pahlawan tersebut adalah Thomas Matulessy yang kemudian diberi gelar Kapiten Pattimura. Padahal lebih dari itu, Maluku ternyata menyimpan sejarah sebagai provinsi tertua sejak kemerdekaan Republik Indonesia. Melimpahnya rempah-rempah di Maluku menjadi cikal-bakal perjalanan panjang sejarah penjajahan di Maluku.

Al-Mulk

Maluku dikenal kawasan Seribu Pulau, mempunyai ragam sosial budaya dan kandungan alam melimpah ruah. Ditarik dari sisi sejarah, kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau itu. Nama Maluku sendiri berasal dari kata bahasa Arab Al-Mulk yang mempunyai makna tanah kerajaan.

Rempah

Maluku juga memiliki perjalanan sejarah panjang, seperti juga daerah lain, yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sejak dahulu kala, Maluku yang kaya akan rempah ini dikenal di lintas internasional.

Abad ke-7 pelaut Cina Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku mencari rempah-rempah. Mereka merahasiakannya kayanya Maluku, agar tak ada bangsa lain yang datang.

Namun pada abad ke-9 pedagang Arab akhirnya menemukan Maluku setelah terombang-ambing mengarungi Samudra Hindia. Selanjutnya, pada abad ke-14 merupakan era perdagangan rempah Timur Tengah dan menjadi sumber masuknya agama Islam di Maluku melalui pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik.

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku. Tepatnya pada tahun 1512 membawa dua armada di bawah pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau. Seperti biasa, mereka melakukan kunjungan ke raja-raja dan mendapatkan izin mendirikan benteng. Namun hubungan tidak lama.

Portugis melakukan sistem monopoli dan menyebarkan agama Kristen. Sejarah mencatat, persahabatan Portugis dan kerajaan Ternate di Maluku berakhir pada 1570 oleh perlawanan Sultan Babullah selama 5 tahun tepatnya sejak tahun 1570 hingga 1575.

Portugis angkat kaki dari Ternate. Hal ini lansung dimanfaatkan oleh Belanda untuk masuk ke Maluku. Belanda semakin kuat karena adanya VOC. Belanda pun menjadi penguasa tunggal di kepulauan Maluku.

Belanda mendapat tantangan keras dari rakyat Maluku karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan sesama masyarakat memburuk. Di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang kelak diberi nama Kapitan Pattimura, rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata.

Thomas tak lain adalah bekas sersan mayor tentara Inggris. Meski kemenangan perjuangan awal kian menggelorakan pemuda-pemuda lain, namun kelicikan Belanda pada akhirnya memprokporandakan para pejuang. Pattimura pun dihukum mati.

Penjajahan Jepang

Berkecamuknya perang pasifik pada 1941 mencatat kisah sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jenderal Belanda kala itu, melalui radio menyatakan pemerintah Hindia Belanda berada dalam keadaan perang dengan Jepang.

Sementara tentara Jepang tidak menemui banyak kesulitan saat merebut kepulauan di Indonesia. Mereka masuk dari daerah utara melalui pulau Morotai sementara arah timur melalui pulau Misool. Akhirnya, dalam waktu singkat seluruh wilayah Kepulauan Maluku dikuasai.


Sosial dan Budaya

Suku bangsa Maluku didominasi oleh suku bangsa Melanesia Pasifik, yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga, dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudera Pasifik.

Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa-bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: ukulele (yang terdapat dalam tradisi budaya Hawaii).

Mereka umumnya memiliki kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar, dan profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.

Pada massa modern saat ini, banyak diantara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkawinan dengan suku Minahasa, Sumatera, Jawa, dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda) sudah lazim di massa modern ini, dan melahirkan keturunan-keturunan baru, yang mana sudah bukan ras melanisia murni lagi. Beberapa suku yang berada di Maluku, diantaranya; suku Ambon, suku Lumoli, suku Nuaulu, dan suku Rana.

Sebelum bangsa Portugis menginjakkan kakinya di ternate (tahun 1512), bahasa Melayu telah ada di Maluku dan dipergunakan sebagai bahasa perdagangan. Bahasa Melayu Ambon berbeda dengan bahasa Melayu ternate karena pada zaman dahulu suku-suku di Ambon dan yang tentunya mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu Ambon sangat berbeda dari suku-suku yang ada di Ternate. Masing-masing bentuk bahasa Melayu mempunyai peran penting dalam masyarakat Maluku sebagai dasar untuk bahasa nasional. Lagu daerah yang akrab dinyanyikan masyarakat, yaitu Sarinande dan Burung Kakak Tua.

Jika di rinci berdasarkan pemeluk agama, pada umumnya penduduk Provinsi Maluku beragama Islam sebanyak 780.579 orang, Kristen 399.879 orang, Katolik 95.201 orang, Hindu 2.619 orang, Budha 461 orang, Konghucu 221 orang, dan lain-lainnya 135 orang. Jumlah tempat ibadah, meliputi masjid sebanyak 1,028 buah, gereja 1.130 buah, pura 13 buah, dan vihara sebanyak 5 buah. Meskipun memiliki penganut agama yang berbeda, namun kerukunan antar umat beragama terjaga dengan baik.


Potensi Daerah

Perikanan

Dalam pembangunan Perikanan Kabupaten Maluku Tengah kegiatan usaha perikanan merupakan porsi terbesar. Sampai dengan akhir Pelita VI tercatat 21.172 nelayan yang mengoperasikan 15.774 buah kapal dan perahu baik yang menggunakan kapal motor maupun perahu tanpa motor. Dari keseluruhan nelayan yang disebutkan diatas ternyata baru terorganisasi sebanyak 297 kelompok nelayan, kenyataan seperti ini disebabkan karena mayoritas nelayan tersebar pada pulau-pulau kecil. Hal ini menunjukkan kenaikan rata-rata per tahun untuk nelayan sebesar 2,23%, peningkatan produksi perikanan tidak terlepas dari pendukung kegiatan perikanan antara Rumah Tangga Perikanan (RTP) dan nelayan yang mengusahakan pengelolaan di bidang perikanan, penangkapan, budidaya maupun pengolahan.

Perkebunan

Sektor perkebunan di KAPET Seram merupakan salah satu sektor unggulan yang diharapkan dapat banyak memberikan kontribusinya guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional khususnya di wilayah yang bersangkutan, serta secara umum pembangunan ekonomi nasional (sumber devisa negara). Dan komoditi-komoditi unggulan dari sektor perkebunan ini adalah : kelapa, cengkeh, pala, kakao/coklat, kapuk, karet, dan panili.

Luas lahan yang telah dipergunakan untuk sektor perkebunan ini dengan berbagai komoditi di Maluku Tengah. Hingga Tahun 1997 (berdasarkan Laporan Tahun Perkebunan Tingkat II Maluku Tengah), total luas areal lahan yang dipergunakan untuk Perkebunan Rakyat (PIR) seluas 79.007 Ha, PTPN (PTP XIV) seluas 6.407 Ha, Perkebunan Swasta Besar seluas 7.600 Ha.

Pertambangan

Potensi pertambangan sumberdaya alam mineral di KAPET Seram sangat menggembirakan. Berbagai mineral alam yang dapat ditambang di KAPET Seram antara lain : Minyak dan Gas Bumi, Kapur (CaO), Galian C/Building Material (B), Alumunium (AI), Batubara/Coal (C), Batu Gamping/Limestone (Lm), Mika (Mk), Pyrite (Py), Emas (Au), Pasir Besi dan Kapur. Sumber mineral yang dapat ditambang tersebut terdapat diberbagai daerah/Kecamatan Pulau Seram. Hingga kini pemanfaatan sumber daya alam mineral yang ada di KAPET Seram masih dapat dikatakan sangat minimal, dan pada dasarnya penambangan yang dilakukan adalah Galian C yang digunakan sebagai bahan bangunan (Material Building) serta Minyak dan Gas Bumi. Khususnya untuk minyak dan gas bumi hingga kini penambang telah sampai ke tingkat eksplorasi yang terletak di lokasi/Kecamatan Bula.




Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi Maluku


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi Maluku


Tokoh

Sumber : • http://www.malukuprov.go.id/http://www.bi.go.idhttp://www.indonesia.go.id

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox