Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Kembali ke Main Page << Indonesia


Contents

PROFIL

GEOGRAFI

Provinsi Aceh memiliki luas wilayah 57.365.57 Km 2 Provinsi yang terletak di wilayah paling barat Indonesia sebelah barat berbatas dengan Samudera Hindia, sebelah Timur dengan Selat Malaka. Di tengah Provinsi ini berjajar bukit barisan melalui dataran tinggi Tangse, Gayo dan Alas, puncak yang paling tinggi adalah lauser (3.466m), ucop mulo (3.187m), Abong-abong (3.015m), peut sago (2.786m) geureudong (2.295m) dan Burni telon (2.566m). Pengunungan Aceh Raya dengan terdapat puncak Seulawah Agam (1.762m) dan Seulawah Inong (865m). Daerah ini juga terdapat beberapa danau yaitu Danau Laut Tawar di Aceh Tengah Danau Aneuk Laot di Pulau Weh dan Laut Bangko di Aceh Selatan, Sungai yang bermuara ke Selat malaka adalah Krueng Aceh Krueng Peusangan, Krueng Peureulak, Krueng Tamiang, sedangkan sungai yang bermuara ke Samudera India adalah Krueng Teunom Krueng Meureubo, Krueng Simpang Kanan dan Simpang Kiri. Sungai yang besar adalah Alas dan Tripa yang popular untuk rafting.


IKLIM

Aceh beriklim tropis bermusim kemarau di awal bulan Maret sampai Agustus dan Musim hujan di bulan September sampai dengan Februari. Curah hujan berkisar antara 1000 mm dan 3000 mm di pesisir utara dan timur, dan 3000 mm di bagian pesisir barat dan Selatan. Temperatur di pesisir rata-rata 23 - 32 derajat dengan angka relatif kelembaban 65 dan 75%. Sebaliknya angin timur tetap setiap tahun pertengahan tahun didominasi angin barat yang menyebabkan gelombang laut naik sepanjang pesisir barat.


FLORA DAN FAUNA

Terdapat Berbagai Jenis flora mulai dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi, hutan-hutan asli baik yang telah di eksploitasi maupun yang belum, beberapa tumbuhan liar dan sudah dinyatakan sebagai spesies langka, seperti Reflessia, Sang Lesf. Daun Sang tumbuh berkelompok dalam hutan wisata. Tumbuhan ini bagian dari family palmae dan berdaun sangat besar. Kawasan alam dilindungi untuk kelestarian hidup flora dan fauna dibagi tiga kelompok Taman Nasional Gunug Leuser, hutan wisata (Taman buru Linge) di Aceh Tengah, dan Taman Laut di Pulau Weh, cagar alam di Aceh Tenggara dan Aceh Selatan. Dari sekitar 120 jenis kayu, 22 jenis dapat di proses secara komersial yaitu ramin (dyerespp) bulan (shorea SPP) burung durian (durio cauntinatus mast) gerunggang (cratoxilou SPP) Punah (tera menstaglobraming) sumber (sindora SPP) pasang (quercuss SPP) jambu (engenia SPP) pulai (Alsotonmia) medang (alseodaphhne SPP) kapur (arubalapops SPP) kemupas (Kompasia malaecencres maing) resak (vatica SPP) malas (parastemon urophyum) pisang-pisang (mazzetia parviflora becca) krueing (dipteccalpos SPP) seumantok (pine and resin). Di samping itu Provinsi Aceh juga terdapat hasil hutan seperti gaheru madu dan lain-lain. Ratusan tahun lalu Indonesia, khususnya Propinsi Aceh terpisah dari daratan Asia ditandai dari banyaknya terdapat binatang yang sama di semenanjung Malaya dan di daerah Aceh. Di daerah ini potensi faunanya relatif besar. Tercatat bahwa ada 512 jenis binatang menyusui 313 burung, 76 reptil dan 18 amphibi. Beberapa jenis satwa yang menarik sekarang tergolong langka dapat dijumpai di daerah ini, seperti Badak Sumatera (dhidernoseros sumatrensis), Harimau Sumatera (pan the rarigris Sumatroe), mawas atau orang utan, kambing hutan sumatera (nomor heaedus sumatrensis), gajah(elephants mazimus), dan berbagai jenis burung, seperti Rangkongnya, kuaw, ang raja udang. Di samping itu terdapat beberapa satwa seperti monyet, orang utan seperti gibbon yang tidak berekor (helobates sindactilus) dan monyet berekor panjang.


AGAMA DAN PENDUDUK

Penduduk yang mendiami wilayah Provinsi Aceh keturunan dari bebagai suku bangsa dan etnis. Di samping itu terdapat pula berbagai tipe antara lain seperti Arab, Cina, Eropa, India. Sedangkan penduduk asli suku Aceh diperkirakan keturunan Melayu tua yang berasal dari Champa, kocincina dan Kamboja. Karena kedatangan Melayu muda dengan tingkat kebudayaan yang dapat dikatakan sudah tinggi pada waktu itu menyebabkan penduduk asli menyingkir pindah ke pedalaman. Orang-orang ini sekarang dikenal sebagai orang Gayo Aceh Tengah, dan alas di Aceh Tenggara. Dari beberapa pertunjuk kegiatan Pelayaran di lautan memperlihatkan bahwa orang Aceh telah lama melakukan kontak internasional dengan dunia luar terutama sekali dengan Raja Cina yang berlangsung lama. Beberapa hadiah dari Raja masih ditemui di Aceh sekarang. Penduduk Aceh asli seluruhnya menganut agama Islam. Pemeluk agama lain seperti, Protestan, Katolik, Budha, Hindu, dan lain-lain hanya pendatang dari daerah lain atau Cina turunan dan orang asing. Secara keseluruhan jumlah yang menganut agama lain tidak lebih dari 4% dari jumlah penduduk. Sebagai pemeluk agama Islam masyarakat Aceh menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari bahkan adat istiadat pun banyak bersumber dari Islam. Oleh sebab itu Aceh dikenal dengan julukan “Serambi Mekkah” Pemberian nama ini berkaitan dengan masuknya Agama Islam pertama ke Indonesia dari Mekah melalui Aceh. Kerajaan Islam pertama di nusantara terdapat di Aceh dan umat islam dari daerah-daerah lain yang ingin menunaikan ibadah haji ke Mekah melalui Aceh. Aceh menjadi tempat singgahan/transit waktu pergi dan pulang menunaikan ibadah haji. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Aceh biasanya berbicara bahasa Aceh dan Indonesia meskipun di Ibu Kota, selain bahasa Aceh dan Indonesia ada beberapa dialek yang berbeda dalam penggunaan bahasa, di wilayah barat dan selatan dialek seperti Minang sedangkan di kuala simpang di daerah Melayu. Di Aceh Tengah berbahasa Gayo sementara di Aceh Tenggara orang berdialek Alas. Di beberapa tempat lain ditemui bahasa/dialek setempat.


SEJARAH

Menurut sejarah nenek moyang orang Aceh berasal dari Vietnam Selatan, Koching China dan Combodia. Kemudian datang Melayu muda membawa budaya baru. Orang Aceh dahulu bertolak ke gunung dan sekarang menjadi dua kelompok yaitu Gayo dan Alas. Aceh terletak pada posisi strategis di Barat laut ujung Sumatra antara Timur dan Barat Aceh merupakan daerah transit rempah-rempah dari Maluku champor dari Barus dan Lada, Aceh juga menjadi pintu masuk Agama Islam dari pedagang Arab, Persia, Turki dan India. Walaupun Jawa sudah mengenal dunia Islam, Aceh daerah pertama sekali masuknya Islam ke Indonesia, pada akhir abad ke 13, kerajaan Islam tumbuh di Pasai, bukan hanya menjadi pusat perdagangan tetapi juga menjadi pusat pendidikan Agama. Portugis pertama datang tahun 1509 ke kerajaan Pasai dan Pedir (Pidie), kemudian mereka menaklukan Malaka pada masa itu tercatat masa berjaya antara Aceh, Johor dan Portugis menguasai sektor perdagangan di Selat Malaka, Meskipun akhirnya Aceh menang bertarung. Mereka tidak pernah ingin menguasai sepenuhnya Selat Malaka. Orang Aceh sering dihalangi oleh pertikaian internal dengan sebaris peraturan yang tidak bertahan begitu lama.

Tahun 1607 smapai dengan 1636 Sultan Iskandar Muda menjadikan Aceh sebagai daerah kekuatan militer utama yang kuat, laut dikontrol oleh perahu yang membawa 600-800 orang, kekuatan di darat mempunyai pasukan berkuda, kelompok pasukan gajah, artileri besar dan wajib militer. Tahun 1612 Iskandar Muda menguasai Deli dan Aru dan tahun 1613 dikalahkan oleh Johor, dan Johor akhirnya merdeka dari pasukan Aceh tahun berikutnya ia mengalahkan Portugis lari ke Bintan, ia menguasai Pahang dan Kedah di Malaysia, merebut ibu kota Johor lagi dan menguasai Nias pada Tahun 1624/24. Tahun 1629 Sultan Iskandar Muda mengirim sebuah ekspedisi dengan beberapa ratus Kapal melawan Malaka. Tapi mengalami kegagalan, hancur, menurut laporan Protugis 19.000 orang hilang . Dimasa Sultan Iskandar Muda dianggap masa berjayanya Aceh (The golden age of Aceh) setelah pemerintahannya orang Aceh banyak yang jatuh dan Johor menang. Portugis diusir dari Malaka oleh Johor dan VOC Belanda. Aceh memasuki masa politik internal dimana hak raja sangat berkurang.

Di masa Iskandar Muda Aceh menjadi daerah sangat penting bagi Indonesia dalam literature Melayu khususnya, literature Islam empat tokoh penting adalah Hamzah Fashuri, Syamsuddin Pase (1630), Abdurrauf Singkil (1617-90) dan India Nuruddin Ar-Raniry (1958) setelah turun kekuatan Aceh, literature orang Aceh hilanbg perannya. Antara tahun 1641 dan tahun 1699 masa pemerintahan kerjaan Islam di bawah pimpinan ratu Aceh. Dari tahun 1699 sampai dengan 1838 terbagi 11 kerajaan kecil yang dipimpin oleh aristokrat yaitu 3 Arab, 2 Melayu, 7 Bugis. Istana hanya mengontrol kota. Luar area dikontrol oleh kaum aristokrat yang agamawan sebagai pembatasan terhadap kekuasaan raja.

Tanggal 21 Juni 1599, Kapal Belanda di bawah komando Cornelis de Houteman dan saudaranya Frederik mendarat di Aceh. Kapal diserang karena provokasi Portugis dan Cornelis de Houteman terbunuh dan abangnya dipenjara. Tahun 1602 Gerard de Roy tiba dari Netherlands sebagai seorang wakil dari Pangeran Belanda Maurits yang tujuannya untuk membangun hubungan yang lebih baik antara 2 kerjaan dan diterima dengan baik. Aceh mengirim 2 wakil ke Belanda. Diawal Juni tahun 1602 saudagar Inggris dikirim oleh Ratu Elizabeth untuk merealisasikan hubungan kerja sama kontrak ditandatangani.

Tahun 1820 Aceh mulai bangkit kembali di sector perdagangan dan politik yang kuat. Tahun 1820 Aceh sebagai pemasok lada lebih dari separuh lada dunia, Amerika, Perancis, Inggris bersaing untuk bertempur, dan Kapal meriam selalu aktif dalam peristiwa hebat. Pemimpin baru Aceh muncul tuanku Ibrahim untuk memulihkan kembali kekuatan Sultan. Beliau mewakili beberapa sultan dan dari tahun 1838 sampai beliau meninggal tahun 1857. Beliau digelar dengan nama Sultan Ali Alauddin Masyursyah. Tahun 1854 Beliau memperluas pemerintahannya sampai ke Langkat, Deli dan Serdang. Selama pemerintahannya Belanda menyingkir ke utara dan bentrok dengan Belanda tak dapat dielakkan. Belanda takut Aceh menjadi lebih kuat atau akan menganggu kekuatan Eropa. Inggris dan Belanda telah menandatangani perjanjian bahwa tidak akan mengintervensi, tapi Belanda berkembang terus pada kekuatan yang lainnya. Napoleon Bonaparte telah menerima permintaan perlindungan dari Aceh. Inggris lebih suka Belanda menguasai Aceh daripada Perancis atau Amerika. Dengan perjuangan yang gigih, Belanda dan Inggris masuk dalam sejarah colonial terbesar.

Belanda mempunyai peluang emas di Afrika dan Inggris mengizinkan pengiriman kontrak kerja Indonesia ke Suriname dan memberikan kebebasan Belanda di Sumatra dan menyamakan hak dagang Siak Utara. Berarti perang Inggris di Afrika dan Belanda di Aceh. Tahun 1873 Belanda mengadakan pertemuan di Singapura dimana Aceh dan Amerika mendiskusikan perjanjian. Sebagai alasan untuk intervensi, bulan Maret mereka membom Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dan mendaratkan 3000 orang. Belanda telah salah mengira terhadap Aceh, Aceh bertahan dan menjatuhkan lawan, mereka kehilangan 80 orang termasuk jenderalnya. Kemudian Belanda mulai melakukan blokade. Aceh merekrut tentara diperkirakan 10.000 hingga 100.000 orang. Ini merupakan kekuatan terbaik yang ampuh untuk menghadapi perluasan colonial. Sultan Aceh Mahmudsyah meminta perlindungan inggris, Amerika, Turki dan Prancis. Inggris menolak dan Amerika juga. Turki menjadi lemah dan Prancis tidak merespon, akhirnya tahun 1873 Belanda menyerang dengan kekuatan lebih besar di Indonesia, sekitar 10.000 prajurit jatuh dan banyak korban nyawa akibat kolera Banda Aceh jatuh Belanda menguasainya. Awal tahun 1874 kemenangan lebih cepat dari perkiraan. Aceh tidak pernah menyerah dan Belanda semakin mengepung Banda Aceh hingga terjadi perang, Belanda berhasil membombardir dan membakar kampung, tapi aceh hanya mundur ke gunung tanpa menyerah. Tahun 1881 Belanda mengumumkan perang telah usai, ini dilihat dari kenyataan dan pengamatan Belanda hingga Belanda menarik pasukannya untuk meninggalkan Aceh. Aceh mulai bergerilnya dipimpin oleh pemimpin agama dan bertahan menjadi perang suci melawan kafir.

Pemimpin yang paling terkenal adalah Teungku Chik Di Tiro (1836-91). Satu hal yang menentukan yaitu ketika seorang misionaris Dr. Christian Snouck Hurgronje menjadi penasihat Belanda. Gubernur Belanda yang baru di Aceh Van Heutsz membuat kebijakan baru untuk menghancurkan pemimpin agama, setiap ada korban ia mencoba untuk mendinginkan pemimpin tradisional atau pemimpin sekuler. Tahun 1903 Sultan Tuanku Daud Syah akhirnya menyerah, tetapi masih melawan Belanda dan mempimpin suatu serangan di Banda Aceh Tahun 1906 dan mengalami kekalahan, akhirnya dia diasingkan. Pemimpin militer juga menyerah tahun 1907 dan dia menjadi official di bawah Belanda. Beberapa pemimpin agama terbunuh tahun 1910-1912, bagi orang Aceh perang tak pernah berakhir, selama kedudukan Jepang banyak pemimpin sekuler di penjara atau dibunuh. Setelah perang dunia ke II ketika Belanda mencoba untuk menaklukkan kembali Indonesia. Aceh dihindari secara hati-hati kecuali Sabang. Pemimpin agama melihat Jepang datang mengira satu kesempatan utnuk mengusir Belanda. Tapi sangat mengecewakan, terayata perlawanan terus berlanjut dengan serangan gerilya. Dengan segera, setelah perang, Aceh menyerang Jepang yang telah dievakuasi oleh sekutu. Perang sipil antara pemimpin agama pro republic dan pemimpin sekuler pecah. Pemimpin agama menang dan Aceh menjadi daerah yang paling stabil di Indonesia dan kerajaan dihentikan. Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Aceh mendukung perjuang melawan Belanda dengan menyediakan pesawat udara yang dibeli dengan sumbangan emas dari rakyat Aceh. Pesawat ini menjadi pesawat pertama Garuda Indonesia Airline dan sekarang menjadi monument di Taman Mini Jakarta dan replikanya di Banda Aceh.


BUDAYA

Provinsi Aceh memiliki budaya yang relatif tinggi. Kebudayaan ini pada dasarnya diwarnai ajaran Agama Islam, namun demikian pengaruh Agama Hindu yang telah berurat berakar sebelum masuknya Islam masih tetap berpengaruh. Hal ini terlihat baik dalam adat istiadat, kesenian maupun kehidupan sehari-hari. Kesenian tradisional Aceh mempunyai identitas yang religius, komunal, demokratik dan heroik. Kesusastraan Aceh ada dalam bahasa Aceh dan Melayu (jawi) sementara bahasa Arab baik kata maupun ibaratnya banyak sekali mempengaruhi Kesusastraaan Aceh. Pakaian sehari-hari di Aceh sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Kalalu wanita diwajibkan menutup aurat: dibawah kaki hingga tumit, lengan badan dan rambut. Di zaman dahulu, kaum wanita biasanya memakai celana panjang, akan tetapi oleh karena pergantian masa keadaan ini telah berubah. Dewasa ini, orang Aceh lebih suka memakai kain sarung dan blus batik, namun masih dalam keadaan tertutup aurat. Pakaian-pakaian ala barat umumnya dipakai oleh para muda mudi, khususnya, anak-anaknya sekolah, mahasiswa dan orang-orang kantor. Bahkan hampir semua pakaian dalam batas kesopanan dan pakaian setengah telanjang tidak pernah terlihat meskipun di tepi pantai. Wisatawan jelas akan menjaga norma-norma di daerah ini. Pada saat bulan Ramadhan dan hari Jum’at akan nampak tanda-tanda Keislaman yang kuat. Selama bulan Ramadhan semua orang dewasa diharuskan berpuasa, tetapi tanpa menghambat aktivitas sehari-hari. Dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari, masyarakat menahan diri dari makan, minum dan merokok. Bagi non muslim yang ingin mencari makanan biasanya dapat dijumpai tempat-tempat tertentu yang diizinkan menjualnya, tanpa menganggu orang-orang yang berpuasa. Namun, restoran-restoran biasanya ditutup pada siang hari selama bulan puasa. Pada hari Jum’at, kaum pria maupun anak-anak pergi ke mesjid guna melaksanakan shalat karena hari tersebut merupakan hari paling mulia. Kantor-kantor dan pertokoan ditutup selama shalat Jum’at dilaksanakan.

Tata krama kehidupan masyrakat merupakan hal yang sangat penting, orang asing atau orang pendatang masuk ke suatu kampong, misalnya harus mematuhi peraturan tersebut paling tidak kepala kampong tahu atas kehadiran mereka. Lebih baik lagi, dia dapat memperkenalkan dirinya dan saling berkenalan dengan yang lain. Apabila dua orang bertemu, mereka saling menyapa dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum, dengan jawaban “Walaikum Salam”. Orang pertama memberikan salam kepada yang lain biasanya berjabat tangan. Salam yang sama saling mengucapkan antara orang pidato dengan pendengar di forum-forum formal. Memberi atau menerima sesuatu dari orang lain selalu dilakukan dengan tangan kanan.


PAKAIAN TRADISIONAL

Provinsi Aceh terdiri atas 23 kabupaten/kota, hampir setiap daerah mempunyai pakaian yang berbeda. Tapi pakaian standar untuk laki-laki celana panjang hitam, baju itam tangan panjang dengan satu kancing dileher, kain songket dililit dipinggang dan satu rencong diselipkan dibalik songket bagian depan. Di kepala kupiah meukeutop, dipuncak kopiah terdapat ornament emas berbentuk bintang. Wanita Aceh menggunakan blus kuning atau merah dengan border benang mas didepan (dada) dan diujung lengan, bawahnya memakai celana hitam yang dibordir benang mas dan menggunakan sarung songket di atasnya ditambah tali pinggang yang terbuat dari emas atau perak. Kepala dihiasi dengan kembang goyang dari emas, kalung berurai dari leher sampai pinggang. Tangan memakai beberapa gelang dan jari tangan penuh dengan cincin emas.

MAKANAN DAN MINUMAN

Makanan Aceh hampir sama dengan makanan Indonesia lainnya, beragam dan agak pedas. Makanan lain seperti masakan Padang, Cina, Eropa dan masakan Indonesia lainnya, mudah dijumpai di kota. Bermacam outlet dari restoran hotel besar sampai ke jalan-jalan kecil hampir tidak ada jalan tanpa warung nasi, mie, martabak, sayuran dan makanan kue-kue tradisional. Dasarnya orang Aceh makan nasi yang dimasak, dikukus, nasi goring dengna sayur, ikan, daging, ayam, sambal cabe, emping, pecal, gado-gado yang biasanya pedas atau sesuai dengan permintaan, tidak lupa pula “Rujak Aceh” yang segar. Di restoran-restoran besar sering dijumpai udang, kepiting, daging kambing dan banyak lainnya dimasak dengan resep tradisional Aceh. Biasanya untuk mengempukkan daging, digunakan Ganja sebagai bumbu masak, bukan untuk (memabukkan).


RUMAH ACEH

Kampung Aceh terletak di daerah sedikit ke pedalaman dikelilingi oleh pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan agar terasa sejuk. Rumah dibangun secara tradisional dengan menggunakan pasak kayu pengganti paku yang dimasukkan dalam lubang penjepit agar kuat. Rumah dibangun di atas 16,20 atau 24 tiang yang kokoh setinggi 6-8 kaki di atas tanah untuk untuk sirkulasi udara dan orang-orang dapat bergerak dengan nyaman. Tiang rumah terbuat dari kayu keras berwarna coklat tua (merbau) khususnya di tanam agar mendapatkan seperti yang diinginkan. Semua sisi yang digunakan panjangnya berukuran 12 kaki. Dinding dibuat dari kayu meranti atau bambu, lantai bertingkat, bagian tengah lebih tinggi 30 cm dari sisi lainnya. Atap terbuat dari daun rumbia.

Tangga dan pintu dibuka melalui lantai di ruang tamu, ruang pertama sepanjang rumah dinamakan “seuramo keu” artinya sermabi depan, digunakan untuk tamu perempuan atau hari-hari besar agama, untuk pertemuan dan diskusi. Di tengah-tengah di sisi yang lebih tinggi biasanya digunakan oleh laki-laki dan dibelakangnya “seuramo likot” serambi belakang yaitu tingkat yang paling rendah adalah dapur. Rumoh inong (ruang tidur perempuan) atau rumah inti Aceh dimana ruang untuk wanita benar-benar diutamakan, ruangan ini tempat untuk melahirkan, untuk menempatkan orang meninggal dan duka cita. “Serambi belakang” atau ruang umum di mana wanita membesarkan anak-anak, menjahit, menganyam tikar dan mengobrol sambil mengupas pisang.

Rumah tradisional selalu dibangun menghadap Mekah atau kiblat, konstruksi dimulai dengan peusijuk dan meletakkan empat potongan kain berwarna merah dan putih di ujung tiang sudut, keempat potongan kain ini melambangkan 2 perempuan dan dua laki-laki sesuai dengan orang yang menempati rumah tersebut. Kain berwarna merah berarti berani danputih berarti suci. Pemasangannya ditaburi dengan beras, air sambil mem baca do’a. Setelah selamatan ini baru konstruksinya dibangun.

Biasanya rumah ini kaya dengan ornament, pada atap dan dinding, bagian atap dan dinding yang berbentuk segi tiga dinamakan tulak angen. Dekorasi lainnya terdapat pada jendela, bingkai jendela, tiang dalam terdiri dari papan dan tiang bagian luar, motif yang digunakan berbentuk simetris, spiral, tumbuh-tumbuhan, kali-kali, petak-petak, segi tiga seperti permata di tengah motif digunakan bulan sabit dan bintang atau bintang saja.


KERAJINAN TANGAN

Di Aceh, terdapat kerajinan tangan yang khas, kerajinan tangan yang utama adalah sulaman benang emas, tenunan sutra, rencong dan kerajinan kayu. Kerajinan tangan di daratan tinggi (Gayo dan Alas) terkenal dengan beraneka motif warna bordiran. Jenis tembikar pun terdapat di daerah ini tetapi keduanya beda bentuk model dan penggunaannya, walaupun tempat produksinya di pedesaan tetapi bisa diperoleh atau dijual di kota.


1. Sulaman Benang Mas

2. Tenunan Sutra

3. Anyaman


SENJATA ORANG ACEH

1. Rencong

2. Siwah

3. Peudeung

ALAT-ALAT MUSIK

Alat musik Aceh yang terkenal adalah Surune Kalee, yaitu alat tiup tunggal dari kayu dengan satu lubang dibelakang dan tujuh didepan. Ada berbagai jenis seruling-seruling (alat tiup) dari bambu, seperti “buloh perindu”, bansi dan suling. Gong dibuat dari kuningan atau dari kulit kambing yang dikeringkan dan dibunyikan dengan alat pemukul dari kayu. Ada tiga jenis ukuran gong dan disebut susuai dengan ukurannya, yaitu “gong”, “canang”, dan “mong-mong”. “Rapa-ii” adalah tamborin yang dibuat dari kulit kambing. Contohnya, Rapa-ii pasai, yang telah diperkenalkan oleh kerajaan Samudra Pasai sebagai alat untuk memanggil rakyatnya agar berkumpul. Tak-tok dibuat dari bambu dan sangat mirip dengan “angklung” Jawa. Para pemain alat-alat tradisional biasanya pria, sementara yang wanita bernyanyi dan bermain tamborin. Sebuah band tradisional terdiri dari seorang pemimpin, empat atau lima orang pemain dan satu atau dua orang anak laki-laki sopranos.


TARI-TARIAN

Tarian biasanya dipersembahkan sebagai hiburan untuk sultan-sultan dan tamu mereka setelah bekerja keras diladang. Dewasa ini tari-tarian paling banyak dipertunjukkan khusus pada acara-acara pemerintahan, tetapi banyak pula kelompok-kelompok tarian tradisional sebagai warisan tradisi. Setiap daerah mempunyai versi masing-masing dari setiap tarian memiliki ciri khas daerah. Pakaian yang dipakai adalah celana dan baju lengan panjang serta sarung yang dililit di pinggang dan warnanya sering berkilat-kilat. Wanita biasanya memakai penutup kepala, tetapi perhiasan yang dipakai tergantung pada jenis tarian yang dilukiskan Tarian Aceh umumnya memiliki karakteristik tertentu. Nilai-nilai islami sering disebarkan melalui trarian. Taritarian tersebut berhubungan dengan aktivitas sosial sehari-hari. Semua tarian Aceh ditampilkan oleh satu kelompok dan dinamis dengan hentakan kaki, tepukan dada, pinggul dan bahu. Mula-mula dengan irama lambat, sedikit demi sedikit meningkat sesuai dengan tariannya. Lagu-lagu dan puisipuisi selalu dinyanyikan oleh penari-penari itu sendiri. Berberapa tarian yang terkenal adalah:

1. Ranub Lam Puan

2. Pemeulia Jamee

3. Seudati

4. Rapai Geleng

5. Tarek Pukat

6. Saman

7. Meuseukat

8. Marhaban

9. Pho

10. Lansir Madam

11. Perang Sabil

12. Bines

13. Didong

14. Ula-ula Lembing

15. Alee Tunjang

16. Daboih

SIKAP

Orang Aceh sudah terbiasa dengan orang-orang asing dan mereka menyambut baik kedatangan orang asing. Agama dan tradisi mereka sangat kuat dan selalu menghargai serta menghormati gaya hidup para pendatang. Sedikit sikap yang aneh dilakukan oleh orang asing dapat mempengaruhi perjalanmu. Ada beberapa tips bagaimana bersikap dan membaur dengan masyarakat lokal yang bagi orang barat mungkin berbeda kultur. Hal seperti ini juga sama di daerah-daerah lain di Indonesia.

KOMUNIKASI NON VERBAL

Penempatan tangan di pinggang, mungkin biasa saja, tapi sebuah tanda dari kemarahan atau kesombongan. Telunjuk di pakai untuk menunjuk sesuatu dan tangan kanan dengan telapak tangan terbuka dipakai sebagai isyarat kepada seseorang. Telapak kaki dan sepatu mungkin kotor, tidak sopan jika disilangkan dan menghadap ke arah orang lain. Jangan menunjuk sesuatu dengan kaki karena sangat tidak sopan. Jangan melempar sesuatu kepada orang lain, lebih baik memberikan langsung dengan tangan, meskipun kamu harus berpindah tempat sebentar. Normalnya, pria bercengkerama dengan pria dan wanita bercengkerama dengan wanita. Berhubungan mesra tidak dilakukan di depan umum.


PEREKONOMIAN

Aceh memiliki lahan yang baik untuk mengembangkan program perekonomian. Lebih dari 80% populasi di Provinsi Aceh adalah bidang pertanian. 4,22% dari lahan pertanian, 2,25% untuk perkebunan, 3,30% padang rumput. Danau dan sungai-sungai 6,58% wilayah perkotaan, dan pedesaan sebesar 0,99% dan selebihnya 74,56% adalah hutan. Produksi pertanian yang utama adalah padi dengan tingkat produksi sekitar 1.100.000 ton pertahun.

Produk penting lainnya yang dihasilkan adalah kacang hijau jumlah produksi 18.825 ton pertahun, buncis 5.841 ton pertahun, kedelai 118.157 ton pertahun, jagung 22.240 ton pertahun, ubi 111.577 ton pertahun, kentang 25.215 ton pertahun, coklat 118 ton pertahun, cengkeh 6.219 ton pertahun, pala 2.809 ton pertahun, lada 33 ton pertahun, pinang 6.670 ton pertahun.

Aceh memiliki garis pantai dan industri perikanan yang tidak kalah pentingnya. Komoditas utama dari pertanian yang diekspor adalah karet, kopi, sagu, dan kayu. Sumber-sumber alam lain adalah minyak dan gas, semen, gips, batu bara, timah, seng, emas dan tembaga. Tambang gas dan minyak yang dimiliki Aceh berpengaruh bagi seluruh perekonomian Indonesia.

TRANSPORTASI

Transportasi Darat

Tranportasi di seluruh Provinsi Aceh relatif sudah berjalan lancar sampai ke berbagai pelosok daerah apabila dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, kecuali ke beberapa wilayah yang masih terisolir seperti Lokop, Blang Kejeren, Singkil dan lain-lain yang kondisinya masih kurang baik. Dewasa ini jalan ke wilayah tersebut masih dalam tahap pembangunan.

Sejak tahun 1990 panjang ruas jalan seluruhnya di Propinsi Aceh mencapai 10.832,53 Km terdiri dari jalan 973,6 Km, jalan Provinsi 1.580,90 Km, jalan Kapupaten/Kotamadiya 8.278,03 Km. Keadaan jalan/jembatan negara yang menghubungkan Banda Aceh sampai dengan batas provinsi Sumatera Utara yang menyelusuri bagian pantai Utara dan Timur Aceh sepanjang 584,3 Km kondisinya seluruhnya dalam keadaan mantap.

Demikian juga dengan jalan/jembatan negara yang menyelusuri bagian pantai barat dan selatan Aceh sebagian dalam keadaan mantap dan seluruh rakit penyeberangan telah diganti dengan jembatan.


Transportasi Laut

Provinsi Aceh mempunyai 11 buah pelabuhan laut, masing-masing 5 buah di bagian pantai barat selatan dan 6 buah dibagian pantai utara-timur Aceh uang kondisi fasilitasnya relatif memadai. Di samping itu dapat pelabuhan khusus naik PT. SAI di Lhoknga untuk pengangkutan semen, milik PT. AAF di Krueng Geukueh untuk pengangkutan pupuk, milik Mobil Oil untuk pengangkutan alat-alat berat milik PT. Arun untuk pengangkutan LPG dan beberapa pelabuhan khusus lainnya milik HPH untuk pengangkutan kayu. Sebagian besar pelabuhan di Provinsi Aceh berfungsi sebagi bongkar muat barang dari kapal-kapal yang pelayarannya tidak regular. Bebrapa waktu yang lalu hubungan reguler ke daerah ini dilaksanakan oleh :

1. Pelayaran Nusantara, menghubungi pelabuhan Malahayati Krueng Raya-Lhokseumawe-Belawan-Tanjung Periuk-Pontianak.

2. Pelayaran Perintis, menghubungi pelabuhan Meulaboh Tapaktuan-Sibolga-Teluk Bayur-Tanjung Priok.

3. Pelayaran Fery, menghubungi Pelabuhan UleeLheue-Sabang dan Labuhan Haji, Aceh Barat Daya-Sinabang.

Dewasa ini yang aktif hanya pelayaran Ferry yang secara reguler melayani jalur pelabuhan Ulee Lheue Sabang dan Labuhan Haji, Aceh Barat Daya Sinabang (Simeulue)

Transportasi Udara

Transportasi udara di Provinsi Aceh sudah cukup baik. Saat ini di Aceh terdapat 6 buah Bandar udara dan yang terbesar adalah Bandar udara Sultan Iskandar Aceh terletak 16 Km dari Kota Banda Aceh. Penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Iskandar Muda dilayani Garuda, Lion Air, dan Sri Wijaya Air dengan rute penerbangan Sultan Iskandar muda, Polonia dan Sukarno Hatta serta Air Asia, Fire Fly dan Lion Air dengan rute penerbangan ke Malaysia



KUNJUNGAN

Apabila mengunjungi rumah orang Aceh, jangan lupa membuka sepatu. Orang Aceh selalu menghidangkan minuman untuk tamu, minuman yang sering dihidangkan adalah kopi dan teh. Sangatlah sopan untuk menunggu sampai dibilang “silahkan” oleh tuan rumah. Para tamu biasanya ditanyakan, “apakah mereka sudah makan” jawaban yang sopan adalah ya (sudah). Namun, jika makanan secara langsung disediakan, sangat tidak sopan jika kita menolaknya. Ketika hendak pulang ucapkan “terima kasih” kepada istri tuan rumah karena ia telah menghabiskan seluruh waktunya di dapur. Jangan mengunjungi rumah orang Aceh pada waktuwaktu sholat. Jika ada seorang wanita yang belum menikah di rumah tersebut, diharapkan tidak datang ke rumah tersebut. Ketika memberi dan menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan, namun boleh diambil dengan tangan kiri jika tangan kanan bermasalah. Gunakan hanya tangan kanan untuk makan. Ketiak makan dengan tangan, cucilah tangan dalam mangkuk air khusus yang dipakai untuk mencuci tangan. Setelah makan, tunggu sampai semua orang selesai makan sebelum kamu mencuci tanganmu. Jika kamu memakai sendok dan garpu, taruhlah sendok dan garpu kembali dalam keadaan telungkup sebagi tanda kamu sedah merasa kenyang. Tinggalkan sedikit air di dalam gelas sebagai tanda bahwa kamu tidak mau menambahnya.


DI PANTAI

Orang Aceh sangat sopan dan santun, terbuka aurat tidaklah sesuai dengan ajaran agama. Pakaian renang orang barat dianggap tidak pantas. Jika ke perkampungan dan sekitarnya haruslah sopan. Pakailah celana pendek ketika berenang. Wanita juga lebih baik memakai baju kaos. Kamu boleh bertanya kepada masyarakat jika kamu memerlukan sesuatu.


DI JALAN

Di Aceh, Anda akan diperlakukan sesuai dengan cara berpakaian. Khususnya di pedesaan dianjutkan tidak memakai celana pendek dan kaos yang minim. Wanita lebih baik tidak memakai celana pendek dan baju tanpa lengan.


Sumber : http://acehprov.go.id


Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Tokoh

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox