Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Al Buthi
Albuthi.png
Lahir : 1929 M
Wafat : 2013 M

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya


Beliau adalah ulama besar yang menjadi pembela ajaran ahlussunnah wal jamaah yang membela kebebasan dalam mengikuti madzab Imam yang empat, lahir di Irak dan wafat secara syahid di Suriah. Sebagai ulama besar beliau dikagumi oleh banyak ulama besar lainnya secara internasional dan telah menghasilkan banyak karya kitab yang juga banyak tersebar di Indonesia.


Contents

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

Sa’id Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup dalam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.



Islam Menolak Teroris

Wafat

Beliau telah syahid di malam yang mulia yakni pada malam Jum’at, di waktu yang mulia yakni waktu antara Maghrib dan ‘Isya, di tempat yang mulia di dalam Masjid atauMajelis Ta’lim, dan dalam keadaan melakukan hal yang sangat mulia yakni di saat mengajarkan ilmu-ilmu Allah SWT, mengajarkan ta’lim ahlussunnah wal jama’ah. Beliau Fadhilatusy Syeikh Al Buthi gugur syahid di Masjid Al Iman Damaskus Suriah pada 05 Jumadil Awwal 1434 H/ 21 Maret 2013.

Kata Al-Habib Ali-Al-Jufri "Aku telah menelefonnya dua minggu lepas dan beliau (Dr Ramadhan Al-Buti) berkata pada akhir kalamnya:"Tidak tinggal lagi umur bagi aku melainkan beberapa hari yang boleh dikira. Sesungguhnya aku sedang mencium bau syurga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku"


Nasab

Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya. Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berperang dalam Perang Dunia Pertama. Kemudian menceritakan pernikahan ayahnya, berangkat haji, hingga alasan berhijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu.

Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang diterapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya kepada orang-orang shalih yang masih hidup maupun yang telah wafat, hubungan baik ayahnya dengan para ulama Damaskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Ghalayayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.


Pendidikan

Pendidikan Awal

Pendidikan sang ayah sangat membekas dalam sisi kehidupan intelektualnya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bukan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang penuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.

Setelah menamatkan pendidikan Ibtidaiyah, ayahnya mendaftarkan sang anak di Ma’had at-Taujih al-Islamy di daerah Meidan, Damaskus di bawah pengawasan seorang mahaguru al-‘Allamah Syekh Hasan Habannakeh –rahimahullah. Syekh Hasan mengetahui pada diri Sa’id terdapat kecerdasan yang menonjol, karena itulah ia amat memperhatikannya dan menjadikannya fokus pengawasan, hingga Sa’id dapat menamatkan pendidikan Ma’had-nya dan menggondol Ijazah Tsanawiyah Syar’iyyah.


Pendidikan di Mesir

Sa’id Ramadhan Al-Buthi muda menyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damaskus. Kemudian pada tahun 1953 ia meninggalkan Damaskus untuk menuju Mesir demi melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syari’ah. Pada tahun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cukup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.

Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah peradaban dunia, ada orang-orang yang memang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah salah satunya yang menguasai bahasa ibunya tersebut. Di samping itu, kecenderungan kepada bahasa dan budaya membuatnya senang untuk menekuni bahasa selain bahasa Arab, seperti bahasa Turki, Kurdi, bahkan bahasa Inggris.


Guru Beliau

  • Syaikh Mula Ramadhan (Ayah)
  • Al-‘Allamah Syekh Hasan Habannakeh



Beliau Memberikan Ijazah

Penerus Beliau

Murid Beliau


Jasa dan Karya Beliau

Mengajar di Damaskus

Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960, hingga berturut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wakil dekan, hingga menjadi dekan di fakultas tersebut pada tahun 1960.

Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah itu.

Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syari’ah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syari’ah.

Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konferensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga penelitian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Penasihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.



Beliau Menyampaikan perihal Wali Allah

Penulis yang Sangat Produktif

Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Be¬berapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain:

  • Muhadhorot Fil Fiqhil Muqharin Ma'a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha' Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha', Dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin) محاضرات في الفقه المقارن مع مقدمه في بيان

اسباب اختلاف الفقهاء و اهميه دراسه الفقه المقارن

  • Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?) محاضرات في الفقه المقارن مع مقدمه في بيان اسباب اختلاف الفقهاء و اهميه دراسه الفقه المقارن
  • Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya? الاسلام ملاذ كل المجتمعات الانسانيه:لماذا..و كيف .
  • Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami السلفيه:مرحله زمنيه مباركه لا مذهب اسلامي
  • Al 'Uqhubat Islamiyyah; Wa 'Aqduhu al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobi'ihal 'Ashri العقوبات الاسلاميه:و عقده التناقض بينها و بين ما يسمي بطبيعه العصر
  • Hurriyatul Insan Fi Dhilli 'Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah) حريه الانسان في ظل عبوديته لله
  • Difa' 'An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah) دفاع عن الاسلام و التاريخ 8. Al Islam Wa 'Asru; Tahaddiyat Wa 'Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan) الاسلام و العصر:تحديات و افاق
  • Al-Mar‘ah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Latha‘if at-Tasyri’ ar-Rabbaniyy
  • Al-Islam wa al-‘Ashr
  • Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu’
  • Barnamij Dirasah Qur‘aniyyah
  • Syakhshiyyat Istawqafatni
  • Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-‘Atha‘iyah
  • Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah
  • Hadzihi Musykilatuhum
  • Wa Hadzihi Musykilatuna
  • Kalimat fi Munasabat
  • Musyawarat Ijtima’iyyah min Hishad al-Internet
  • Ma’a an-Nas Musyawarat wa Fatawa
  • Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Qur‘an
  • Hadza Ma Qultuhu Amama Ba’dh ar-Ru‘asa‘ wa al-Muluk
  • Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb
  • La Ya‘tihi al-Bathil
  • Fiqh as-Sirah
  • Al-Hubb fi al-Qur‘an wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan
  • Al-Islam Maladz Kull al-Mujtama’at al-Insaniyyah
  • Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun.
  • Al Aqidah Al Islamiyyah wa Al Fikr al Mu’asirah
  • Al La Madzhabiyyah Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu as Syari’ah Al Islamiyyah
  • Al Mazdhab al Iqtishady Baina Syuyu’iyyah Wal Islam
  • Dhawabitu Al Maslahat Fi As Syariah al Islamiyyah
  • Fi Sabilillahi Wa Al Haq
  • Hiwar Haula Musykilati Hadhariyyah
  • Mbahitsul Kitab Wa As Sunnah min ‘Ilmi Ushulil Fiqhi
  • Mamuzain, Qishatu Hubbub Nabati Fi Al Ardhi wa Aina’u fi As Sama’, Mutarjamah
  • Manhaj Al Hadharah al Insaniyyah Al Jadaliyyah
  • Manhaj Al ‘Audah Ilal Islam
  • Masalatu Tahdidi an Nashli Wiqayatn wa ‘Ilajan
  • Min Al fikri wa Al Qalbi
  • Min Rawaiyl Qur’an
  • Naqdul Auhami Al Maddiyah Al Jadaliyah
  • Tajribatut Tarbiyah Al Islamiyyah Fi Mizan Al Bahts
  • Al insan Wa Adatullahi Fi Al Ardli
  • Al islamu Wa Muskilatus sabab
  • Bathinul Ismi al Khatar Fi Hayatl Muslimin
  • Hakadza Fal Nad’u al Islam
  • Ila Kulli fatatin Tu’minu Billah
  • Man Huwa Sayyidu al Qadri fi Hayatil Insan
  • Minal Mas’ul ‘An Takhallufi Al Muslimin
  • Min Asrari Alk Manhaj Al Islami


Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional dengan tema-tema yang diusungnya. Tulisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sumber-sumber rujukan, terutama dari sumber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang tidak bisa dipahami dengan mudah oleh kalangan bukan pelajar, disebabkan unsur falsafah dan manthiq, yang memang keahliannya. Oleh karena itu, majelis dan halaqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana dituturkan pecinta Al-Buthi, di samping mampu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.


Pembela Madzhab yang Empat

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan jama’ah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai halaqah, ia juga aktif menulis di berbagai media massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh para pembaca. Ia juga mengasuh acara-acara dialog keislaman di beberapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra‘ Channel dan Ar-Risalah Channel.

Dalam hal pemikiran, Al-Buthi dianggap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela konsep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Ghazali, dan lain-lain, dari rongrongan pemikiran dan pengkafiran sebahagian golongan yang menganggap hanya merekalah yang benar dalam hal agama. Berbekal pengetahuannya yang amat mendalam dan diakui berbagai pihak, ia meredam berbagai permasalahan yang timbul dengan fatwa-fatwanya yang bertabur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujaran-ujaran Al-Buthi juga menyejukkan bagi yang benar-benar ingin mema¬hami pemikirannya.

Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syari’ah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim dalam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Qur’an, menguasai ulumul Qur’an dan ulumul hadits de¬ngan cermat. Sewaktu-waktu ia melakukan kritik atas pemikiran filsafat materialisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah, terutama terhadap tudingan kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai golongan Salafiyah dan Wahabiyah.

Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter berbagai tudingan dan klaim-klaim mereka, yakni kitab berjudul Al-Lamadzhabiyyah Akbar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’ah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah wa Laysat Madzhab Islamiyy. Begitu pula hubungannya dengan gerakan-gerakan propaganda keislaman seperti Ikhwanul Muslimin Suriah yang tampak kurang baik, tentunya dengan berbagai perbedaan pandangan, yang menjadikan ketidaksetujuannya itu tampak dalam sebuah karya yang berjudul Al-Jihad fi al-Islam, yang terbit pada tahun 1993.


Tawassuth

Di era 1990-an, Al-Buthi telah menampakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi mengusung pemikiran-pemikirannya yang ta¬wassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.

Sayangnya, kedekatannya dengan penguasa politik Suriah saat itu, Hafizh Al-Asad, menjadi bumbu tak sedap di kalangan pemerhati politik. Namun kedekatannya itu juga menjadi siasat politik Suriah dalam menyokong perjuangan Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) dalam menghadapi aneksasi Israel, sekalipun beberapa pandangannya bertolak belakang dengan gerakan-gerakan semacam itu.

Di usia yang semakin senja, Syaikh Al-Buthi masih tetap menulis, baik lewat website yang diasuhnya maupun beberapa media massa dan elektronik lainnya. Betapa besar harapan umat ini, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, menanti karya-karyanya yang lain terlahir, untuk memenuhi dahaga ilmu yang tak pernah habis-habisnya. Di mata beberapa ulama dan ustadz-ustadz yang pernah menimba ilmu di Suriah, saat ini Al Buthi lebih dikenal sebagai tokoh ulama sufi dibanding tokoh pergerakan. Buku-buku karya Al Buthi banyak beredar di Indonesia dan karyanya banyak menjadi rujukan. Salah satu bukunya berisi kritik terhadap gerakan kelompok Salafy Wahabi berjudul Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami.


Teladan Beliau

Dialog dengan Al Albani dalam Meluruskan Pendapat Al Albani

Di kutip dan di ringkas dari Kitab al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid al-Syari’at al-Islamiyyah.

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Salafi Wahabi dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?” Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam Madzhab dalam Islam ? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.” Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya; “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ah-nya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab al-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam al-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.” Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.


Kemuliaan Akhlak Beliau

Saat itu, Syeikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthiy sudah menjadi Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syiria. Namun, meski demikian dan meski memiliki banyak kesibukan lain ia tetap bersedia untuk mengajar materi al-Quran al-Karim di Universitas al-Ladziqiyyah setiap hari Rabu.

Tepatnya pada malam Kamis, Rektor Universitas al-Ladziqiyyah mengundang para dosen utuk makan malam di rumahnya dalam rangka acara satu tahun berdirinya Universitas al-Ladziqiyyah. Al-Buthiy termasuk salah satu dari undangan tersebut. Ia diundang pada malam itu dan baru bisa pulang ke Damaskus setelah Dzuhur pada hari Kamis.

Dr. Ahmad Bassam (penulis cerita ini) pada saat itu sedang merealisasikan pendirian perpustakaan universitas dan mengundang al-Buthiy sebagai tamu di kantornya. Tiba-tiba sang Rektor berkunjung ke kantor Dr. Ahmad Bassam dan mengundangnya bersama al-Buthiy untuk menghadiri makan malam.

Dr. Ahmad Bassam langsung bersedia untuk hadir, sementara al-Buthiy dengan halus meminta untuk terlebih dahulu meminta izin kepada orang tuanya, Syekh Mulla Ramadhan di Damaskus.

Melihat peristiwa ini, Dr. Ahmad Basam dan Rektor Universitas al-Ladziqiyyah merasa sangat heran. Dalam hati mereka, jika alasan meminta izin adalah hal lain mungkin biasa saja. Namun yang menjadikan tidak biasa, bagaimana seorang dosen yang sudah berumur empat puluhan dan anak-anaknya sudah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, dan ia sendiri menjadi Dekan di fakultas besar dan di universitas besar seperti Universitas Damaskus masih meminta izin kepada orang tuanya hanya untuk menghadiri makan malam dan memperpanjang kunjungannya di al-Ladziqiyyah dari sore hari Kamis sampai ke pagi hari Jum’at?

Bagi Dr. Ahmad Bassam dan Rektor Universitas al-Ladziqiyyah, peristiwa ini merupakan peristiwa yang sangat mengejutkan. Namun meski begitu, kata Dr. Bassam, sang rektor tetap berupaya menghilangkan keterkejutannya dengan segera meminta Dr. Ahmad Bassam membawa al-Buthiy ke kantornya agar menghubungi ayahnya di Damaskus melalui teleponnya. Akan tetapi, ternyata hal mengejutkan tidak berhenti di situ, sebab ketika al-Buthy menelepon ayahnya, nampak sekali betapa besarnya penghormatan al-Buthiy kepada ayahnya.

Di bawah ini pembicaraan al-Buthiy yang didengarkan oleh Dr. Ahmad Basam saat meminta izin kepada ayahnya:

“Assalamu'alaikum Abiy. (Assalamu’alaikum Ayah)”

“........................................”

“As-Sayyid Rais da’aniy ma’a baqiyyah al-asatidzah masaa ghodin fii manzilihi, fahal astathi’u hudhur al-ma’dabah wa a’uudu ilaa Dimasyqa shabaha al-Jum’at? (Bapak Rektor mengundangku makan malam di rumahnya bersama para dosen yang lain, apakah saya diberikan izin menghadirinya dan akan kembali ke Damaskus Jum’at paginya?)”

“........................................”

“Syukran Abiy, Assalamu’alaikum (Terimakasih Ayah, Assalamu’alaikum)”.

Setelah al-Buthy meletakkan telepon, Dr. Ahmad Bassam berkata kepada al-Buthy: “Alhamdulillah, demikianlah urusannya menjadi mudah dan semuanya bisa diam dengan tenang.”

Namun hal mengejutkan terjadi lagi karena al-Buthiy ternyata berkata: “Tidak, demi Allah saya tidak bisa, ayahku tidak mengizinkan.”

Ketika mengomentari cerita ini, Dr. Ahmad Bassam berkata: “Selamanya tidak akan tergambarkan keterkejutan yang nampak di wajahku dan di wajah bapak Rektor saat aku sampaikan kepada beliau pembicaraan al-Buthy melalui telepon. Masuk akalkah ini? Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan , tidak ada permintaan dan tidak ada bahkan meski sekedar kalimat harapan atau upaya agar ayahnya merubah keputusannya. Tidak, tidak dan cukup.

Lihatlah, apa yang akan dikatakan oleh generasi ini ketika mereka mendengarkan cerita ini. Adakah sebagian dari mereka yang akan berupaya meniru meski hanya sekali saja?

Lebih aneh lagi, ketika cerita ini saya sampaikan di hadapan undangan yang hadir di Akademi Oxford saat al-Buthiy hendak menyampaikan ceramah di sana, ia memandang kepadaku dengan pandangan tenang seperti orang yang memandang sambil berharap sambutan-sambutan yang lain segera disampaikan. Sedang kedua matanya seolah-olah berkata kepadaku: “Ia dan apa dalam hal ini, di mana sisi aneh dalam cerita itu?”.

Kini guru besar itu telah pergi menghadap Tuhannya. Beliau pergi setelah terjadi ledakan bom di Masjid Jami’ al-Iman Damaskus, saat beliau sedang mengajar tafsir al-Quran pada malam Jum’at tanggal 21 Maret 2013 M/8 Jumadil Awal 1434 H. Beliu dimakamkan bersebelahan dengan makam Raja Sholahuddin al-Ayyubi di bawah benteng Damaskus.

Beberapa hari sebelum pergi, beliau sempat berpesan kepada salah satu sahabat dan muridnya, al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufriy, agar ia tidak lupa untuk selalu mendoakannya. Beliau berkata: “Tidak tinggal lagi dari umurku kecuali umur yang bisa dihitung. Sesungguhnya aku sedang mencium aroma surga dari belakangnya. Janganlah kamu lupa untuk mendoakan saudaramu.”


Foto-Foto Beliau

Keterangan Foto (dari Kiri): Al-Habib Ali Al-Jufriy, KH. Saifudin Amsir, Habib Sa’ad Alaydrus dan Syekh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthiy


Sumber:

  • Nusantara Center of Islamic Study
  • zulfanioey.blogspot.com
  • Sya’roni As-Samfuriy
Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox